Air Mata di Senja hari

68 9 14
                                        

Kegelisahan mengikuti setiap langkah Nagisa. Jangtungnya berdegup kencang, tangannya bergetar hebat, nafasnya tidak beraturan.

Ia terlambat untuk pulang.

Bagi anak normal mungkin ini adalah hal biasa,tapi tidak bagi gadi- maksudku,lelaki bersurai baby blue tersebut.

Pikirannya terpenuhi ketakutan. Ia bagai berjalan di sehelai benang yang berujung sebuah jarum besi. Dan tanpa ia sadari...

Ia sampai di rumahnya.

Dengan takut ia membuka pintu rumahnya, "Ta- tadaima," ucapnya sambil masuk dan menutup pintunya kembali.

Ketika ia berbalik, ibunya di sana. Berdiri dengan tangan di disilangkan di dadanya. Hal itu membuat mental Nagisa tertekan, "NAGISA! LAGI-LAGI ENGKAU PULANG TERLAMBAT! SUDAH BERAPA KALI KU BILANG JANGAN PULANG TELAT! IKUTI AKU!" Perintahnya lalu menyeret Nagisa dengan menarik rambutnya.

Nagisa tidak melawan secara fisik, ia tahu melawan dengan cara itu akan membuat keadaan semakin kacau "Maafkan aku,okaa-san! Sa-sakit,tolong lepa-"

"TIDAK ADA MAAF UNTUKMU HARI INI!"

Malang bagi Nagisa mendapatkan jawaban seperti itu.

Nagisa pun akhirnya menjatuhkan air matanya dan hanya menahan sendiri sakit yang ia tanggung.

Dengan paksa,ibu Nagisa membenturkan anaknya ke tembok dan menamparnya berkali-kali.

"Maafkan aku,okaa - san" Ucap Nagisa lirih dengan muka yang sudah lebam.

Tetapi ibu Nagisa tak mempedulikannya,malah menampari Nagisa lebih kencang.

"KAU ANAK TAK TAHU DIUNTUNG! LEBIH BAIK MATI SAJA! KAU TAHU?! AKU SANGAT MENYESAL MELAHIRKANMU!"

Deg!

Nagisa tersentak.

Sekejam apapun ibunya,sekencang apapun teriakan dan tamparan dari ibunya,baru kali ini Nagisa merasa ia anak yang paling dibenci oleh ibu kandungnya.

Setelah puas,ibu Nagisa meninggalkan Nagisa untuk tidur.

'Apa itu benar? Apa okaa-san benar-benar menyesal melahirkanku?' Batin Nagisa.

Tangis tanpa suara yang sedari tadi ia tahan pun ia keluarkan untuk melepaskan sesak lalu mengambil smartphonenya.

"Aku sudah tak tahan lagi,aku harus pergi dari sini," Gumam Nagisa.

Jemari Nagisa menari-nari di atas smartphonenya.

Beberapa detik kemudian muncul nama 'Langit Nalendra' di smartphonenya.

Nagisa menutup mata disertai air matanya yang membentuk jejak baru, "Sebaiknya aku mulai bersiap-siap"

~~

"Maaf agak terlambat" Ucap Pak Langit sambil memberikan helm pada Nagisa.

"Tak apa,mari segera berangkat," Balas Nagisa sambil menerima helm dan memakainya.

Nagisa pun menaiki tasnya yang entah berisi apa(?) dan dirinya(?) ke motor dan mereka segera berangkat menuju tempat tujuan Nagisa.

Di jalan Nagisa terdiam,cairan bening mulai keluar dari matanya dan dia menangis sesegukan.Beruntung jalan sepi dan ia memakai helm,sehingga tak benyak yang mengetahui wajahnya yang lebam.

Pak Langit yang mendengar tangisan Nagisa pun iba,"Jika ingin,adek boleh bercerita ke bapak" Ucapnya.

Nagisa sempat menahan nafas sebentar lalu melihat langit.

"Saya mempunyai seorang ibu,dia memang kejam dan sadis-- tidak sangat kejam dan sadis.Ia sangat suka menyalahkan saya walau bukan salah saya lalu menampari saya,bahkan kadang saya tak di beri makan.Tapi,saya tetap menyayanginya... sampai...," Nagisa menahan ucapannya karena sedikit tak sanggup air matanya semakin deras turunya.

Ia menarik nafas pelan,"Ia... ugh,ia berkata...," Tapi tetap saja tak sanggup mengatakannya.

"Ia berkata ia menyesal melahirkanku!" Ucap Nagisa sedikit berteriak lalu mengeluarkan tangis yang sedari tadi ia tahan.

Pak Langit yang mendengarkan hanya terdiam,ia membiarkan Nagisa mengeluarkan tangisnya.Ia tahu sulit rasanya menahan tangis agar orang lain tak tahu bahwa dirinya sedang bersedih.

Selama di perjalanan Nagisa hanya menangis dan menangis di balik helmnya bahkan saat sampai tujuan.

"Kita sampai" Ucap Pak Langit sambil menghentikan motornya.

Nagisa pun turun lalu mengambil tasnya dan mengambil dompetnya.

"Ini,pak,ambil lah kembaliannya," Ucap Nagisa sambil memberikan sejumlah uang.

"Terima kasih,dek," Ucap Pak Langit.Nagisa pun berjalan ke tujuannya,taman bermain anak.

"Dek," Panggil Pak Langit.

Merasa terpanggil Nagisa menghentikan jalannya lalu mendongak ke belakang.

"Hidup memang sulit,tapi melarikan diri bukanlah jalan pintas untuk mendapatkan kebahagiaan" Ucap Pak Langit lalu menjalankan motornya.

Nagisa bergeming,ia lalu menatap kakinya dan mengeluarkan air matanya lagi.

Senja saat itu adalah senja paling menyedihkan untuk Nagisa.

Ia membayangkan ibunya yang selalu membangunkannya dengan lembut.

Ibunya yang selalu membuatkannya sarapan di pagi hari.

Ibunya yang membelikannya sushi ketika Nagisa ulang tahun.

Ibunya yang menyisir lambutnya dengan penuh kasih sayang.

Ibunya yang selalu tersenyum ketika Nagisa pulang tepat waktu apalagi pulang cepat.

Ibunya yang selalu mengecup dahinya sebelum tidur.

"Nagisa,anakku yang manis"

"Anakku yang paling kusayang"

"Anakku yang hebat"

"Okaa-san pasti selalu menyayangimu"

"Selamanya"

Deg!

Nagisa mengingat lagu buatan ibunya,lalu mengambil tasnya dan berlari.

Kembali ke rumahnya.

Dimana tempat tawa dan air matanya berkumpul.

~~

"Hmm,langitnya lebih indah dari biasanya... Mengapa ya?" Gumam pak langit.

"Mungkin akan ada pelangi" Ucap temannya.

Ting tong.

"Ah,ada orderan,saya berangkat dulu" ucap Pak Langit.

"Yah,baru juga istirahat,pak.Nanti juga bisa kan?" Tanya temannya.

"Maaf,mungkin pelangganku membutuhkanku secepatnya" Ucap Pak Langit sambil tersenyum.

Apa yang 'kan terjadi selanjutnya? Siapa pelanggan selanjutnya?

~~

Yosh selesai :v

Rio_Kaede1707 maaf lama tapi sedikit :v
Kuota tak memadai :'v

Kalau cerita sama judulnya gak sinkron,maafin ye :v
Tadinya mau bikin si Nagisa berandai andai dia gak hidup gitu tapi malah kek gini :v

P.s
Cuman buat seneng-seneng aja

SeandainyaStories to obsess over. Discover now