Pengkhianatan

8 2 3
                                        

Langit Bonn hari itu begitu kelabu. Aku bahkan sulit mengingat saat itu sore atau mendung menjelang pagi. Yang kuingat, Torsten menatap kosong pada dedaunan jatuh di luar jendela dapur berkusen warna putih gading, sedang aku, di depannya, sibuk mereka-reka mengapa sedari tadi dia justru sibuk mengalihkan pandangannya dariku.

"Machitto, kesukaanmu." Kucoba memecah keheningan. Baru kali ini dia tak peduli pada kopi khas Jerman favoritnya, hanya kembali menatap daun-daun gugur. Ketika akhirnya, Torsten menyeruput kopinya, ia tetap tak bicara sepatah pun. Lima menit, sepuluh menit, keheningan mulai menyiksa. Aku tahu ada yang tidak beres dan Torsten, seperti biasanya, kesulitan mengutarakan. Aku tidak mengerti mengapa bila berhadapan dengan isi hatinya, mulutnya terkunci dan otaknya tiba-tiba menyimpan jutaan data terenkripsi yang tak seorang pun kuasa membukanya kecuali dia.

Aku sudah akan putus asa, berdiri dan mengangkat gelasnya dan gelasku sendiri yang sudah kosong, berjalan menuju wastafel. Napasku mendesah berat, begitu saja. Tiba-tiba Torsten sudah berdiri di belakangku, memelukku pelan dan ragu sambil dagunya bertengger di bahuku. Suaranya begitu berat. "Aku bertemu Katja," katanya.

"Dia sudah tahu tentang kita?"

Torsten mengangguk.

"Kenapa kau seperti orang yang baru melihat setan?" tanyaku sambil tertawa, mengajaknya bercanda seraya memutar tubuhku menghadapnya. Lalu dia bungkam lagi.

"Dia ingin kembali bersama."

"Bukannya dia sendiri yang pergi dan mengatakan semua hanya masa lalu? Sudah hampir tiga tahun berlalu dan ia ingin kembali? Kita hanya tinggal menyebarkan undangan. Apa yang kamu rahasiakan dariku?" tanyaku menelisik, Torsten semakin gelisah.

"Dia mengandung anakku," ucapnya, jantungku seolah melompat dari kerongkonganku. Kulihat kabut berat di wajah Torsten. Mukanya memerah dan Ia menelan ludah yang kering berkali-kali.

"Tapi, dia di Seatle.... Bagaimana mungkin? Apa kalian bertemu lagi tanpa aku tahu?" tanyaku tajam menantangnya, memaksa Torsten menunduk. Aku begitu geram, dadaku siap meledak dan aku kehilangan kendali atas diriku. Tubuhku ingin meronta-ronta menahan sakit yang pecah. Ketika akhirnya aku bisa bertahan pada pinggir meja makan dan menggenggamnya kuat-kuat, kulihat Torsten sedang menatapku dengan tatapan seolah melihat sesuatu yang mengerikan, menanti putusan seorang hakim yang tak kenal ampun.

"Kamu tahu, pezina hanya pantas menikahi yang sederajat dengannya," ucapku dengan bibir gemetar padanya yang mematung di hadapanku. Tangannya berusaha meraih pundakku, membenamkan aku di pelukannya, meredakanku. Tapi, dia mengurungkannya tepat saat matanya menembus rahasia terdalam di hatiku. Dia tahu, kemarahanku hari itu telah memaksanya menyelesaikan semuanya. Kisah cinta kami.



Yang Tertinggal di Langit BonnStories to obsess over. Discover now