Ultah ibu

28 4 1
                                        

Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Di foto album wajahnya sungguh cantik, mirip sekali sepertiku. Ya, aku tidak pernah bertatap muka dengannya, sama sekali tidak. Karena ia menghirup udara untuk terakhir kalinya saat melahirkanku.

Aku tidak tahu alasannya mengapa hidup harus dibayar dengan nyawa seseorang yang sungguh sangat ku sayangi.

Meskipun aku tidak tahu bagaimana kasih sayang seorang ibu kepada anak, dengan pergi meninggalkan raga demi anak pun sudah menjadi bukti yang kuat.

Di bawah langit yang mendung, ku alurkan beberapa jenis bunga yang ku petik di depan rumah tadi di atas balutan peristirahatan sang ibu.

Perlahan air mataku menetes tanpa bisa ku bendung untuk ke sekian kalinya. Dalam hati, aku senantiasa berdo'a untuknya, agar bahagia di alam sana, selalu. Kalau bisa aku ingin sekarang juga menyusulnya.

Hidup di dunia ini pun sudah tidak ada gunanya lagi. Seakan seluruh indra perasaku hanyut di dalam keterpurukan. Sudah banyak beberapa penderitaan yang ku alami, dan ini salahsatunya.

Aku iri dengan mereka yang ketika ada masalah sedikit pun suka berbagi cerita kepada ibunya, dan ibunya pun menenangkannya dan memberikan saran serta perhatian, layaknya orang yang begitu tulus menyayangi.

Tapi harus bagaimana lagi?

Seharusnya aku bersyukur masih hidup, dan jalani saja kehidupan berliku-liku ini. Meski aku tidak tahu, aku yakin ibuku di sana mengharapkanku untuk menjadi manusia kuat dan berhasil, bukan begitu?

Setelah usai berdo'a, tanpa memberikan aba-aba, hujan turun dengan derasnya. Tapi aku tidak beranjak. Aku sudah terlanjur basah dan tidak ada kekuatan untuk bangkit.

Lama ku tersadar ternyata air hujan tidak lagi membasahi sekujur badanku, padahal hujan masih saja deras. Ku menengadah ke atas, seseorang memayungiku dengan semburat wajah yang mengesankan kekhawatiran, namun setelah itu ia tersenyum.

"Sudah setengah jam kau di sini, ibumu di sana pasti sedih melihat anaknya yang kucel seperti ini, hujan-hujanan segala lagi, kalau sampai sakit gimana?"

Dia adalah Kim Taehyung. Wajahnya sangat tampan apalagi saat moment seperti ini. Aku sudah berteman lama dengannya saat aku berusia lima tahun. Karena itu, ia pasti tahu segalanya tentangku.

Dia yang selalu hadir di kehidupanku. Baik itu senang maupun duka, ia selalu ada.

Ia jarang sekali bersedih, bahkan tidak. Baginya sedih itu tidak berguna dan cengeng. Entah apa yang membuatnya semangat akan hidup. Tapi aku nyaman dengannya, karena ia selalu menginspirasiku untuk tidak bersedih selalu.

Meskipun namanya Kim Taehyung, aku selalu memanggilnya V. Kalian tahu kenapa? Karena setiap dia mengambil gambar dirinya, gaya posenya itu tidak jauh dari 2 jemari yang membentuk huruf  V diacungkan, bisa kebayang kan?

Aku berdiri dan memeluknya. "Kau telat, aku sudah terlanjur basah dan dingin," ujarku kepada V.

"Hehe maafkan aku, yo kita pulang, " ajak V. Tak lupa ia membuka jaket hitamnya dan memakaikannya kepadaku. Aku terpesona dibuatnya.
"Kau bagaimana?" tanyaku.

"Hmm...bagainana apanya?" tanya V balik dengan sedikit menautkan alisnya, tidak mengerti.

"Kau terlihat kedinginan, lebih baik kau saja yang memakainya, ini kan milikmu," kataku karena V sudah mulai pucat, hmm pucat dari lahir.

"Aku dingin, tapi lebih dinginan kamu yang sudah tersiram air." katanya dengan sedikit tertawa dan membentuk sebuah kotak di ukiran bibirnya.

Aku pun membalasnya dengan cengiran meremehkan. Aku merasa bersyukur, setidaknya bisa mempunyai sahabat sepertinya, menghilangkan rasa deritaku perlahan. Ah, rasanya kalau seperti ini dibilang teman seperti b aja, ingin lebih dari itu, tapi apa?

Kami pun sudah otw pulang ke rumahku.

V menyetir mobilnya sangat kencang, katanya biar cepat sampai, so so an banget.

"V, pliss deh kalau mau mati jangan bawa-bawa aku, jalannya licin banget," kataku dengan menutup kedua mataku.

"Haha kau ini payah sekali, masa kecepatan segini doank takut," jawab V meremehkan.

"Bukan begituu, masa iya habis dari pemakaman harus diajak kebut-kebutan segala, ntar kalo aku mabok gimana? mana gak ada kresek," ujarku karena benar aku sudah tidak tahan.

"Ya kan ini sebagai hiburan, aku tidak ingin kamu sedih mulu," kata Taehyung enteng sambil cungar cengir.

"Gak gini...aaaakkk...!!!!......."
Aku spontan menjerit keras saat V mendadak mengerem mobilnya. Untung saja aku memakai benteng kematian, maksudnya sabuk pengaman. Kalau tidak, entah berita apalah yang akan beredar nanti.

"Seul....Seulgi.....kau baik-baik saja?" tanya V dengan raut muka khawatir sekaligus bersalah.

Seulgi adalah namaku. Fullname nya adalah Kim Seulgi, nama pemberian ibuku.

"Yak! kau ternyata ingin membunuhku! Sudah kubilang pelankan lajuannya...!" bentakku kepadanya dan mengatur nafasku perlahan.

"Barusan ada anak ayam lewat, dari kejauhan tidak terlihat saking kecilnya, kalau saja anak ayam itu tidak imut, aku sudah ngegasnya lebih dari kecepatan tadi," terang V dengan kembali mengambil alih kemudi dengan kecepatan yang sesuai ku inginkan.

"Dasar gila...." gumamku dan aku yakin V mendengarnya.

Sesampainya di depan rumah, aku mengajak V untuk mampir dulu ke dalam. Tapi V menolaknya karena belum mengerjakab PR fisika minggu kemarin.

Kalau belum ditegur oleh guru pengajar, ia mana mungkin mengerjakan PR itu, menunggu orang menegurnya, barulah ia 'sedikit' berubah.

Untung sayang, kalo engga, sudah ku buang V jauh-jauh ke pelosok dunia. Saking malunya punya sahabat jenis dia.

Dia pamit, dan aku menunggunya sampai ujung mobilnya itu tidak kelihatan.

Drrrrttt....Drrrrrttt....drrttt

Suata notifikasi pesan WA ku bergetar, aku lekas membukanya dari bawah sleting tasku. Kulihat ada nama'V si belali Gajah' disana. Baru selang beberapa detik saja ia sudah mengechatku?
Sebegitu rindu kah??

'Selamat malam dan selamat jumpa besok my baby...tidur nyenyak malam ini yakk...besok aku jemput, oh iya jangan kebluk 😊'

Aku masuk ke dalam rumah tanpa membalas WA dari V. Nanti saja balasnya karena aku takut aku mengganggunya dan malah fokus ke layar handphone, bukan ke arah jalanan.

Langkah kakiku terhenti saat melihat pria tampan asing sedang makan bersama ayahku, Namjoon dan Yoongi, ibu tiriku.

Why???Where stories live. Discover now