Aku terbangun ketika alarm handphoneku meraung-raung seperti mesin penggiling padi tua. Dengan gerak malas aku meraihnya di meja, samping tempat tidurku. “Wuah! Aku masih ngantuk”, kataku lirih sembari berjalan gontai menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, dan kemudian shalat tahajjud. Hari ini adalah hari pengumuman seleksi tahap satu beasiswa SMA luar kota yang beberapa hari lalu aku ikuti. Pengumuman akan disampaikan melalui SMS ke nomor HP guru siswa. aku cukup yakin akan lolos di tahap awal ini, karena administrasi tak ada yang terlewati dan masih ketambahan piagam penghargaan seadanya.
***
Beberapa hari lalu duniaku tampak sibuk, sesibuk barisan semut yang mencari makan, atau mungkin bahkan sesibuk para pejabat negeri ini yang kesana kemari mengatasi berbagai permasalahan rakyat, persoalan politik, hingga problematika individual mereka.
"Sudahkah siap semuanya?",tiba-tiba suara ibu mengagetkanku yang tengah konsentrasi penuh meneliti berkas pendaftaran.
"E...eh ,Sepertinya sudah semua,Bu,InsyaAllah",balasku sedikit tak terkendali. "Yasudah,tidurlah,semoga kau lolos",tangan halus ibuku terasa bergerak-gerak mengusap rambutku yang tergerai panjang. Jam menunjukkan pukul 10:00 malam.
"Baik,Bu,amin",ku kecup kening wanita yang sangat kusayangi itu.
***
Kusingkap tirai jendela kamarku,dan kemudian seberkas cahaya mentari menyapa pagiku dengan ramahnya. Aku tersenyum.
Lancarkanlah,Ya Allah",sedikit do'a di pagi hari membuatku tenang.Aku mandi,berganti seragam OSIS SMP tercinta,kuambil sepeda onthel yang dibelikan ayahku satu tahun lalu,dan aku siap menyambut hari ini.
"Hai Azza!",terdengar teriakan dari kejauhan di belakang memanggil namaku,dan benar,dia Lisa,teman karibku yang juga mengikuti seleksi ini.
"Eh iyaaa,Halo,Lisa!",kulambaikan tangan padanya,dia berlari menujuku yang saat itu baru saja akan memasuki pintu kelas. Gadis berjilbab itu tampak begitu mempesona,postur tubuhnya bak model. "Bagaimana,siap?",tanyanya tiba-tiba sambil mengedipkan sebelah mataya,dia tampak semakin cantik."Siap,InsyaAllah. Ayo ke kelas! setelah ini kita harus segera memeberikan berkas ke guru BK,kan?",balasku seketika ,dan kemudian kami berjalan beriringan.Seolah ada lem yang merekatkan , akur,seakur saudara sedarah.
***
Pengumuman akan disampaikan pagi ini melalui SMS ke nomor HP guru siswa,aku cukup yakin akan lolos di tahap awal ini,karena administrasi tak ada yang terlewati,dan masih ketambahan piagam penghargaan seadanya.Ada dua pilihan ,jika pagi ini guruku mendapat SMS masuk,itu tandanya aku lolos,dan sebaliknya.
Pak Zaen,begitu panggilan akrabnya,nama aslinya adalah Ahmad Zaenuri,seorang guru BK sekaligus guru paling tua di SMP ku.Sikapnya yang supel,loyal,dan humor menjadi sebab utama sebagian besar siswa menyukainya,walaupun kadang juga galak,saat memberi hukuman pada siswa yang melanggar aturan sekolah.
Awal mulanya,rumah beliau berada di kampung sebelah,tapi karena sepertinya ada masalah keluarga yang cukup berat,beliau sekeluarga pindah,mengontrak rumah,dan alangkah kebetulannya,rumah yang dikontrak berada di samping rumahku.
Entah mengapa sampai aku di sekolah,tak terdengar kabar diterima,hatiku terasa tak tenang sama sekali,dan padahal pukul 08:00 pagi nanti para siswa yang dierima harus mengikuti seleksi tahap kedua.Kulihat sekilas jam tangan pink yang melingkar di tanganku,jam menunjukkan pukul 07:30 WIB.Saat itu aku sedang mengikuti jam matematika ketika tiba-tiba Pak Zaen mengetuk pintu kelas,memanggil aku dan Lisa,hanya kami berdua,karena memang kami berdualah yang minat mengikuti seleksi.
"Bagaimana ,Pak?" tanya Lisa.
"Entahlah,sampai sekarang belum ada pemberitahuan dari pihak SMA itu,dan lebih baik kita berangkat ke tempat seleksi",balas Pak Zaen. Kami bertiga mempercepat jalan kami,dan berangkat.Aku tak berkata apa-apa sejak dari tadi pagi hingga kami bertiga sampai di tempat seleksi pukul 09:00 WIB.Jarak sekolahku dan tempat seleksi kira-kira 21 km,cukup terasa jauh untuk situasi yang seperti ini.
Suasana sepi,mencekam,dan perlahan keringat dingin menetes halus dari pelipisku.Kami berjalan sangat cepat,dan kulihat dari kejauhan tampak beberapa guru berseragam Batik Tulis.Selang 3 menit,kami sampai di depan sebuah ruangan,yang di dalamnya tengah dilaksanakannya seleksi tertulis.Perhatianku tertuju pada seseorang,yang memang lama ku kenal,namun sekedar kenal namanya,dan aku tak tahu entah dia mengenalku atau tidak.Dia duduk di kursi terdepan,dan terlihat serius mengerjakan soal tes.Ada sedikit rasa tak suka yang muncul dalam diriku.Aku merasa ada pihak yang sengaja pilih kasih,karena setahuku dia memang siswa dari sekolah favorit di kota kami.
"Dari SMP mana ,Dek?",tanya seorang guru perempuan berbedak tebal yang seketika membuyarkan lamunanku.
"SMP Bhakti Bangsa,Bu",balasku tanpa ekspresi sedikitpun.
"Loh,mengapa tidak langsung masuk saja,seleksi tertulis sudah dimulai dari tadi",katanya dengan sedikit raut khawatir di wajah putihnya.
"Eh maaf bu,kamikemari untuk meminta klarifikasi penerimaan seleksi adminitrasi,saya cukup yakin murid-murid saya bisa lolos seleksi yang cukup mudah ini,tapi mengapa belum ada SMS masuk tadi pagi",suara berat itu terdengar memotong pembicaraanku dan ibu tadi.Rupanya Pak Zaen dari tadi menguping,atau memang tak sengaja mendengar.
"Itu berarti memang tidak lolos pak,soalnya tadi pagi-pagi benar di HP saya sudah ada SMS masuk",balas ibu itu sambil menunjukkan SMS dari pihak SMA yang ada di layar HP mewah bermerk Samsung S6 nya.
"Oh,begitu?"
"iya pak"
"Yasudah terimakasih,Bu"
"Iya sama-sama"
Kulihat Pak Zaen berjalan meninggalkanku yang tengah bingung,apalagi Lisa yang sedari tadi terpaku di sampingku,Pak Zaen tampak tak peduli dengan guru-guru yang berbisik,yang tersenyum mengejek,dan yang sama sekali tak peduli keadaannya.Sejurus kemudiam,kulihat beliau berbincang pelan dengan seorang pengawas tes,lalu selesai,dan mengajak kami pulang.
"Bersabarlah,semoga ada hikmah di balik ini",kata Pak Zaen sedikit lesu.
Aku dan Lisa menjawab hampir bersamaan,"Baik,Pak".
20 km lagi kami akan sampai di sekolah,mobil sedan hitam milik Pak Zaen melaju dengan cepatnya.Tak terasa air mata ku menetes,dan segera kuusap "Mengapa ini terjadi pada kami,kami yang memiliki cita-cita tinggi,kami yang berjuang dan belajar sangat keras",batinku dalam hati.Karena mobil ini melaju cepat,tidak sampai satu jam kami sampai.Ya,kami sampai di sekolah ketika HP Pak Zaen berdering menunjukkan ada panggilan masuk.
"Halo?"
"Iya,bagaimana,Bu?",rupanya beliau tadi sempat meminta nomor HP pengawas tes.
"Oh begitu,terimakasih",Pak Zaen menyungging senyum dan putar balik.
"Ada apa ,Pak",sahut Lisa sedikit bingung.
"Kalian diterima!",Pak Zaen tertawa bangga.
"Kok bisa ya,Pak?",aku menyahut.
"Tentu bisa,ternyata berkas pendaftaran kalian belum terkoreksi,dan baru saja pengawas tadi mengoreksinya,dan kalian positif lolos seleksi tahap satu ini"
Aku dan Lisa tersenyum bangga.
***
Tak masalah kami menaklukkan jalan raya 63 km,asal pada akhirnya kita bisa mengikuti seleksi tahap dua,dimana terdiri dari seleksi tertulis,interview dengan bahasa inggris,dan diskusi kelompok.
Sepanjang perjalanan putar balik kami,entah mengapa di pikiranku hanya ada dia,leleaki yang tadi terlihat serius mengerjakan soal tes.Dibalik rasa tak sukaku pada gayanya,dan prasangka burukku terhadapnya,aku merasakan ada sedikit desiran halus,juga sebercak kagum yang sepertinya membuatku selalu memikirkannya.
"Astagfirullah",batinku tersadar.
Keringat dingin menetes
Jantung berdetak kencang ,dan semakin kencang
Kakiku melangkah gemetar
Aku,Lisa,dan Pak Zaen telah sampai lagi di tempat tadi.Sepertinya tes tertulis telah selesai di laksanakan,para guru serta para siswa (pintar) tengah berada di luar ruanagn,ada yang duduk santai,berbincang,membaca buku,dan aku melihat dia,dia yang tadi kupikirkan,sedang asik mengobrol dengan teman-temannya.
Hingga sore kami bertiga baru bisa pulang,karena memang aku dan Lisa harus menyusul tes tertulis."Syukur Alhamdulillah",batinku senang .Lisa berjalan di sampingku,begitu pula dengan Pak Zaen,aku merasa bangga atas totalitas dukungan dari guru favoritku ini."Biarlah waktu ang menjawab,kita tunggu hasilnya saja ya,Za.Ini seleksi akhir",Lisa mencairkan suasana."Hmm,iya.Kita tunggu Maret mendatang,4 bulan lagi,Lisa",kataku.Lisa mengangguk,Pak Zein hanya menoleh dan tersenyum untuk kami berdua.
***
YOU ARE READING
Menanti Kabar Mentari
RomanceBeberapa hal terjadi secara tak sengaja. Hingga mentari terlelap, Aku menunggu.
