Nostalgia waktu

57 4 0
                                        

Entah kenapa, aku ingin menulis ini. Menulis tentang mereka. Mengubah pikiran kalian mengenai mereka. Ya, mereka yang kalian anggap menyeramkan.
Biar kubawa kalian kedalam hidupku, agar ceritaku lebih hidup. Selamat membaca.

Aku adalah, mmm... Maksudku hanyalah gadis kecil yang tak mengerti dunia. Ya, kerja ku hanya main, main, dan MAIN. Entah kenapa, hanya perasaanku atau memang benar. Mereka, tidak suka aku. Siapa mereka? Mereka itu siapa? Aku tidak tahu, sama sekali tidak tahu. Bicara sendiri adalah kebiasaanku, jangan takut ya, aku tak suka. Menjadi orang gila adalah kesukaanku. Tertawa, menangis, bercanda, aku tidak punya teman. Yang bisa kalian lihat. Ayahku sudah tidak asing dengan sikapku, tapi kasihan ibu, dia jadi takut. Maaf ya bu.
Mereka? Ya, mereka itu macam-macam. Baik, buruk, jelek, menjijikan, hitam, putih, darah, hancur, dan mati. Tentu saja, hal ini yang kubenci dari mereka. Apa mereka tidak risih dengan bau badannya? Apa mereka tidak mau mandi? Itulah kenapa dulu aku sering mengajak mereka mandi bersama. Kebetulan aku tidak suka boneka, dari dulu. Jadi, aku tidak pernah bermain boneka dengan mereka.
Kadang mereka jahil, aku tidak suka. Jahilnya keterlaluan, tak seperti anak pada umumnya. Tapi mereka mengerti aku lebih dari siapapun. Kini aku hanya merindukan mereka, mereka dan hanya mereka.
Biar kuperkenalkan mereka pada kalian.
Pertama, perempuan manis berambut panjang, lucunya dia. Rambut dengan tinggi badan lebih panjang rambut, seperti Rapunzel begitu, hehe.
Kedua, kakek tua yang sering duduk diwaktu maghrib, ya di shofa panjang berwarna hijau, milik ibuku.
Ketiga, hmmm... Sudah aku tidak mau menjelaskan lagi.
Kalian tahu, mereka tidak suka kisahnya diceritakan pada orang lain dan dengan tidak sengaja aku bercerita tentang salah satu dari mereka, lalu hasilnya tadaaaaaaaaa... Aku terus dibuntuti. Akhirnya aku kapok. Tidak mau lagi. Takut.
Tidak semua dari mereka itu seram. Tidak kok. Ya, mungkin hanya sedikit pucat saja, wajar mereka sudah mati, hehe. Aku bingung harus memulai darimana, mereka punya banyak cerita. Baiklah, akan kumulai.
Awal bertemu dengan mereka, aku lupa kapan tepatnya tapi yang pasti usia ku 4 tahun saat itu. Dulu, aku adalah gadis yang penakut. Sangat penakut, itulah mengapa kalau aku lihat sesuatu aku tidak pernah cerita pada siapapun kecuali ayahku. Percaya atau tidak, coba kalian pikirkan, gadis usia 4 tahun sudah diperlihatkan dengan sesuatu diluar logika manusia. Namun akhirnya aku terbiasa, untuk melihat. Melihat mereka.
Jujur, aku menjadi sangat tertutup kala itu. Sulit untukku berinteraksi dengan anak se-usiaku. Aku lebih suka main sendiri. Ya sendiri. Bersama mereka.
Bersama mereka, aku tumbuh menjadi pribadi yang lebih menghargai hidup, bersyukur atas segala takdir tuhan, padaku.
Kadang aku sering pergi ketempat sepi, gelap, dan hening. Sambil berkata "Aku rindu kalian."
Menangis tersedu-sedu, berharap mereka yang dulu bersama kembali datang. Tapi... Yang datang bukan kalian. Lalu, aku semakin rindu. Lagi dan lagi yang datang bukan kalian. Tidak ada yang bisa mengerti perasaan gadis kecil kalian ini, tidak ada lagi. Kalian ingat? Waktu aku nangis saat dimarahi mama, lalu kalian datang mengusap kepalaku sambil berkata "Mama kamu galak ya, jangan nangis."
Aku rindu kata semangat yang keluar dari mulut manis kalian, kalian tidak pernah berbohong seperti manusia yang ku kenal. Kalian katakan apa yang semestinya ku tahu. Aku rindu. Dimana kalian? Teman.
Sekarang gadis kecil kalian sudah besar, datangalah. Kalian tidak rindu aku? Kalian tidak mau main lagi bersamaku? Tahukah kamu, apa arti sakit hati sesungguhnya. Ialah ketika sahabat yang mampu mengerti dirimu hilang dimakan waktu, entah kemana. Takdir berkata begini, kalau aku mampu mungkin aku sudah bersama mereka sampai saat ini.
Menjadi gadis kecil pemurung, hobi menangis, dan suka sendirian. Ya, itu aku. Entahlah apa jadinya masa kecilku tanpa mereka. Eh iya, mungkin kalian bertanya-tanya siapa sih sebenarnya mereka, mereka siapa yang kubicarakan, hehe. Mereka, hmmm... Mereka yang kubicarakan adalah...
Malaikat malam ku.
Baiklah, akan kuceritakan. Betapa lucunya mereka.
Gadis kecil berambut panjang, baju putih kumuh, rambutnya lebih panjang dibanding tubuhnya, hehe. Lucu bukan? Sepertinya sudah kuceritakan sebelumnya.
Dia tinggal dirumah kosong tepat didepan rumahku, hobi duduk diatas lemari kecil, hihi. Pemalu, dia pemalu.
Lelaki bertubuh besar, dia suka menemani ku tidur dirumah kosong itu. Dia garang karena itu aku tidak akrab dengannya, mau lihat segarang apa dia? Ah tak usah lah, aku juga malas dengannya.
Kunt... Ah aku hampir menyebutnya, hehe. Ya, wanita jelek itu dia tinggal dipohon mangga. Kalian tahu, dia sangat jahil, ikan peliharaan ayahku hampir setiap hari mati. Tahu kenapa? Dia senang menusuk-nusuk ikan dengan kukunya. Katanya penghilang bosan, iya sih penghilang bosan, tapi apa dia tidak berpikir kalau beli ikan itu pakai uang.
Sudah ya, sebenarnya banyak yang lucu. Tapi, mungkin jangan semua kuceritakan, nanti mereka mengikuti kalian. Mau diikuti?
Oh ya, kalian tahu, kakek yang kuceritakan pada part sebelumnya. Dia, adalah salah satu hantu yang sangat kurindukan sosoknya. Percaya tidak kalau ada hantu yang merokok? Kalau menggunakan akal pikiran tentu saja tidak, mana mungkin orang mati merokok, dia mau mati lagi? Hehe. Tapi, kakek ini, dia perokok. Dia merokok, ah menjijikan.
Kadang aku bingung melihat apa yang ada disekitarku, mereka terlihat aneh, menjijikan, dan ya, mau bagaimana, aku harus terus berjalan.
Kurindu dirimu. Maaf aku terlalu banyak menulis kata "Rindu", sungguh aku memang sangat rindu. Kalau aku boleh meminta pada tuhan, saat ini aku hanya ingin kembali pada masa lalu. Maaf kalau cerita ini membosankan, tapi sungguh aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku, kerinduanku, dan gelisahku.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 27, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

SAYUNIWhere stories live. Discover now