Jalanan sudah lengang saat Tsumugi menyusurinya dengan langkah gontai. Pandangannya kosong seakan menerawang ke tempat yang sangat jauh. Garis-garis di wajah perempuan cantik berambut pendek itu semakin tampak jelas menyiratkan beban yang teramat sangat bagi sang empunya.
Langkahnya berhenti di depan gedung apartemen kecil di sudut kota Tokyo. Tangan indahnya terhenti di udara sebelum menyentuh bel dengan label nomor 308. Tsumugi tampak ragu dan menurunkan tangannya.
"Yamada tidak menjawab?'' Lamunan Tsumugi buyar mendengar suara seorang perempuan dibelakangnya.
Tsumugi melihat kearah perempuan yang sedang membuka kunci pintu utama gedung apartemen itu.
"Ayo ikut masuk bersamaku''
"Baik, terimakasih bu Ota'', Tsumugi mengikuti perempuan itu masuk ke gedung apartemen.
"Panggil Nao saja, setelah sekian lama masih saja kamu selalu formal'' Nao tersenyum melihat Tsumugi yang diam saja.
Mereka berpisah di depan lift sebelum Tsumugi masuk lift dan kembali mengucapkan terimakasih.
Sampai di depan pintu 308, kembali Tsumugi terdiam. Hatinya ragu untuk mengganggu sahabatnya di waktu yang sudah larut malam seperti ini. Biasanya Yamada lah yang mendatangi apartemennya tengah malam setiap kali terjadi patah hati. Dan itu terulang entah untuk keberapa kalinya.
Yamada si player itu ,gumam Tsumugi sambil tersenyum. Pintu apartemen Yamada diketuk perlahan. Tidak ada jawaban dari dalam. Tsumugi mengetuk kembali, kali ini lebih keras. Tetap tidak ada jawaban.
Sepertinya sudah tidur si brengsek ini, Tsumugi sudah hampir berbalik untuk pulang ketika pintu dibuka dari dalam.
Muncul perempuan dengan wajah baru bangun tidur memakai kaos putih oversized yang hampir menutupi celana pendek yang dikenakannya tampak kaget.
"Eeeeeh, Tsumu?!''
"Hmm''
"Loh, ada apa?''
Tsumugi hanya terdiam
"Eeh, tumben amat, ayo masuk''
Sambil mengikat rambut seadanya, Yamada memandangi Tsumugi,
"Hey, kenapa wajahmu?''
"Hmm?''
"Wajahmu... wa-jah-muu''
"Wajahku?''
"Hee, kamu bukan Tsumugi! Siapa kamu? Kembalikan Hayasakaku yang tampan dan selalu tenang!! Kembalikan!''
"Yamada! Berhenti bercanda. Kepalaku sakit'',Tsumugi sedikit berteriak.
"Whoa whooaa..tenang tenang, aku ambilin minum ya? Mau minum apa?''
"Aku pengen mabuk malam ini''
"Hee..are you serious?''
"Deathly serious''
"Hmm, kamu tahu kalau kamu bisa cerita apa aja ke aku?''
"Ya''
"Kalau begitu mulailah sekarang''
"Aku mau, tapi nggak bisa''
"Ok, take your time. Aku ambilin minum dulu'' Yamada berjalan menuju dapurnya.
"Nagisa''
"Iya kenapa dengannya?''
"Kami putus''
"HAH?!'', Yamada segera kembali ke ruang duduk sambil membawa dua botol absolut cherrys, menatap Tsumugi di sofa sejenak sebelum kembali lagi mengambil gelas dan es batu.
Mereka berbicara berjam-jam hingga kedua botol kosong samasekali.
"Aku..aku sangat mencintainya..mencintainya'', Tsumugi menangis sambil menutupi mukanya yang memerah dengan kedua telapak tangan.
"Tahu kok'' Yamada memandangi Tsumugi,
"Kalian seperti role-model buatku yang bahkan belum pernah benar-benar jatuh cinta''
Tsumugi terus menangis.
Melihatnya, pikiran Yamada seperti berkabut, kepalanya serasa berputar-putar perlahan, anehnya nafas terasa sesak dan ada rasa sakit di dada.
Bukan karena alkohol, pikir Yamada. Ia termasuk peminum yang kuat. Ia belum mabuk.
Semakin melihat Tsumugi seperti itu, dadanya semakin terasa sakit.
Tsumugi menghentikan tangisnya saat tangan Yamada menyentuh bahunya. Matanya melihat kearah tangan itu dan kemudian memandangi Yamada.
Yamada menarik Tsumugi dalam pelukannya.
Tsumugi kembali terisak, namun tidak sekeras sebelumnya.
Sakit di dada Yamada semakin menjadi, detak jantungnya semakin cepat, kepala dan telapak tangannya terasa panas.
Aku belum mabuk, tapi tidak bisa berpikir apa-apa.
Ada sesuatu yang terjadi dalam dirinya. Ia tau ini sahabatnya yang ada dipelukannya, namun tetap saja tubuhnya seakan berkomplot untuk membungkam akal sehatnya.
Ada perasaan nyaman yang muncul perlahan-lahan, seakan tidak peka akan situasi yang ada.
Pikiran Yamada melayang-layang ke sela memorinya, mengingat semua perempuan yang pernah ia sentuh. Memaksa membandingkan untuk mengakui kekalahan memorinya. Belum pernah ia merasa seperti ini dengan siapapun.
Lamunan Yamada terhenti ketika suasana tiba-tiba hening. Tsumugi sudah berhenti menangis. Hanya terdengar bunyi napas mereka berdua.
Melihat Tsumugi sudah tenang, Yamada berani melepaskan senyumnya. Mereka masih berpelukan entah untuk berapa lama. Pikiran Yamada terlalu berkabut untuk mampu mengenali waktu.
Biarlah.
Jika diminta, ia bahkan rela menukar segala waktu untuk saat ini.
Yamada kembali dari lamunannya saat merasakan Tsumugi mempererat pelukannya sesaat. Hanya sesaat sebelum mendongakkan kepala untuk menatapnya.
Yamada balik menatap wajah Tsumugi.
Mata yang berwarna gelap itu seakan berubah menjadi danau tenang yang menenggelamkan Yamada semakin jauh ke dalam pikirannya sendiri. Ia menyentuh pipi dihadapannya dengan telapak tangan kanan, Tsumugi tidak bergerak sedikitpun. Tetap menatapnya.
Bahkan ketika ibu jari Yamada menyentuh bibir yang selama ini dengan terang-terangan ia kagumi bentuk dan warna aslinya,
Tsumugi masih terdiam.
Hingga Yamada sudah tidak mampu berpikir lagi, dan mendekatkan bibirnya ke arah Tsumugi.
Apa ini keberanian?
Atau alkohol?
Atau cinta?
Entah.
Yamada hanya tahu, saat ini wajahnya bisa merasakan napas Tsumugi.
Bibirnya menyentuh bibir Tsumugi, yang terasa kering namun hangat dan lembut. Kedua bibir mereka saling menekan ketika terasa tangan Tsumugi mencengkeram punggung Yamada dan napas mereka semakin cepat hingga Yamada memagut bibir bagian bawah Tsumugi dan melumatnya.
Tangan Tsumugi menelusuri ke dalam kaos yang dikenakan Yamada, menyentuh kulitnya hingga jantungnya seakan terlonjak.
Yamada balas menelusuri leher Tsumugi dengan bibirnya. Wangi parfum yang sudah ia kenal dengan baik ini semakin menghipnotisnya untuk menjelajah lebih jauh kearah bawah.
...
...
Kemudian setelah itu semua terasa kabur.
Hingga Yamada terbangun dalam keadaan bingung, tidak mampu memandang langsung kearah jendela yang sudah terang benerang.
Seperti habis bermimpi panjang, Yamada masih sulit kembali ke dunia nyata. Satu-satunya yang terasa nyata adalah sosok yang masih tertidur dipelukannya. Sama seperti dirinya, tidak mengenakan sehelai pakaianpun.
Tangan kirinya yang tertindih mati rasa, namun ia tak tega membangunkan Tsumugi sahabatnya.
Sahabat. Aneh sekali kedengarannya setelah tadi malam.
Dipandanginya wajah perempuan disebelahnya itu.
Mungkin setelah bangun, Tsumugi akan menganggap ini adalah kesalahan.
Atau mungkin Tsumugi bahkan tidak ingat apa yang terjadi.
Tapi ia tidak peduli.
Yang Yamada sadari, ia mencintai Tsumugi.
Andai diberi kesempatan, ia bersedia menjadi apapun hanya untuk melihat Tsumugi berhenti bersedih.
*TOK TOK TOK*
*TOK TOK TOK*
Mendengar bunyi pintu diketuk, Yamada reflek meraih telepon genggamnya di meja untuk melihat jam, namun perhatiannya tertuju pada pemberitahuan di layarnya.
Ada 12 missed calls!
Sebelum ia sempat melihat siapa yang berusaha meneleponnya, terdengar suara dibalik pintu.
"YAMADA! YAMADAA!"
*TOK TOK TOK TOK*
Otak Yamada sangat lambat memprosesnya.
Suara Naru.
Naru
Naru?
HAH! Pacarku!
Sh!t.
ESTÁS LEYENDO
Ayamachi (Sebuah Kisah Pendek)
FanfictionYamaTsumu fanfic Warning: GxG Mature Content
