1

13 1 0
                                        

Aku sedang terengah-engah berlari mengejar sepupu-sepupu kecilku yang berlebihan energi ketika sudut mataku menangkap kehadirannya. Kemunculannya bagai saat seorang kaisar memasuki ruangan. Membuat suasana hening seketika, menyita semua perhatian agar tertuju padanya. Kecuali, tentu saja, perhatian makhluk-makhluk kecil hiperaktif yang masih tetap berlari sambil berteriak-teriak mengejekku. Hanya saja sekarang aku tak menghiraukan anak-anak kecil itu lagi.
    Opa, begitu aku memanggil kakekku, duduk dikursi rotan favoritnya. Kurasakan tatap mata orang-orang di sekitarku tertuju padanya penuh kekaguman dan rasa sayang. Tapi pandang mata Opa hanya tertuju padaku. Ya, beliau tersenyum dan terus memandangku. Ada rasa hangat yang menjalar melalui nadiku, berlabuh dihatiku. Senyap. Tak seorangpun mengeluarkan suara. Sepupu-sepupu kecilku pun telah menghilang entah kemana. Aku melangkah mendekati Opa.
    Rasanya tak seberapa jauh jarakku berdiri dengan kursi Opa yang bak singgasana, tetapi entah mengapa begitu sulit aku mencapainya. Rasanya kursi Opa terus bergerak mundur. Atau lantainyakah yang berjalan seperti travellator di bandara? Aku berhenti berjalan seakan berharap dengan keajaiban aku akan langsung sampai dihadapan Opa. Atau malah kursi Opa yang bergerak menujuku. Tapi Opa masih tetap diposisinya. Tersenyum dan memandangku sayang.
    "Opa...," panggilku.
    Tiba-tiba batinku didesaki perasaan rindu. Kenapa tiba-tiba aku merasa sangat rindu pada kakekku bagaikan telah lama tidak berjumpa?
    Rasanya ada yang salah tapi apa?
    Rinduku semakin membuncah.
    "Opa!" panggilku lagi, kembali berjalan menghampirinya. Senyum Opa melebar. Tapi kenapa rasanya bayangannya semakin kabur?
    Ah!
    Seketika aku menghentikan langkah.
    Sekarang aku tahu mengapa rasanya ada yang tidak pada tempatnya dan mengapa rasa rindu ini menyerangku begitu kuat. Akhirnya aku sadar. Kenapa Opa bisa berada disini? Bersama kami lagi? Bukankah Opa telah lama meninggal dunia? Apakah aku bermimpi? Ini pasti mimpi!
    Tapi kalau bukan dimimpi, dimana lagi aku bisa bertemu Opa? Aku tak peduli walau ini tak nyata. Aku berlari kearahnya.
    "Opa! Zahra kangen!"
    Tapi Opa masih tetap sulit diraih. Ekspresi wajah Opa pun berubah. Senyumnya meghilang, tapi matanya masih bersinar hangat. Ia melambaikan tangannya padaku.
    "Zahra... Carikan bumu kecil Opa!"
    Eh, Opa bicara kepadaku! Apa katanya tadi?
    "Apa, Opa?"
    "Carikan buku kecil Opa!"
    Buku kecil? Buku kecil apa?
    Belum sempat bertanya lagi, aku tersenrak, kembali kealam nyata. Aku terbangun dan melihar sekelilingku. Kamarku masih gelap. Kemana Opa?
    Sunyi. Hanya detak jam dinding yang sedikit memberi variasi dari kepekatan kamarku. Dadaku masih terasa hangat oleh rindu. Rindu yang terpuaskan walau hanya dalam mimpi. Aku masih dapat membayangkan sosok dan senyum Opa.
    Tapi apa yang Opa minta tadi? Kenapa Opa meminta aku mencarikan buku kecilnya? Buku kecil yang mana?

A Message Of LoveHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora