~Gadis Brilian dari Gunung~

7 1 0
                                        

Lisa Melda Riyanti,begitulah nama panjang pemberian alamarhumah neneknya sejak ia lahir,15 tahun yang lalu.Postur tubunya yang bisa dibilang keturunan model kelas atas,kulitnya yang manis sawo matang,dan jari-jarinya yang lentik,serta bibirnya yang begitu mudah tersenyum,itulah kesan pertama yang pasti akan dirasakan ataupun dilihat setiap orang yang berjumpa dengannya.Belum lagi, Lisa memiliki otak cerdas,yang menambah pesona dirinya.
Dia tinggal di sebuah desa,di dekat gunung, yang cukup jauh dari desaku.Pernah suatu ketika,aku datang ke rumahnya untuk mengambil buku catatan matematika milikku ,karena jadwal Ulangan Kenaikan Kelas esok harinya adalah matematika dan Pendidikan Kewarganegaraan.Begitulah Lisa,dibalik pesonanya,dia memang sering sedikit ceroboh,tapi aku tetap menghargainya,sebagai sahabat yang selama di Sekolah Menengah Pertama ini selalu satu kelas denganku.
Anak semata wayang.Ituah julukan untuknya.Karena memang Lisa tak bersaudara kandung.Bapak Ibu Lisa masih terlihat muda dan segar,sama seperti kedua orang tuaku.Keluarga merekapun tampak harmonis,dan selalu ramah dengan setiap orang.Hingga suatu pagi saat di sekolah,sebelum bel masuk otomatis berbunyi.Lisa berjalan melewati bangku ku, yang saat itu aku sedang asik membaca novel Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata,penulis idolaku.Mata gadis cantik itu sembab,mulutnya pucat,tak se pink biasanya.Begitupun dengan cara berjalannya,gontai tak beraturan.Krena sesekali dia menabrak kursi kosong ,yang mungkin temanku yang duduk disitu belum datang.
"Lisa,apakah kau baik-baik saja?",sahutku padanya.Kumasukkan novel Edensor (novel ketiga Laskar Pelangi) ke dalam tas biru lautku,lalu menuju ke bangku Lisa yang jauh di belakang.
"Hiks... hiks...",Lisa sesenggukan ketika aku telah duduk di sampingnya."Kau kenapa,Lis?",aku mengusap punggungnya.
"Aku berharap kau bisa jaga ceritaku ini,bisa kan ,Azza?",Lisa mengusap air matanya,dan perlahan menoleh ke arahku,setelah dari tadi dia menunduk,seolah melampiaskan kesedihannya dengan lantai kelas kami.
"Ceritalah,akan kusimpan baik-baik,aku adalah sahabatmu selama ini,jadi..."
"Orang tuaku tak bersama lagi",potong Lisa.
Aku tersentak kaget,mataku melotot bagaikan ikan di laut yang kehilangan induknya.Tulang tubuhku terasa runtuh satu per satu.Bibirku terkunci rapat-rapat.Otakku tak terkendali.Aku tak percaya ini."Benarkah,Lisa?",tanpa kusadari air mataku menetes.Lisa mengangguk pelan,tangisnya semakin tak terkendali.Hingga teman-teman berhamburan masuk ke dalam kelas,karena bel masuk telah terdengar.Aku yang saat itu masih mematung di samping Lisa,tiba-tiba Dina mengagetkanku karena aku menempati tempat duduknya.Lisa mengusap air matanya,untuk berusaha menutupi masalah yang dialaminya.Tubuh ini berjalan lemas menuju bangku depan.Aku tak bisa fokus belajar hari itu.Dan aku tak bisa menggambarkan bagaimana perasaan Lisa,anak semata wayang cerdas yang mengalami broken home. 
***
Semua berawal ketika suatu malam ayah Lisa pulang kerja...
"Lisa sudah tidur,Bu?",Tanya Pak Herman sembari menyalakan televisi,dan meminum kopi yang tampaknya telah dipersiapkan istri tercintanya,Bu Herman,Ibu Lisa.
"Sudah Pak,tumben tanyanya kok begitu?"
"Kemarilah!",perintah Pak Herman pada Bu Herman yang saat itu tengah sibuk menjahit baju pesanan tetangga.
"Baiklah"Bu Herman ternyesum ramah,ia terlihat semakin cantik saja.
"Aku ingin pergi,pergi jauh,kita sudahi semuanya,aku tak tahan lagi hidup denganmu,hanya tak tahan denganmu,lain lagi dengan Lisa",jelas Pak Herman dengan wajah dingin,dan sama sekali tak merasa bersalah.
Bu Herman tak berkata sepatah kata pun,setelah mendengar penjelasan singkat Pak Herman,ia langsung masuk ke dalam kamarnya,dan "BRAAAKKK!",terdengar suara pintu yang di banting penuh amarah.Pak Herman sedikit kaget memang,tapi setelahnya,dia hanya mengangkat alis masa bodoh.Dan Televisi dimatikannya,lalu tidur di karpet ruang tengah.
***
Kejadian itu terjadi beberapa bulan sebelum aku dan Lisa mengikuti seleksi beasiswa SMA luar kota itu.Lisa sempat Shock berat beberapa minggu,hinga sering juga tak masuk sekolah,ada kabar pula dirinya sakit,hingga prestasinya turun.Biasanya,di pelajaran fisika,Lisa mendapat nilai tertinggi saat ulangan.Dan aku selalu pas di bawahnya,tapi setelah peristiwa tak pantas itu datang ke kehidupannya,nilainya acak adul.Bahkan ketika ulangan Fisika,nilainya berada di bawahku.
Banyak orang bilang,Lisa adalah gadis yang tak mudah menangis,periang,aktif,dan mudah menyembunyikan masalah.Sehingga,di kelas ini hanya aku yang tahu masalah besar yang menimpa keluarga Lisa,sejak pagi itu dia mengabarkannya padaku.Ternyata ibu Lisa yang memberitahu semuanya pada Lisa ,sebelum dia berangkat sekolah.Karena Lisa iseng bertanya mengapa ayahnya belum juga pulang.Dan ternyata juga ayahnya meninggalkan rumah sejak malam itu,dan belum kembali hingga sekarang.
"Sahabat yang baik adalah sahabat yang senantiasa memberi semangat,ketika sahabatnya tertimpa masalah,entah itu besar ataupun kecil",Nasihat ibu selalu kuingat,setelah aku menceritakan masalah Lisa pada ibuku,yang setahuku juga kenal dekat dengan Bu Herman.Semenjak hari itu,aku selalu mendukung,menyemangati,dan menghibur Lisa,karena aku tahu,aku dan Lisa akan mengikuti seleksi.
Setelah beberapa minggu Lisa murung,dan aku terus menyemangatinya,satu minggu sebelum seleksi,dia telah kembali menjadi Lisa yang dulu,Lisa yang ceria.Dan bagiku,Lisa adalah gadis brilian dari gunung.
***

Menanti Kabar MentariStories to obsess over. Discover now