Dunia Kostum

49 1 0
                                        

Dunia kostum keseharian adalah sebuah realitas dunia dimana kita terlebih dahulu harus mengenakan sebuah kostum untuk masuk ke dalamnya dan bertemu dengan kostum-kostum lain di dalam dunia kostum. Disana kita berbicara bahasa kostum, berinteraksi dengan tata cara kostum dalam koridor-koridor dunia kekostuman. Melalui kostum, untuk pertama kalinya kita mampu melihat diri kita sendiri dalam sebuah proyeksi fisik melalui sesuatu yang disebut 'cermin' di dunia kostum. Melalui kostum pulalah kita mampu menyentuh segala sesuatu yang ada di dalam dunia kostum. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa hanya dengan kostum kita dapat benar-benar terhubung dengan realitas yang ada di dunia kostum. Kostum membantu kita memberi bentuk pada yang tak berbentuk. Memberi bungkus pada sesuatu yang niscayanya mungkin tidak mengenal konsep bungkus. Dari kostumlah perbedaan dilahirkan. Karenanya kita kemudian menjadi dapat dibedakan antara satu dengan yang lainnya, diberi tingkatan dan dikelompokkan sesuai ciri serta karakter fisik yang melekat pada masing-masing kostum.

Dunia kostum ini dibuat mirip sekali dengan dunia kita (manusia). Disana berjalan seperti biasanya, yang membedakan hanya saja keseharian di dunia kostum penuh dengan kekakuan-kekakuan kekostuman. Karenanya, kita tak mampu bergerak bebas di dalam dunia kostum, pergerakan kita kikuk dibatasi ciri kekostuman yang melekat pada diri kita.

Sebagai pengguna kostum misalnya, sulit sekali bagi saya untuk sekedar memberi senyum bagi mereka-mereka yang sering saya temui pergi dan pulang kerja setiap hari di dunia kostum. Bukan karena saya tidak ingin tersenyum, tapi lebih karena kostum ini menghambat saya untuk mengartikulasikan apa yang sebenarnya saya rasakan. Wajah datar yang dipilihkan kostum ini membuat ekspresi asli saya tidak terlihat. Tersembunyi dibalik rona tak terlihat. Tersembunyi dibalik rona teatrikal. Terkadang, saya berharap mereka mengerti bahwa saya sebetulnya ingin tersenyum... ingin sekali...

Begitu lama kita berada didalam kostum membuat kita terkadang lupa bahwa kita sebenarnya ada didalam kostum. Kekakuan ini menyatu begitu sempurna melumuri diri kita sehingga kita lupa bahwa kita yang sebenar-benarnya "kita" ada didalam kostum yang kita kenakan. Lupa akan kesadaran "menjadi ada" sebagai kita dan bukan sebagai kostum. Saya kemudian teringat perkataan sebuah kostum dalam rupa yang begitu aneh. Hidungnya menjuntai hingga diantara kedua kakinya. Ini membuatnya seolah memiliki tiga buah kaki. Matanya sembab seperti habis mengunyah sebuah mercon. Seperti tak ingin "biasa" saja, pertemuan dengan si aneh ini harus pula dilengkapi sebuah latar mimpi yang tak kalah aneh. Sebuah lanscape berbukit warna malachite dipenuhi pohon-pohon naked coral beracun yang hampir seluruhnya ditutupi duri-duri tajam.
Sambil batuk-batuk ia berkata; "Jika dalam hidup kamu terlalu banyak dikelilingi oleh benda mati, maka niscaya kamu secara perlahan akan kehilangan hidupmu. Selanjutnya, benda mati disekitarmu akan menjadi hidup. Kamu telah memberi mereka [benda mati] terlalu banyak kehidupan untuk bertukar dengan kehidupanmu sendiri..."
Seperti tidak ingin, saya dengan kritis mempertanyakan kembali makna kebijaksanaan dalam kata-katanya. Kostum tersebut bergegas pergi dan menghilang dibalik bayang pepohonan. Meninggalkan semua kecuali pemahaman.

Mungkinkah saya terlalu banyak memberi kehidupan pada kostum yang saya kenakan?

Karena sedemikan lelah dan pengapnya berada seharian dalam kostum, membuat banyak dari kita tidak cukup beruntung, melewatkan malam tertidur lelap bersama kostum yang tetap melekat ditubuhnya. Keesokan hari, mereka terbangun sudah berada didalam dunia kostum, tergesa berangkat menuju dunia kostum untuk mengulang kehidupan sehari-hari sebagai sebuah kostum. Hal ini sedemikian berulang, membuat lama kelamaan menyatu dengan mereka dalam belenggu banalitas keseharian dunia kostum. Mereka tidak lagi mampu membedakan, apakah mereka ada di dalam kostum atau merekalah kostum itu sendiri.

Beberapa yang lain masih cukup beruntung, melepaskan kostumnya terlebih dahulu sebelum tidur. Melipatnya perlahan dengan rapih atau hanya meninggalkannya begitu saja terserak di lantai kamar. Saat semua sudah gelap dan semua sudah terlelap. Saat pintu rapat terkunci dan suasana sunyi senyap. Mereka perlahan keluar dari kostum. Duduk terdiam ditepi kasur. Hanya terdiam dalam otentisitas kesendirian. Seperti sebuah momen diam saat hendak mematikan lampu sebelum pergi tidur bersama seorang kekasih di penghujung malam yang syahdu. Diam yang begitu subtil dan sarat akan makna-makna yang tidak dapat diartikulasikan. Diam yang berbahasa dengan bahasa eksistensial yang lebih primordial dari pada tutur kata.

Lalu mengapa berkeras menunjukan bahwa dirimu bukan sebuah kostum, saat yang perlu kamu lakukan sebenarnya hanya tinggal melepaskannya saja. Mengapa begitu sulit bagimu untuk keluar dari sana. Keluar dari kostum dan menunjukkan bahwa kamu memang bukan kostum, kamu hanya berada di dalam kostum. "Baiklah, aku keluar dari kostum" ucapmu. Tapi apakah nanti jika sudah keluar dari kostum, aku akan benar-benar yakin bahwa aku yang sudah diluar kostum itu adalah aku yang sebenar-benarnya diriku. Ataukah, hanya lapisan kostum-kostum lain dari seluruh keberlapisan kostum yang tak terhingga jumlahnya. Menutup lapis demi lapis diriku yang sebenar-benarnya diriku. Apakah jangan-jangan saat keluar dari kostum, aku malah tidak menjadi diriku sendiri, karena ternyata diriku lah si kostum itu sendiri...

Seluruh pertanyaan ini bertaburan di benakmu seperti cornflakes yang terlempar keluar dari mangkuk sarapan, cornflakes yang seketika menemukan dirinya berada dalam perspektif yang berbeda selain dalam sebuah mangkuk yang kalau diberi susu, pastilah berisi potongan buah. Hingga pada suatu titik tertentu di puncak kegamangan, kamu mulai bertanya, apakah kamu benar-benar ada? Apakah jangan-jangan kostum ini memang sebenar-benarnya adalah diri kamu? Ataukah diri kamu adalah memang sebenar-benarnya kostum ini? Apakah ternyata tidak ada kostum, begitu juga dengan tidak ada kamu? Lalu ini apa? Kesadaran ini milik siapa? Milik kamu yang sebenarnya kamu, atau milik kamu yang sebenarnya kostum? Atau hanya ada kamu tidak ada kostum? Atau hanya ada kostum tidak ada kamu? Ada berapa banyak lapisan kamu yang melapisi kamu? Lalu kamu yang sebenarnya ada dimana???

Tentu tidak bisa disalahkan kegamangan mereka-mereka yang begitu mencintai kostum, karena "menyadari" ada yang lain selain kostum mungkin terlalu menyakitkan bagi mereka. Buat mereka, apa yang ada dibalik kostum, mungkin tidak lebih baik dari apa yang terlihat sebagai kostum. Mereka tidak ingin mengetahui bahwa ada diri mereka yang lain tersembunyi dibalik kostum. Banyak dari mereka yang bahkan memilih mati sebagai kostum, dikenal sebagai kostum dan diingat sebagai kostum yang melekat padanya, bukan sebagai diri mereka yang bersemayam didalam kostum yang dikenakan. Lalu bagaimana mungkin dapat dikatakan mati jika mereka sebenar-benarnya tidak pernah benar-benar hidup sebagai kehidupan, melainkan sebagai benda  mati.

Dunia KostumStories to obsess over. Discover now