Yunjae
.
GS
.
No edit
.
Chap One
.
.
.
"karena masa pendekatan lebih indah, yang ku rindukan mungkin bukan dia namun waktu yang telah terlewati bersamanya."
Bibir semerah cerry itu kembali terkatup. Mata bulatnya menatap nanar sosok disebrang jalan dari balik jendela j'holic coffe shop.
"kau menyesal berpisah dengannya?"
Junsu menatap lekat sosok dihadapannya. Ia tak paham berapakali pun memikirkannya. Alasan yang menjadi perpisahan sahabatnya.
Jika masih suka kenapa berpisah?
"entahlah. Terkadang aku masih merindukannya. Kau tau jun-chan orang bilang jangka move on itu sekitar 6 bulanan."
Junsu menghela nafas. "dan orang bilang move on bisa lebih cepat dengan jatuh cinta lagi."
Gemas dengan sahabatnya. Junsu menyantap cake dihadapannya dengan rakus. Mengundang tawa diwajah cantik jaejoong.
.
.
Membaca pesan diponselnya sekali lagi.
Bogoshipo. Aku tau kau marah padaku saat ini. Maaf kan aku luv. Love u.
Tes
Tes
Tes
Kata cinta itu jarang sekali ia dengar dulu. Jika di ingat lagi selama bersama terhitung berapa kali bibir hati itu berucap kata cinta.
'kalau sering kau dengar akan terasa hambar.'
Kalimat itu kerap ia dengar jika meminta kekasihnya untuk lebih sering mengatakan cinta.
'dibanding perkataan cinta. Aku ingin membuktikannya lewat perbuatan.'
Ah ia masih mengingatnya. Tatapan hangat dari mata setajam musang miliki sang kekasih. Penuh tekad dan keseriusan untuk menyakinkan saat ia menuduh tak benar-benar menyukainya.
sekarang semuaa itu hanyalah kenangan semu. Semua sudah berakhir.
.
.
Srtt
Jantungnya berpacu cepat kala tangannya ditarik mendadak memasuki sebuah ruang kelas yang kosong.
Jaejoong hendak berteriak jika saja tak mengenali aroma tubuh yang familiar di indra penciumannya.
"lepas."
Kedua lengan kekar itu menghimpitnya, membuat tubuh jaejoong tak bisa menjauh.
"mianhe, luv. Kau boleh memukulku. Berteriak padaku atau apapun itu asal jangan biarkan kita berpisah."
Tubuh tegap itu memeluk begitu erat. Seolah takut jika sedikit saja pelukannya longgar maka ia akan kehilangan segalanya.
"aku sudah tak bisa marah. Tenagaku sudah habis."
Suara yang dulu selalu berseru penuh semangat kini terdengar lemah dan terasa dingin.
"yun, sudah terlambat." Lanjutnya lirih.
"kau tau hal apa yang paling tidak bisa ku maafkan. Dan kau melanggarnya."
Dekapan itu melemah. Ia tau bahwa kekasih cantiknya atau mantan kekasihnya bukanlah orang yang sulit memaafkan orang. Namun, bukan berarti bisa memaafkan perbuatannya dengan mudah.
Ia paham. Sangat. Bagaimana watak si cantik.
Tapi, dapatkah ia berharap?
Satu kesempatan lagi.
"ini bukan yang pertama. Aku selalu memaafkanmu sebelumnya. Namun kali ini aku tidak bisa sekalipun aku ingin."
Badan yunho terasa tak memiliki tenaga lagi mendengarnya.
" Jung yunho. Berhentilah berusaha untuk apa yang sudah kau sia-siakan. Aku harap setelah menyelesaikan pendidikan, kita tak bertemu lagi. Aku harap takdir tak bercanda dengan mempertemukan kita lagi dikemudian hari."
Bisikan kalimat panjang dari jaejoong membuat seluruh tubuh yunho membeku.
Tidak.
Hatinya menjerit tidak rela namun tak ada satu katapun keluar dari bibir hatinya.
Bahkan setelah sosok jaejoong berlalu. Tubuhnya masih terasa kaku.
Air mata membasahi kedua pipinya. Kata menyesal saja tak mampu menggambarkan raasanya saat ini.
"mianhe." ujarnya berulang bagai mantra.
.
.
Epilog (Tiga tahun lalu)
.
.
Deg
Matanya terpaku pada sosok didepan sana. Yeoja dengan kulit seputih salju. Dan mata doe nya yang indah. Tengah tersenyum lepas dihadapan seorang anak kecil.
Entah apa yang membuatnya begitu terlihat bahagia.
Ia kagum melihat tawa yang jarang diperlihatkan si cantik bermata doe itu.
Teman-temannya sering mengatakan kalau gadis manis yang bernama kim jaejoong itu cantik. Namun yeoja itu, cukup sulit didekati selain itu ia juga jarang tersenyum.
Awalnya ia pikir sombong. Namun setelah memperhatikan. Yeoja itu seperti tak bisa menyampaikan keinginannya dengan baik.
Dah hari itu untuk pertama kalinya jantungnya berpacu begitu cepat. Menggila.
.
.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Hug Me (don't let me cry)
Fiksi PenggemarRasa yang lebih berbahaya dari cinta adalah nyaman. Sering kali kenyataan tak sejalan dengan harapan. Setelah pernyataan penuh rasa maka kata maaf adalah hal yang tak ingin didengar. Cinta itu saling percaya, namun kepercayaan itu mulai melukai. l...
