Prolog

60 3 0
                                        

Cerita ini asalnya dari otak kanan.
Sepertimu, aku juga pernah mengalami masa-masa ketika engkau merasa semesta begitu mendukung. Mendukung untuk bersama-sama menjungkalkanmu. Memberimu kesialan-kesialan. Dari bangun tidur sampai tidur lagi.
   Bayangkan sesuatu yang lebih menyebalkan dibandingkan dengan ini.
   Engkau tidak pernah kebagian sekolah yang Bagus seumur hidupmu. SD-mu dianggap "ndeso" karena berada di pedalaman, SMP-mu berganti nama karena tak kunjung terakreditasi, SMA-mu tutup karena kurang murid, bahkan tempat kuliahmu dibuldoser karena namanya sudah tak laku meski di iklan-iklan.
   "Engkau lalu memutuskan untuk tidak pernah menyebut-nyebut sejarah pendidikanmu."
   Engkau menikah muda dan berharap itu membuka pintu rezekimu lebar-lebar. Ketika sampai tahun kelima tak kunjung lahir anak pertamamu; teman, saudara, tetangga, bahkan penumpang bus yang tidak sengaja duduk disebelahmu mulai usil menanyaimu, "Belum isi? Wah, nggak tokcer nih."
   "Engkau lalu memutuskan untuk berhenti naik bus, berhenti datang ke reuni apapun, berhenti kumpul-kumpul keluarga pada Hari Raya."
   Engkau cemerlang di tempatmu bekerja. Atasan mengandalkanmu, anak buah segan padamu. Segan, bukan ketakutan; engkau hanya perlu menghafal semua nama mereka, menyapa mereka, dan sesekali ikut bergerombol di warung makan untuk mendengar obrolan mereka. Itu sudah cukup menghibur dari kenyataan bahwa perusahaanmu menggaji mereka terlalu kecil. Sedikit diatas UMR. Sayangnya, tidak semua orang punya imajinasi yang bagus. Mereka ini tidak akan suka apa yang engkau kerjakan dan bermain kotor supaya engkau terjengkang.
"Engkau lalu memutuskan untuk berhenti menjadi karyawan. "
   Engkau menanam cabai organik ketika harga belinya rp30.000,00 perkilo dan "nyungsep" menjadi rp2.500,00 perkilo begitu engkau memanennya. Omzetmu bahkan cuma seperempat dari uang yang engkau belanjakan untuk pupuk kandang dan kencing kelinci yang katanya bisa menjadi pestisida alami. Itu artinya, uang puluhan jutamu amblas tanpa bekas.
  "Engkau lalu memutuskan berhenti menjadi pengusaha."
   Engkau berupaya menenangkan diri. Bergabung dengan kumpulan orang yang suka mengkaji kitab suci. Lalu, orang yang menjadi gurumu mulai memberi wacana-waTypo yang mengerikan. Seolah agama tidak lagi memberimu senyuman. Melulu soal ganjaran dan hukuman-hukuman.
   "Engkau lalu memutuskan berhenti mendatangi majelis mana pun."
   Engkau menulis buku. Berusaha menyampaikan idealisme lewat kata-katamu. Lalu, orang-orang mulai mempertanyakan agamamu, menyebutmu sesat, meributkan kapasitas keilmuanmu, menjadikan bukumu sebagai contoh karya yang tidak bermutu. Barang jualan untuk pelatihan menulis yang laris amat manis, "Buku penulis itu tidak laku. Tidak bermutu. Buku saya lebih baik. Beli buku saya saja."
   "Engkau lalu memutuskan untuk berhenti untuk menulis apa pun."
   Semacam itulah.
   Ketika aku mulai berpikir bahwa kehidupan sudah miskin imajinasi dan mengira tak ada lagi tempat untuk orang semacamku ini, aku bertemu dengan orang-orang itu. Orang-orang yang melakukan hal-hal yang sulit dipercaya. Aku mengejar mereka ke berbagai kota. Mencari tahu apa yang membuat mereka begitu berbeda.
   Kepadaku, mereka membagi sebuah rahasia. Harta yang sudah ribuan tahun usianya. Pusaka yang memudahkan hidup, memakmurkan orang-orang yang mengetahui kunci-kuncinya. Sepertiku, engkau akan sangat ingin tahu hal apa itu. Mereka menyebutnya Warisan Nabi. Sesuatu yang akan merombak cara berpikirmu.
   "Engkau lalu memutuskan untuk (tidak) berhenti mengikuti kisahku ini.
    Cerita ini asalnya dari otak kanan.

Salam kenal:)
MuhammadFaizalAkbar_

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 02, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Keajaiban REZEKIStories to obsess over. Discover now