"Selamat sore pemirsa, sampai jumpa di acara selanjutnya, bersama saya Elizabeth." Ucap pembawa acara ternama di negara Menara Eiffel.
"CUT! Bagus El.. kau yang terbaik.." ucap seorang sutradara. "Kau ini bicara apa? Aku tak akan sampai disini tanpa kau juga bukan?" Keduanya terkekeh.
"Elizabeth.." panggil seorang gadis. "Hei Azura... sudah lama disini?" Tanya Elizabeth. "Tidak juga.. aku baru pulang kerja, aku pikir kamu belum sampai apartemen jadi aku kemari." Jawab Azura. "Yayayaya.. aku tau... hari pertama menjadi sekretaris CEO bukan hal yang mudah, tapi kamu selalu meluangkan waktu untuk menjemputku.. kamu memang teman yang baik Azura.." Puji Elizabeth.
"Hentikan omong kosongmu. Jika kau sudah selesai dengan urusanmu maka ayo kita pulang." Ajak Azura yang masih lengkap dengan pakaian ala sekertaris CEO. "Tunggu aku.. tunggu.." Elizabeth mengambil tasnya "Hei kau! Aku pulang dulu oke? See you!" Azura jalan lebih dulu meninggalkan Elizabeth. "Gadis itu selalu merepotkan aku saja, dia pikir jika aku tidak menyusulnya dia akan pulang dengan selamat? Hah! Aku yakin dia akan pulang dengan selamat setelah 5 hari tersesat di kota Paris." Azura mempercepat jalannya. "Hei! Kau! Ahh Azura! Tunggu!!" Elizabeth berlari mengejar Azura.
"Azuraa!" Panggil Elizabeth.
"Apa lagi?" Tanya Azura. "Kau meninggalkanku, nanti jika aku tersesat bagaimana?" Jawab Elizabeth. "Wah.. itu ide yang bagus, apartemenku menjadi lebih luas bukan?" Saut Azura.
"Taxi!" Panggil Elizabeth. Azura dan Elizabeth mulai memasuki Taxi. "Azura, bagaimana hari pertamamu? Kau bertemu dengan bosmu?" Tanya Elizabeth. "Tidak, aku belum bertemu dengannya, direktur perusahaan bilang kepadaku jika dia pergi berlibur dengan ibunya ke Amerika, dan sekretaris dari perusahaan itu tengah hamil, sebentar lagi dia akan melahirkan. Mungkin karena itu dia menerimaku menjadi sekertaris." Jelas Azura. "Hmm lalu bagaimana caranya kau menghubungi CEO-mu? Kau punya nomor telfon atau semacamnya?" Elizabeth kembali bertanya. "Iya sejenis itu.. aku hanya boleh menghubunginya lewat telepon di kantor, aku tak punya nomor telfonnya." Jawab Azura.
"Kenapa begitu?"
"Karena direktur bilang nomor pribadi CEO memang dirahasiakan, hanya orang- orang terpilihlah yang memiliki nomor ponselnya. Hmm dasar orang kaya.." Balas Azura.
"Hei zu.. jangan bersedih, suatu saat ketika Bosmu kembali kau akan bisa memberinya 100 tumpuk tugas yang terlewatkan selama dia berlibur. Hahaha." Elizabeth tertawa karena menurutnya itu ide yang sangat bagus.
"Aku setuju. Tapi bagaimana kalau dia membagi 100 tumpuk tugasnya padaku?" Tanya Azura sinis. Elizabeth langsung terdiam karena petkataan Azura ada benarnya.
Setelah sampai, Elizabeth membayar taxi dan masuk kedalam apartemen Azura. Azura terduduk lelah di sofa Apartemen nya.
"Aku ingin mandi duluan, badanku lengket." Ucap Elizabeth.
"Hmm pergilah."
Kriing.. kringg
Handphone Azura berbunyi menandakan ada yang menelpon.
Si pengganggu bodoh's
Calling...
"Yaah sudah kutebak orang ini yang menelfon." Azura sudah menduga direktur kantornya sekaligus teman masa kecilnya lah yang menelponnya. Azura memutuskan untuk menekan tombol hijau dilayarnya.
"Hm?"
"Hei kau jutek sekali.. aku ingin jalan- jalan keluar.. aku BOSAN"
"Aku lelah Al.. berhentilah menelpon ketika aku lelah.."
"Waah hari pertama sekertaris CEO ternama hm? Bagaimana harimu?"
"Tidak begitu buruk."
"Aku tak melihatmu dikantor, kau dimana?"
