CHAPTER 1

51 8 0
                                        

Namaku Jane. Umurku 18 tahun, dan aku baru saja lulus dari SMA. Selain itu, aku merasakan ada hal yang aneh. Ini dimana? Aku tak tau mengapa aku bisa berada di sini. Sebelumnya, yang aku ingat hanyalah bahwa diriku sedang berdiri di depan cermin. Namun, saat aku membuka mata, ada banyak sekali peralatan medis di hadapanku.

"Kau sudah sadar?" Seorang pria membuka pintu. Ia mengenakan jas berwarna putih dan menenteng beberapa buku besar ditangannya. Mungkinkah ia dokter yang merawatku? Tapi ia terlihat sangat muda.

"Siapa kau? Kenapa aku berada di sini? Apa yang terjadi?" Tanyaku tak sabar.

"Tenanglah." Katanya tersenyum. "Kau berada di rumah sakit. Rumahmu terbakar. Seorang pria membawamu ke sini. Dan ia juga terluka. Namun, tak separah dirimu." Ceritanya.

"Apa? Rumah? Terbakar? Aku tak mengerti apa yang kau katakan. Apa aku punya rumah?" Tanyaku. Aku semakin bingung. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semua terlihat begitu abu-abu? Aku bahkan tak mengingat siapapun.

"Apa? Apa kau tak mengingatnya?"

"Aku bahkan tak mengingat orang-orang terdekatku. Yang aku ingat hanyalah namaku."

Dokter itu mengerutkan dahinya. Ia memanggil seorang perawat dan meminta hasil lab ku. Tak ditemukan apapun. Ia memintaku untuk melakukan pemindaian pada bagian kepala. Hasilnya tetap nihil. Ia bingung. Begitupula denganku.

"Jadi apa yang sebenarnya terjadi kepadaku? Aku benar-benar bingung." Tanyaku pada dokter itu.

"Aku pun tak yakin apa yang sebenarnya terjadi. Yang aku tahu, kau datang dengan keadaan penuh dengan luka bakar. " Katanya.

"Pria itu! Dimana pria yang membawaku ke sini? Ia pasti tau sesuatu!" Dokter itu menatapku. Ia bangkit dari duduknya kemudian berlari menuju UGD tempat pria itu mendapatkan perawatan. Tak berapa lama, dokter itu kembali menghampiriku.

"Ia menghilang."

"Apa? Tak mungkin!"

"Dia bahkan tak membayar biaya administrasinya."

"Sial! Aku sama sekali tak punya uang! Aku bahkan tak tau harus kemana setelah ini."

Kami terdiam. Aku masih terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Semua ini terjadi sangat tiba-tiba. Dan aku semakin tak mengerti.

"Apa aku membawanya ke rumah saja?"

"Apa?"

"Hah? Kenapa?"

"Apa kau mengatakan sesuatu?"

"Tidak. Aku tidak mengatakan apapun."

"Aku rasa ia terkena amnesia. Tapi kenapa tidak terdeteksi?"

"Apa??"

"Apa? Kenapa?"

"Kau baru saja berkata sesuatu!"

"Kau bercanda? Aku tak mengatakan sepatah katapun."

"Dia aneh. Memang ada sesuatu yang terjadi padanya."

"Hentikan! Aku tidak aneh!"

BOOM! Pintu kamar terbanting dengan kerasnya. Aku sungguh tak tau apa yang terjadi. Kali ini, semuanya sungguh kelewatan batas. Aku tak sanggup. Semua berputar. Pusing. Sangat sangat pusing. Kemudian semuanya kembali gelap.

Bersambung...

Who am I?Stories to obsess over. Discover now