Day 15: Teaching Each Other How To Do Something

132 10 2
                                        

Cafe AU!

Taiga mengambil sebuah timun, lalu memotong ujungnya, dan menatap ke arah Hokuto yang berdiri di sampingnya. Hokuto menghela nafas, 

"Timunnya nggak dicuci dulu? " tanya Hokuto.
"Eh? Memangnya perlu dicuci, ya? " Taiga balik bertanya dengan tatapan bingung,
"Sabunnya seberapa banyak? " tangan Taiga sudah bergerak mengambil sabun cuci piring dan Hokuto dengan segera merebut timun yang hampir menjadi beracun itu.
"Cuci pakai air biasa saja sebelum dipotong. " jawab Hokuto.
"Potong ukurannya yang sama. " ucap Hokuto setelah melihat betapa tidak ratanya ukuran potongan timun yang dipotong Taiga. Taiga mendelik ke arah Hokuto yang juga menatapnya dengan pandangan yang tidak kalah galaknya.

"Tomatnya juga?" tanya Taiga sambil menatap Hokuto yang kali ini hanya mengangguk. 

"Selanjutnya rotinya," kata Hokuto dan mengambil 2 potong roti yang langsung disambar Taiga, 

"Kalau ini, aku tahu." ucapnya dan mulai menyusun bahan yang sudah dipotongnya itu. 

dalam sekejap, sebuah roti sandwich terhidang. Taiga tersenyum puas,

"Kali ini giliranku." katanya dan mengambil sebuah gelas, dan menyodorkannya pada Hokuto.

"Uh..." Hokuto mengambil gelas itu dan berjalan ke arah mesin kopi yang tersedia di atas meja marmer itu. Dia pun mulai menekan tombol di mesin itu dan gelasnya segera terisi kopi. Hokuto mengambil sebuah wadah kecil dan mengisinya dengan susu panas dari mesin itu juga. Taiga mengambil wadah itu dari Hokuto dan mengetuk-ngetukkannya ke meja dengan pelan.

"Supaya tidak ada busanya." kata Taiga dan menyerahkan wadah itu kembali ke Hokuto. 

"Ayolah, aku sudah mengajarkanmu kemarin."

Hokuto menarik nafas dan mulai menuangkan susu panas itu ke gelas kopinya. Tangannya sedikit bergetar sehingga hasilnya pun tidak rata. 

"Ini." Taiga menyodorkan sebuah tusuk gigi sambil berusaha keras menahan tawanya. Dan supaya kopi panas itu tidak melayang ke arahnya. Hokuto pun mulai mengukir busa susu di gelas kopinya menjadi sebuah latte art yang... lumayan bisa diterimalah. Kemudian dia meletakkan gelasnya di sebelah sandwich buatan Taiga.

Keduanya menatap hasil karya mereka dan sepakat, bahwa ini sebaiknya tidak dihidangkan ke pelanggan. 

"Ada permulaan untuk segala sesuatunya." Ucap Taiga berusaha menghibur dirinya sendiri. Lalu keduanya pun tertawa.

-----

Taiga memegang gelas kopinya erat-erat sambil memandanginya. Suara hujan di luar terdengar seperti mengetuk jendela kaca di dekatnya. Sebuah senyum kecil menghiasinya bibirnya ketika ingatannya melayang ke masa itu. Walau matanya tidak terlihat seperti itu. 

Dia menatap piring berisi sandwich di sebelah gelas kopinya. Senyumnya pun semakin memudar.

"Hei, aku sekarang sudah bisa membuat sandwich yang cantik." ucapnya lirih, 

"Jadi, kapan kamu akan kembali?"

Dan Taiga pun menenggelamkan kepalanya dalam dekapan lengannya. Menyembunyikan air mata yang mulai meleleh di pipinya. 

Drabbletober: Week 3Where stories live. Discover now