Prolog

216 48 21
                                        

Teruntuk kamu, sang pemilik kepingan hatiku.

Sungguh, masih teringat jelas dalam memoriku, saat dimana kamu menyambut dengan hangat jemari tanganku sembari tersenyum lebar kepadaku. Kamu memperkenalkan dirimu saat itu juga, wajahmu terlihat begitu canggung ketika itu. Seandainya waktu bisa ku putar kembali, aku tidak menginginkan pertemuan itu terjadi. Pertemuan yang hanya mampu menambah frekuensi rasa sayangku, pertemuan yang hanya mampu membuat diriku selalu kehilangan gairah untuk berbahagia, bahkan, pertemuan yang hanya berakhir dengan sebuah perpisahan, perpisahan yang teramat menyedihkan.

Semenjak kamu memulai pertemuan itu, kita jadi sering menghabiskan waktu bersama, menyatukan berbagai persepsi mengenai dunia. Tanpa kusadari, semakin lama aku menghabiskan waktu bersamamu, maka semakin bertambah pula frekuensi harapku. Sungguh, perihal perasaan tak pernah sedikit pun ku rencanakan.

Bukannya aku hendak menyalahkan pertemuan kita saat itu, namun aku hanya belum sanggup menerima kenyataan bahwa kamu telah pergi meninggalkanku dan membiarkanku tumbuh dewasa bersama kenangan yang telah kita ukir. Mengapa kamu membuka tirai pertemuan itu disaat kamu belum siap untuk memulai? Mengapa kau tega membiarkanku diserbu oleh banyaknya pertanyaan yang bahkan belum sempat kamu tanggapi?

Aku mencintaimu, bahkan sangat mencintaimu, meskipun kamu tak pernah siap untuk memulai. Kenzie, kamu adalah satu satunya orang yang bisa membuat hariku jadi berwarna, kamu adalah satu satunya orang yang bisa membuatku selalu merasa bahagia, tapi di lain sisi aku ingin bertanya, mengapa saat ini kamu pergi meninggalkanku begitu saja? Bahkan kamu pergi sebelum memulai semuanya ken, tolong jelasin semuanya secara rinci, bahkan lebih rinci dibandingkan struk pembayaran dari pusat perbelanjaan.

Kamu harus bicara kepadaku sekarang juga, kamu harus memperjelas segala perihal yang rumit ini, agar hatiku siap ketika kamu hendak pergi, ketika kamu menyelipkan kata 'selamat tinggal' di balik senyum hangat terakhirmu. Bahkan perpisahan kita pun datang secara mendadak, tanpa ada rencana sebelumnya, tanpa adanya alasan yang begitu kuat untuk bisa kuterima.

Terakhir kali aku berbincang denganmu, kamu mengikrarkan janjimu untuk mengajakku menyaksikan senja bersama. Kamu juga berjanji bahwa kamu akan mempersuntingku dan menjadikanku sebagai pencetak keturunan dengan wajah perpaduan antara aku dan kamu, tapi nyatanya kamu malah pergi sebelum kamu mampu merealisasikan janji-janji itu.

Ken, ini adalah salah satu dari sekian ratus surat yang telah aku tulis untukmu, tapi mengapa kamu tak pernah berkenan untuk membalas surat-suratku?

1 hal yang harus kamu ketahui ken, tujuan aku menulis surat ini bukanlah untuk meminta belas kasihan darimu, aku hanya ingin menumpahkan Afeksiku yang belum sempat kuucapkan sewaktu kita masih bersama. Semoga dengan surat ini, kamu bisa mengetahui apa yang sedang aku rasakan, meskipun sangat mustahil jika kamu membalasnya.

-Navila Dayze Lovina-

Lost before startWhere stories live. Discover now