Warning... Banyak typo!!!
"Marc..." Panggilnya. Dan benar yang aku takutkan. Gadis mengerikan itu mengikutiku. Baiklah... aku percepat langkahku. Pura-pura tidak mendengarnya itu lebih baik.
"Marc... aku masih tidak percaya jika kita bertemu lagi dan berada di satu universitas."
"Iya... aku juga tidak percaya." Terus berjalan tanpa melihat ke arahnya. Dan sialnya dia tetep berusaha mensejajarkan langkahnya. Apakah gadis itu tidak peka jika dia itu sangat mengganggu? Aku bisa gila sekarang.
"Aku sangat senang sekali..."
Fuck! Kapan dia berhenti mengikutiku? Baiklah, Marc. Bersabarlah. Dan teruslah berjalan.
"Benarkah? Oh... aku tidak terkejut." Aku seperti psyco. Memaksakan senyum untuk dirinya. Sial.
"Kau mengambil apa?"
"filsafat..." Jawabku tak acuh. Semoga dia peka dengan sikapku. Terus berjalan, dan terus berjalan. C'mon... c'mon...
"Waaaw... kau pasti bercanda... Aku juga sama denganmu. Apakah ini kebetulan?" Gadis itu terkekeh. Sedangkan diriku, awan mendung seakan-akan berada di atas kepalaku. Jelas aku tidak senang dengan hal itu. Dan setelah ini, aku akan pindah kelas. Sial!
"Ye--yeah... Bahkan aku bisa mati mendengarnya." Aku merasa dipermainkan sekarang.
"Bisakah kau berhenti sebentar? Ada banyak pertanyaan untukmu..." Tidak peka... padahal aku sudah memasang wajah geram. Tapi gadis itu malah tersenyum lebar dan terus mengikutiku.
Dan satu yang harus gadis itu tahu, tujuanku sekarang adalah untuk menghindarinya. Apa aku harus menurutinya? Oh... Tidak-akan!!!
"Maaf... aku sangat sibuk sekali..." Jawabku tak acuh, dan aku tidak akan berhenti walaupun sebentar. Tapi gadis itu tetap saja mengejarku. Dia benar-benar mengerikan. Tidak ada yang bisa menghentikannya sampai detik ini.
"Di mana kau tinggal sekarang? Keluargaku baru saja pindah ke Berford. Kau tahu itu?"
Aku tahu... tapi abaikan saja dia, dan terus berjalan.
"Kami tinggal di sekitar Link rd... Kau tahu?"
Tunggu, Link rd... Goddamn! Apa telingaku salah dengar?
Untuk pertama kalinya aku berharap telingaku mempunyai gangguan pendengaran. Untuk memastikan lagi, terpaksa diriku menuruti ucapannya untuk menghentikan langkahku.
Aku juga melihatnya dia mengikuti menghentikan langkahnya. Dan yang paling membuatku muak, gadis mengerikan itu tetap memasang senyumnya.
Sekarang aku mengalami dejavu. Kejadian yang sudah kualami setelah beberapa tahun, sekarang aku bisa merasakannya lagi. Entah ini takdir atau apa, tapi aku menganggap ini adalah kesialanku yang belum tuntas.
"Kau tinggal di mana?" Aku mencoba memastikannya.
"Yeah... aku tinggal di Link rd. Kau tahu tempatnya?" Dia terus tersenyum padaku. Itu membuat kemuakanku semakin bertambah saja.
Jelas aku tahu. Aku juga tinggal di sana, Bodoh!
Aku mengira hari saat pertama kali aku pindah ke amerika tidak akan datang lagi. Tapi ini benar-benar terjadi. Bahkan ini lebih parah, merasa levelnya sudah dinaikan satu level lagi.
Bayangkan, aku dan gadis aneh ini berada di satu universitas tersialan. Dan berada di satu kelas yang sama. Itu jelas sangat menjemukan. Dan lagi, setelah itu apakah aku harus bertemu dengannya ketika sampai di rumah? Oh... ini jelas tidak lucu! Aku benar-benar dipermainkan. Siapa pembuat skenarionya?
YOU ARE READING
DIFFERENT
FanfictionHanya satu kelemahannya... Yaitu Madeline... "Dia menakutkan... Dia mengerikan... Dia penguntit... Dan dia idiot yang selalu tersenyum padaku! Bukankah itu sangat menyebalkan..."
