PROLOG

46 1 0
                                        

Berdiri aku ditepi pantai

Berteman deru ombak yang memecah pantai

Angin laut bertiup silir-semilir

Nyiur-nyiur pun melambai

Hatiku damai, hatiku tenang

Menatap kilauan pasir diterpa mentari senja

Berpadu dengan birunya laut

Menyejukkan hati

Aku masih terpaku

Mataku mulai terpejam

Menikmati ombak yang tak putus bersuara

Kubiarkan ombak mengusap

Kedua kakiku seperti menari

Senja saat itu kuhabiskan semua waktuku di pantai. Kalian tau, mengapa orang-orang menyukai pantai? Menurutku pantai adalah tempat yang paling nyaman, serta tempat yang paling teduh. Saat kita di pantai, semua penat yang ada di benak kita seakan menghilang walau hanya untuk sekejap. Pantai adalah perekam memori yang baik. Mengapa dikatakan demikian? Karena kita bisa menikmati keseruan dan ketenangan disana. Setiap langkah kaki yang kita jejakkan, sedikit banyaknya sudah membuat kita menyatu dengan alam dan bisa menyalurkan energi yang positif.

Aku menyukai suasana ini. Aku suka pantai. Pantai selalu berhasil membuatku tenang. Gemuruh ombak, lukisan sang senja diatas awan, sang bayu yang membelai lembut rambutku, nyiur-nyiur menari yang seakan mengisyaratkan bahwa mereka juga menyukaiku, aku suka semua. Mungkin karena sejak kecil keluargaku suka mengajakku ke pantai. Aku jadi semakin akrab dengannya. Lokasi pantai juga tak jauh dari rumahku. Bisa kugapai hanya dengan berjalan kaki. Aku juga seorang pecandu senja, mungkin ada kaitannya dengan namaku, sunny. Yahh bisa dibilang kalau aku saja yang mengaitkannya dengan namaku sesukaku.

"ahhh sudah jam segini, aku harus pulang, kalau nggak, bisa-bisa aku diamuk mama T.T".

Ketika baru saja aku mau berlari ke rumah, evan datang untuk menjemputku.

"hei kecil, masih disini aja, ayo pulang, nyokap sudah nanyain mulu tuh".

"iya evan yang bawel, ini juga mau pulang kok, pasti kamu disuruh mama buat jemput aku ya?"

"iya, sebagai sahabat yang baik, aku beneran jemput si kecil ini kan hahaha".

"bilang aja kamu takut sama mama, iya kan. Ayo ngaku!"

"ahahaha yaudah yok pulang. Entar keburu malem loh, terus....."

"tuh kan beneran takut kena samber mama hahaha".

Sesuai dugaanku, sesampainya dirumah aku serasa tersangka, diinterogasi dengan berbagai macam pertanyaan yang bahkan aku sampai hapal hahaha. Seperti, ini sudah jam berapa? dari mana saja?, kamu nggak apa-apa?, dan bla bla bla. Yahh mungkin wajar saja kalau kedua orang tuaku selalu khawatir padaku, karena penyakitku yang bisa dibilang bukan masalah sepeleh ini.

Sejak aku duduk di bangku smp, aku di diagnosis terkena leukimia. Badanku terlalu lemah untuk beraktivitas layaknya anak seumuranku. Tiap hari hidupku dipenuhi dengan obat-obatan. Aku juga tidak lepas dari dokter dan rumah sakit. Aku juga sering merasakan gangguan kesehatan. Tubuhku sering terlihat memar tanpa alasan. Tapi dibalik itu semua aku hanya mengambil hikmahnya. Kedua orang tuaku tak pernah putus menumpahkan kasih sayang mereka. Mereka selalu memperhatikan pola hidupku, walau terkadang aku sedikit nakal, karena terkadang aku merasa terkekang. Tapi semua itu untuk diriku sendiri, mangkanya sekarang aku hanya ingin menjadi anak yang penurut.

Tepat tanggal 6 juni, hari kelahiranku. Sudah seperti rutinitas tahunan bagiku untuk merayakannya bersama keluarga dan kerabat dekatku di tempat favoritku, pantai. Menghabiskan sehari penuh disana. Melihat terbit dan tenggelamnya sang surya yang selalu hangat menyapa. Serta menikmati nikmat dari Tuhan YME, sebagai bentuk rasa syukur aku bisa menikmati hidup sampai sekarang. Dikelilingi keluarga serta kerabat dekat yang aku sayangi. Tapi ada yang berbeda dengan ulang tahunku yang biasa, tepat dihari terindah itu aku berjumpa dengan kamu. Dipantai ini, di hari ulang tahunku, kisah kita dimulai.


Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Oct 16, 2017 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

DEBUR OMBAKDonde viven las historias. Descúbrelo ahora