Sebut saja namaku Serly, saat kisah nyata ini terjadi, aku berusia 14 tahun. Kisahku ini mungkin aneh, saat itu aku jatuh cinta pada seseorang sebut saja namanya Indra. Dia itu adalah kakak kelasku saat aku masih sekolah di SMP yang sama dengan dia. Namun ketika aku kelas tiga, dia lulus sekolah dan pindah ke kota lain.
Rupanya takdir telah mempertemukan kami kembali di sekolah yang sama, tepatnya saat menempuh pendidikan SMA . Dan satu hal yang masih aku bawa dalam hati, aku jatuh cinta padanya. Ketika masih duduk di bangku sekolah SMP, kadang aku curi-curi pandang kepadanya saat jam istirahat.
Kadang aku sengaja pamit ke toilet, oleh sebab hanya untuk melihatnya yang sedang bermain bola. Walaupun hanya menatapnya selama beberapa detik, rasanya kebahagiaanku penuh sepanjang hari. Remaja selalu malu untuk mengungkapkan isi hatinya, apalagi aku yang memang punya sifat pemalu dari dulu. Hampir tidak ada sedikitpun sinyal cinta yang aku kirimkan kepadanya.
Aku tidak seberani para sahabatku yang bisa titip salam atau langsung mengatakan suka pada cowok yang mereka suka. Karena itu yang aku lakukan hanya memendam perasaanku.
Mungkin ini masih bisa dibilang cinta monyet, yang nanti akan memudar seiring berjalannya waktu. Hingga pada suatu saat, aku akan merasakan jatuh cinta yang lebih serius dengan pria lain. Namun nyatanya perkiraanku salah. Meskipun saat SMA aku sempat berpacaran dengan pria lain, namun aku tetap meletakkan kenangan akan Indra dalam hatiku.
Singkat cerita, saat aku mengambil jurusan ipa, aku bertemu kembali dengan Indra. Takdir tersebut seolah mengembalikan perasaan yang telah terpendam sejak dulu. Hatiku kembali berdetak, kembali terkenang akan indahnya jatuh cinta walaupun hanya dengan menatap kedua matanya. Perasaan yang tidak pernah aku rasakan dengan pria lain. Beberapa kali kami berada di kelas yang sama.
Dia masih Indra yang ramah dan suka bercanda. Hubungan kami tetap dekat, tapi tetap saja, tidak ada keberanian untuk mengungkapkan rasa cintaku ini kepadanya. Bagaimana aku bisa menyatakan perasaanku, sedangkan masih ada pria lain yang masih menjadi pacarku. Egois memang, aku bahkan sering merasa bersalah pada pria itu, tetapi aku tidak bisa membohongi perasaan hatiku ini.
Jika saja Indra suka padaku kemudian mengajakku untuk jadi kekasihnya, pasti akan aku terima.
Sayangnya, takdir yang mempertemukan kami harus berakhir karena ada kejadian yang tidak aku harapkan. Suatu hari, di sebuah musim penghujan di pertengahan bulan November, Indra mengalami sebuah kecelakaan. Selama dua hari dia dirawat di UGD, tapi takdir berkata lain nyawanya sudah tidak bisa tertolong. Dia pergi untuk selamanya. Duniaku pun terasa hancur, hatiku seakan-akan menjerit atas kepergiannya, seolah ada bagian tubuhku yang menghilang.
Saat aku hadir ke pemakamannya, aku turut hadir juga dalam setiap acara doa yang dilakukan keluarganya disetiap malam. Sejenak aku melihat ratapan tangis dari ibunya, hingga acaranya tidak terasa telah selesai. Setelah para tamu pulang, terdengar ada suara wanita yang menyapaku, "Mbak, mbak ini temannya Indra saat masih sekolah di SMP, yang namanya Serly kan?" ujar wanita itu. Setelah aku melihat ke samping, ternyata wanita itu adalah ibunya.
Aku mengangguk, lalu wanita itu mengajakku ke ruangan yang lain, dan menurutku ruangan ini adalah kamarnya Indra. Wanita itu kemudian bercerita tentang anaknya yang berhubungan denganku. Dia pun berkata "Anak ibu dulu pernah bilang bahwa dia suka dengan nak Serly, dan cinta," lanjutnya.
Detik demi detik berlalu, aku mendengarkan dengan serius cerita dari ibunya Indra bahwa anaknya ternyata telah lama memendam perasaan cinta. Dan ternyata selama ini Indra melakukan hal yang sama denganku, diam-diam merahasiakan perasaan yang dia rasakan kepadaku. Dan juga hal itu dipendamnya sejak masih di bangku sekolah SMP.
"Beberapa hari yang lalu Indra pernah bilang pada ibu, bahwa sekarang Serly telah punya pacar, dan mungkin harus menunggu nak Serly putus dulu nanti, baru dia berani jujur untuk berkata kepada nak Serly," lanjut ibu Indra sambil sesekali meneteskan air matanya. Akupun tidak kuasa menahan air mataku, hingga aku menangis di pelukan ibunya Indra, setelah mendengar cerita itu.
Aku menyesal, sangat menyesal sekali. Aku tidak sempat mengatakan bagaimana perasaan yang aku rasakan padanya. Hingga sekarang ini, rasa penyesalan itu masih terasa di diriku. Masih mengganjal di dalam lubuk hatiku yang terdalam. Dan bahkan jauh lebih berat jika dibandingkan saat Indra masih hidup.
