Our Last Day

228 22 11
                                        

"Kau yakin?"

Chengxin memandang Yuhang dengan tidak percaya. Yuhang hanya membalas dengan mengangguk santai.

"Eh? Kenapa tidak di sini saja? Sebentar lagi kan kita debut bersama."

"Siapa yang bisa jamin aku bisa berdiri di atas panggung lagi? Bahkan kau pun tidak tahu bagaimana nasibmu nanti."

Chengxin terdiam, sementara anak itu berbalik pergi.

"Kau mau kemana?" Ia menahan tangannya.

"Apa sih? Aku mau ke kamar mandi." Yuhang menepis tangan Chengxin dan melangkah dengan gusar.

Chengxin memandang tangannya yang terkena tepis itu. Sakit.

---

Obrolan tadi pagi itu terdengar tak masuk akal dalam pikiran Chengxin. Memangnya apa yang kurang?

Dia anak yang paling jago dance di TF Family. Anak emasnya mentor dance kami. Ia selalu dipuji, sementara kami selalu dibentak karena tertinggal dengannya yang sudah mempelajari step selanjutnya.

Ketika di panggung, dia selalu berada di posisi center. Selalu tertangkap kamera. Sementara yang lain, terekam kamera satu detik pun sudah sangat bersyukur.

Popularitas? Jangan tanya. Kami berdua merupakan trainee lama. Fans selalu ada di manapun kami berada.

Kami juga sudah berada di sini dalam waktu yang lama. Siapa yang tak yakin dia akan segera debut?

Chengxin berusaha untuk melupakan obrolannya dengan Yuhang tadi. Mungkin ia hanya bercanda. Memang, ia sering dengar perkataan temannya yang tidak tahan dengan masa training, atau obrolan ingin kabur dari agensi ini. Tapi nyatanya mereka masih tetap di sini.

---

Hari ini hari minggu pukul 7 pagi. Waktu yang tepat untuk mematikan alarm dan kembali tidur. Tetapi Yuhang sudah bangun sejak tadi, mengemas barangnya dalam koper.

"Weekend ini mau pulang kampung, eh?" Canda Chengxin yang masuk tanpa mengetuk pintu.

Yuhang memandang Chengxin sambil tersenyum. Ia mengacak-acak rambut Chengxin tanpa menjawab sepatah kata pun dan melanjutkan untuk merapikan barangnya.

"Nanti kalau pulang bawa oleh-oleh ya!" Chengxin keluar kamar sambil tertawa.

---

Para trainee sudah berkumpul di ruang tengah. Seluruh obrolan berhenti ketika Yuhang masuk sambil menarik kopernya.

"Teman-teman, terima kasih. Sampai bertemu lagi ya."

Pemandangannya tidak biasa, semua orang dalam ruangan itu mengerubuti Yuhang, bahkan Sixu menangis, seakan Yuhang tak akan kembali lagi.

Chengxin tidak paham dengan situasi ini. Lama-kelamaan ia memiliki firasat buruk.

"Dia mau pulang ke Chongqing, kan?"

Seluruh trainee ganti menatap Chengxin.

"Chengxin tidak diberi tahu?" Seluruh trainee berbisik riuh.

"Ap... Apa?"

"Aku sudah memberi tahunya... Bahkan dia yang pertama kali kuberi tahu."

"Hah?"

"Hari ini hari terakhir kita bersama. Aku sudah keluar dari TF Family..."

BRAK!!

Chengxin menggebrak meja. Ia tak tahu harus bereaksi apa. Tapi ia merasakan emosinya meluap.

"Kenapa?" Suaranya bergetar.

"BUKANKAH KITA TEMAN?"

"Sudah sudah..."

Kalau saja ia tidak ditahan oleh Zhenyuan, ia pasti sudah menonjok kepala Yuhang.

Yuhang menghela nafas. "Kau tak paham, Chengxin."

"Apa maksudmu tak paham? Aku juga tidak tahan, tapi aku sudah menahan diriku hingga detik ini, karena kalian semua, karena kita berteman!!" Ia berdiri, memandang mata Yuhang dengan tajam.

"Aku hanya ingin terus menari di atas panggung..."

"Cih."

Jawaban macam apa itu? Omong kosong. Setiap hari dia selalu latihan di ruang dance. Jika ada event, dia selalu mendapat panggung, dengan posisi center pula. Orang yang paling beruntung daripada trainee lain.

Chengxin belum sempat bereaksi apa-apa. Bingung dengan semua ini. Ia tak tahu harus bagaimana. Sudah terlambat untuk menghentikan semua. Lagipula, apa dia bisa menghentikan temannya itu?

"Aku masih tak mengerti..."

"Chengxin, di dunia ini ada banyak pilihan. Ada banyak cara untuk mengejar mimpimu. Kalau kamu mau tetap di sini, silakan."

Suara Yuhang melembut.

"Tapi ini pilihan hidupku..."

Ia memeluk temannya itu. Emosi Chengxin semakin meledak, air mata pun jatuh dari matanya, membasahi kemeja Yuhang.

"Jangan sedih, kita tetap berteman. Kita kan sudah bersama sejak lama. Aku berjanji tak akan melupakan masa-masa yang telah kita jalani."

"Tak apa ge, masih ada kami." Junlin  berbisik untuk menenangkan tangis Chengxin.

Yuhang melepaskan pelukannya ketika emosi Chengxin sudah mereda. Berat rasanya meninggalkan ruangan ini. Ia menghela nafas panjang, mencoba untuk tersenyum, dan memantapkan langkahnya.

"Baiklah, sampai ketemu lagi di atas panggung!" Ia menarik pintu, keluar tanpa menoleh ke belakang lagi.

Bodoh, dengan ringannya dia melangkah keluar tanpa air mata. Rasanya baru kemarin Chengxin berkenalan dengan anak itu.

Ia belum siap dengan realita ini. Rasanya sangat tidak nyata. Memang, sebelumnya juga ada beberapa trainee yang keluar. Tapi baru kali ini, sahabat terbaiknya pergi meninggalkannya sendiri. Rasanya aneh sekali, perasaan Chengxin campur aduk. Marah, sedih, kesal ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Chengxin menatap trainee di dalam ruangan itu. Yuhang telah pergi, adik-adik ini sekarang menjadi tanggung jawabnya. Ia menggeleng dan menghela nafas panjang.

Dulu ia tidak percaya dengan takdir. Tapi ternyata ada hal yang tidak bisa ia hentikan. Begitu menyakitkan, tapi ia harus bisa menerima semuanya. Lagipula, Chengxin tidak akan melupakan ucapan terakhir dari Yuhang. Ya, kalau memang ditakdirkan seperti itu, suatu saat kita pasti akan bertemu lagi di atas panggung.

--- Chapter 1 END ---

Pic cr. KnockOnEffect

Terima kasih telah membaca, tunggu kisah mereka selanjutnya :)

Our Destiny (Hangcheng Stories)Stories to obsess over. Discover now