Telingaku mulai mendengar hembusan angin, mataku perlahan-lahan terbuka, kulihat semuanya terang tapi tubuh ini kaku tak bisa di gerakan, dalam hati berkata.. "Dimana aku?? Apa aku sudah mati??" tiba-tiba aku mendengar suara pintu yang terbuka, kulihat seseorang berjalan ke arahku walau pandanganku terlihat samar, dengan wajah bahagia dia melihatku dan berkata.. "Kamu sudah sadar??" dan aku mengenali wajah itu sembari berkata.. "Rendy.."
"Iya ini aku, kamu baik-baik aja kan??" tegasnya dengan raut bahagia
"Aku dimana" tegasku dengan lesunya
"Kamu di rumah sakit ga, sudah 3 hari kamu tak sadarkan diri" timpal Rendy dengan sedikit muram
"Penyakit itu?? Apa itu penyebabnya??" kembali pertanyaan keluar dari mulutku
Tapi Rendy hanya mengangguk
"Orang tua aku?? Mereka gak tau kan ren??" tanyaku penuh kekhawatiran
Rendy terdiam..
"Ren.. Ko kamu diam? Tolong jawab pertanyaan aku, apa mereka sudah tau??" memaksa Rendy menjawab
Rendy pun kembali mengangguk..
Air mata pun keluar dari mataku, aku tak menyangka apa yang aku takutkan ternyata benar-benar terjadi..
Akhirnya jari lembut Rendy seketika menghapus air mataku dengan penuh ketulusan dan Rendy berusaha menenangkanku sembari meyakinkanku..
"Ga kamu itu kuat, gausah khawatir dengan keluargamu karena mereka sudah jauh lebih kuat menerima kenyataan ini, kamu harus sembuh, kamu gausah takut merasa sendiri karena banyak orang yang sayang sama kamu, banyak orang yang menantikan keceriaanmu salah satunya aku yang pernah berjanji akan selalu ada di sampingmu." kata-kata Rendy menguatkan
"Ren.. Itu gak mungkin waktuku sudah habis" jawabku sedikit putus asa
"Kamu harus ingat kata-katamu kesemua orang yang kamu temui saat mereka putus asa dan gagal. Gak ada yang gak mungkin selagi kamu punya niat dan menjalankannya dengan sebaik mungkin dan yang pasti hal itu adalah hal baik." Rendy kembali menenangkan
"Tapi itu mustahil Ren!!" tegasku
"Kamu hanya perlu yakin sama diri kamu sendiri ga" jawab Rendy tak kalah tegas
Dan aku pun hanya memberikan senyuman manisku..
"Yasudah aku keluar dulu ya, kasih tau orang tuamu yang sudah menunggumu" dengan senyum manisku, aku hanya mengangguk dengan raut yang lebih tenang..
Rendy pun keluar..
Aku Rega, pria berumur 20 tahun yang sepertinya usiaku tak akan bertambah lagi, ya!! karena aku pengidap brain cancer, tapi aku akan terus tersenyum dan memberi keceriaan untuk orang-orang di sekitarku karena aku tak bisa memilih..
Skip..
Beberapa menit kemudian pintu kembali terbuka..
Kulihat kedua orang tuaku dan kedua adikku serta keponakanku, mereka melihatku penuh kekhawatiran dan kulihat mata mereka pun sembab akhirnya aku mencoba mencairkan suasana..
"Bu, pak.. Kalian kenapa?? Ini aku Rega, jangan melihatku seperti itu aku jadi takut, aku baik-baik aja ko" godaku dengan senyum penuh kepalsuan.
Tanpa pikir panjang mereka langsung memelukku dan menangis sejadi-jadinya. Aku terbawa emosi tapi aku berusaha menahan air mataku sekuat mungkin yang pada akhirnya jatuh juga..
"Udah kalian ini kenapa?? Aku gak apa-apa, liat deh aku sehat ko." kembali berusaha menguatkan mereka dan tersenyum. Tapi mereka tetap saja bersedu dan akhirnya seorang Dokter datang untuk memeriksaku..
Bersambung..
#AkuInginMemilih
#WilH
YOU ARE READING
Aku Ingin Memilih
Random"Pilihan akan selalu ada! Ya hal itu memang nyata tapi apakah pilihan itu bisa dipilih?? Sayangnya tak semua pilihan dapat dipilih, seperti apa yang di alami Rega dia punya pilihan tapi dia tak bisa memilih dan pada akhirnya dia hanya bisa menjalani...
