Think

23 3 1
                                        

Satu hal yang menjadi bahan pemikiranku selama ini. Tidak mengganggu, namun cukup mengundang hasrat penjelajahan intuisi untuk dipikirkan, gagasan mengenai esensi kehidupan dari suatu benda. Kita semua tentu saja mengerti bahwasanya benda secara umum terbagi menjadi 2 jenis, benda mati dan hidup. Selain dari pembagian itu, apa yang membuat benda digolongkan seperti itu? Ya, aku tahu, tentu saja berdasarkan pemahaman kita mengenai hidup. Hidup dan mati. Dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dua hal yang kita tidak dapat memilih maupun mengelak mengenai keberadaannya.

Pernahkah terbesit dalam benak kalian, apakah benda hidup benar-benar hidup dan benda mati benar benar tidak dapat merasakan apa itu hidup? Bagaimana jika ide mengenai pembagian benda hidup dan mati tersebut dirasa kurang relevan apabila seandainya kita memposisikan diri sebagai bagian dari benda mati tersebut. Akankah kita benar-benar mati? Fisik mereka bisa saja terbatas, pergerakannya, mobilitasnya, namun akan ada satu hal yang menjadikan mereka bebas; kebebasan untuk berpikir.

Berpikir, mengamati, merasakan, menjadi pendengar yang baik merupakan hal-hal yang bisa dikatakan sebagai bagian dari makhluk hidup. Konsep demikian bisa dikatakan cukup sempit, kurasa. Memang tidak dapat disalahkan, tetapi, itukah yang akan kita rasakan ketika memposisikan diri sebagai bagian dari makhluk-makhluk tidak bernyawa itu? Dengan asumsi demikian, kita dapat mengambil contoh konsep animisme dan dinamisme. Cukup tua dan terkesan primitif memang, kepercayaan akan benda mati yang memiliki jiwa/roh, namun tidak cukup gila juga untuk ditelusuri.

Pernahkah anda mendengar consciousness? Eksistensi? Kenyataan? Lebih tepatnya, sejauh apakah kita mengenal kata-kata tersebut? Consciousness atau kesadaran merupakan tingkat kesadaran atau keawasan diri mengenai lingkungan maupun benda-benda disekitarnya; persepsi mengenai pengetahuan diri yang diterima secara intuisi melalui alur psikologis. Pemikiran atau aktivitas yang dicirikan oleh sensasi, emosi, persepsi, ide dan perasaan pada suatu individu maupun grup dalam rentang waktu tertentu. Gagasan mengenai kesadaran dapat ditelisir lagi ke abad 17-18 oleh pemikiran Rene Descartes dan John Locke. Konsep tersebut muncul akibat dari naluri bagi manusia untuk mengetahui keberadaannya, sehingga kita menciptakan konsep kesadaran ini. Realitas, pengakuan, kesadaran, perasaan hidup yang kita rasakan saat ini mungkin saja bisa ditemukan di tempat lain, mungkin sama, mungkin juga berbeda. Mungkin tempat itu adalah tempat yang tidak terduga sama sekali. Namun, dekat. 

Manusia merupakan salah satu bagian dari kehidupan di bumi, sebagai puncak dari rantai makanan, spesies yang paling berkuasa setidaknya untuk saat ini. Sejarah manusia modern kiranya sudah dimulai sejak 12.000 tahun yang lalu. Selama waktu yang panjang itu, kita mencari bagian dari jati diri, membangun pemahaman mengenai rekam jejak keberadaan kita di sini. Peradaban kuno seperti bangsa mesir, maya, dan sumeria misalnya. Mereka adalah pelopor sejati dalam pencarian sepanjang masa ini. Bangunan dan konstruksi lingkungan mereka mengarah pada pencarian lokasi kita di alam semesta yang luas nan megah ini, mencari keberadaan umat manusia di antara lautan bintang di atas sana. Terima kasih kepada teknologi, kini kita mengetahui apa itu galaksi, supercluster, dan black hole. Pencapaian yang cukup mengesankan untuk spesies kita; pencarian jati diri dan eksistensi kita. Dengan rasa ingin tahu yang kuat, kita juga turut mencari kehidupan lain di alam semesta ini, para extraterestrials. Tetapi kita tidak akan menyinggung itu sekarang.

 Sebagai makhluk yang paling sempurna, kitapun makhluk yang rumit, kompleks, dan sulit untuk dipahami. Kenapa begitu? Salah satunya adalah karena kita memiliki kemampuan mengenai consciousness, menyadari keberadaan dan eksistensi kita di dunia. Suatu realitas yang terpatri dalam diri kita sejak awal peradaban, pencarian jati diri. Berbagai hal menjadi manusia terkadang memang sulit untuk diterima, namun juga mengandung arti akan esensi dari hidup kita. 

Berbagai hal yang kita lalui, seperti menorehkan memori setiap hari, sepanjang hidup kita merupakan salah satu bentuk untuk menghargai hidup, sekaligus hidup terbenam di dalam berbagai kenangan dan aktivitas ini. Romansa, drama hidup, perusakan alam, membangun keluarga, kerumitan dalam hidup, kebahagiaan dan kekecewaan adalah segelintir bumbu kehidupan, yang membuat hidup kita tidak hambar. Tanpa kita sadari, dengan berbagai hal manis dan pahit dalam hidup inilah kita mampu melanjutkan hidup kita, mengisi kenangan dan memori bersama orang-orang terdekat kita, dan memaknai hidup ini. Hidup bisa dikatakan anugerah terbesar bagi manusia, tentu saja bagi mereka yang menghargai dan menyukuri segala hal yang terjadi. Segelintir orang mungkin memiliki pendapat yang berbeda. Meskipun begitu, pembaca, mau tidak mau, kita telah dipercayai Tuhan terhadap kehidupan yang saya dan anda jalani. Sudah sepantasnya kita menghargai setiap detiknya untuk bersyukur dan mengisi hari-hari kita dengan hal-hal yang bermanfaat.

***



The Unthinkable : A Whisper from the ChairNhững tác phẩm khiến độc giả say mê. Hãy khám phá bây giờ