Semut-semut berseliweran di tubuhnya tak tahu caranya berduka cita. Lalat-lalat tergeletak kekenyangan. Belatung tersesat dalam labirin daging. Angin mengernyit menahan menyebarkan bau busuk.
Ada yang mati!
Tiga pasang mata bening menutup hidung mengusir lalat dan semut. Belatung memilih tinggal. Tangan-tangan mungil berbagi peran menangani jasad.
Hujan pertanyaan.
"Siapa yang mati, kok tak ada kabar berbisik? Tak ada investigasi polisi. Warga kok pada cuek? Kenapa tiga pasang mata saja yang berduka? Apa hubungan darah diantara mereka?"
Aku belum bisa menjawab.
Intinya ada yang mati!
Hari ini berkabung. Yang mati dikubur tepat di halaman belakang rumah. Namanya "Boy"! Orang tuanya tidak disebut, hanya "Boy" yang tertera di batu nisannya.
Berjibun pertanyaan kembali.
"Kenapa tidak disemayamkan di TPU? Namanya cuma Boy? Siapa orang tuanya?"
Kasihan betul orang itu.
You know what. Ternyata yang mati awalnya masuk rumah tetangga. Kepergok empunya. Dikejar- kejar dan akhirnya mati tergeletak di pinggir jalan di bawah pohon trembesi. Terdapat luka tikaman bertubi-tubi.
"Alamaaakkk...!!! Naas betul nasibnya. Apa tidak ada tetangga yang mendengar teriakannya? Jika di pingir jalan, kenapa tidak ada orang-orang lewat yanh melihat hingga membusuk selama tiga hari?"
Entah, aku tak paham. Ternyata dianggap keluarga sendiri. Aku tak tahu persis ikatan darahnya. Intinya mereka berduka. Kabarnya, salah satu dari mereka mengaku lupa menutup pintu.
"Lupa menutup pintu...???" Kompak kalian bertanya dengan tatapan tercengang.
Kucingnya kabur menemui betuna tetangga sebelah. Kekasihnya cemburu dan mencabik-cabiknya di bawah pohon trembesi di ujung jalan komplek.
Jawabku dengan rasa takut.
"Aaahhhh.... kitain yang mati...??" Kalian jengkel dan kepalaku jadi bulan-bulanan di pos ronda kamis malam itu.
Kucing tetangga ada yang mati! Tertular hate speech karena sering menonton berita hoax bersama majikannya.
YOU ARE READING
Ada yang Mati
HumorGak tau ini tulisan apa, yang penting ikut-ikutan nulis aja lah.
