{1}

45 4 1
                                        

Matahari sudah menyembunyikan setengah wajahnya, menyebabkan terbentuknya cahaya oranye di langit.
Ckrek! Lira menjepret kameranya. Ia tak suka jika harus menyia-nyiakan pemandangan menakjubkan itu. Beberapa kali ia mengambil foto dari arah yang berbeda.
Lira berjalan menuju taman, mendapati berbagai pohon dan tumbuhan menjalar. Bunga-bunga yang basah akibat hujan yang turun sebelumnya, juga lensa kamera Lira yang menjadi buram disebabkan embun hujan tersebut.
Gadis berjilbab biru itu mengelap perlahan lensa kamera kesayangannya dengan kain, lalu mengalungkan kamera itu di lehernya. Mata Lira melirik kesana kemari, mencari sesuatu yang bagus untuk dipotretnya. Gambar dan letak cahaya yang bagus, itu yang diincarnya.
Fotografer. Tujuan hobinya saat ini.
"Lira!!" teriak seorang perempuan sambil melambaikan tangan. Kemudian berjalan menuju Lira. Rambut panjang dan tipis serta bando kuning di kepala mempercantik perempuan ini. Marissa.
Namun ia lebih suka dipanggil Arissa.
Teman sekaligus tempat Lira mencurahkan tetesan air matanya. Berbeda dengan Lira, Arissa lebih menekuni ilmu design. Ia tidak terlalu tertarik dengan foto memfoto. Tapi ia selalu mendukung hobi temannya itu.
"Tidak selalu terus memotret, tapi gambar juga bisa didesign menjadi lebih bagus. " Ucap Lira suatu hari.
"Dan tidak selalu terus mendesign, tapi bisa difoto dan diabadikan untuk terus menjadi kenangan. " Balas Arissa tersenyum. Menjadikan dua hobi menjadi satu kesempurnaan yang mempererat pertemanan mereka.
Lira membalas lambaian tangan itu dengan senyuman manisnya. Tak sampai lima langkah Arissa berjalan mau menghampiri Lira, dering telpon Arissa menggetarkan tas sandangnya. Dari kejauhan tampak Arissa berhenti dan merogoh tasnya. Melihat sebentar telpon genggamnya yang kemudian ia tempelkan di telinga.
Ia bercakap-cakap di tengah taman, kakinya melangkah berbalik arah. Terburu buru dan langsung masuk ke mobilnya yang ia parkirkan di pinggir taman.
Lira yang sedari tadi bingung, menyadari bunyi telpon genggamnya pertanda ada pesan yang masuk.
Marissa Oktavia: Lira, maaf tadi langsung ninggalin. Aku lupa kalau bakalan ada wawancara perusahaan mama. Doakan aku sukses ya... (dari teman tercantikmu).
Lira hanya mangut-mangut membaca pesan sahabatnya itu. Kebiasaan deh Arissa, lupanya kambuh mulu. Gumam Lira disertai tawa kecilnya. Orangtua Arissa memiliki perusahaan sukses. Ia mengasah bakatnya disana. Walau masih di bangku SMA, karya busana yang didesign olehnya sampai diekspor keluar negeri.
Lira kemudian duduk di bangku taman, melihat-lihat hasil tangkapan gambar di kameranya. Angin sepoi-sepoi menggerakkan daun pepohonan yang sedang diteduhi oleh gadis bernama panjang Felove Marlira itu. Langit senja menjadi saksi kecantikan gadis itu yang sedang memandangi isi foto dari kameranya. Ketika jari Lira sedang berlayar menggeser geser foto di benda hitam berlensa itu, terhenti geraknya pada sebuah foto.
Jantungnya berdegup kencang. Entah kapan mulanya itu terjadi.
Sepertinya ketika ia pulang dari Gaza Palestina kemarin. Terbayang peristiwa ledakan bom di sana. Namun, goresan senyuman manis mereka yang tak pernah sirna mendukung semangat yang nyaris padam. Sungguh, apakah ini yang dinamakan derita di balik senyuman?

to be continued...

Spark The Word In LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang