Kenta duduk di atas kasurnya sembari menatap ke arah jendela kamarnya, namun tidak benar-benar menatapnya. Indranya berhasil menangkap suara rintikan-rintikan hujan berirama syahdu, sedang otaknya terselimut kabut-kabut duka. Ah, hujan. Kenta benci hujan. Kenta benci hujan yang tak pernah absen menjadi saksi bisu paling setia.
Kenta termenung sambil mendekap erat kaki bawahnya, menopang dagunya yang mungil di atas lutut. Ini lagi-lagi perihal rindu yang teriak nyaring di sukmanya, yang selalu gagal ia konversikan menjadi sabda. ini lagi-lagi perihal nyeri, yang selalu gagal terasa pulih. tentang kisah kasih penuh asa yang ternyata punya ujung. tentang kekasih yang ternyata tidak pernah pulang.
"Jika nanti," raksasa manja itu membelai lembut kepalaku yang bersandar di bahunya, "kita sama sama menua, kamu mau terus ada di sisiku?"
Demi Tuhan, saat itu Kenta tak pernah bermaksud membencinya. Ia tak pernah sekalipun ingin kehilangan Tatsunari. Semua terjadi begitu mendadak, sampai Kenta kehilangan kendalinya.
Aku tersenyum hangat, sehangat genggaman tangan tatsunari dan tangan mungilku di tengah riuhnya rintik hujan yang saat itu berteriak iri.
Tiga bulan yang lalu, Kenta berteriak menyaingi suara hujan, memaki Tatsunari sebisanya. Kenta marah dengan keputusan sebelah pihak yang Tatsunari ambil tanpa pernah mendiskusikannya dengan Kenta. Semudah itu? Tatsunari mengatakan semuanya semudah itu?
"Kau tau apa jawabanku, bodoh!" aku memukul pundak Tatsunari pelan, aku tersipu namun mencoba menyembunyikannya.
Karena siapa sangka satu kalimat "Aku akan berhenti" yang terlontar dari lidah Kimura Tatsunari saat itu justru membuat dunia seorang Suga Kenta berhenti?
Raksasa itu mengecup pangkal kepalaku, kemudian tertawa kecil, berkata tak habis pikir, "pertanyaan yang seharusnya tidak perlu kutanya, ya?"
Sedang Tatsunari tak banyak bicara namun tatapannya begitu nanar. Air wajahnya tak bisa Kenta tebak, membuat Kenta tak bisa menghentikan lontaran ego yang biasanya berhasil ia tahan. Kenapa? Kenapa Tatsunari hanya diam?
"Aku akan menemanimu setiap hari," aku mengubah genggaman tanganku menjadi sebuah dekapan, "setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun--"
Kenta tidak pernah membayangkan semua ini terjadi kepadanya. Membayangkan ia tak lagi berada di atas panggung yang sama dengan Tatsunari, membayangkan bukan lagi sosoknya yang selalu ada di samping Kenta. Bukan lagi Kimura Tatsunari.
Kenapa ia harus secepat itu kehilangan raksasa manjanya?
"Setiap detik?" si raksasa menyela manja, membuat aku jadi tertawa kecil. Dia memang raksasa paling manja yang pernah aku kenal dan paling aku cintai.
Kemana Kenta harus protes jika ia harus kehilangan Tatsunari secepat ini?
Kemudian aku menjawab, "sepanjang hayatku"
Hari itu, bukan hanya langit Tokyo yang mendung dan menangis tersedu. Air mata Kenta juga jatuh bersama bulir bulir asa yang selama ini ia genggam. Sejauh yang Kenta ingat, rasanya perih sekali. Kenta merasa hatinya robek, dan lukanya dibuat makin menganga begitu ia mendadak merasakan suatu dekapan erat.
"Kau akan bangun dan pemandangan pertama yang kau lihat adalah aku, dan hal terakhir yang kau lihat sebelum terlelap juga aku. Pokoknya aku akan selalu menemanimu, seberapa lamapun, bahkan sampai aku mati, Kenta"
Saat itu Suga Kenta lumpuh. Ia tak pernah merasakan dekapan paling menyakitkan melebihi dekapan selamat tinggal yang tiba-tiba Tatsunari berikan kepadanya. Sungguh, Kenta tak ingin kehilangan Tatsunari. Ia tidak ingin semuanya berakhir begitu saja.
Kenta ingin berteriak, menyalahkan takdir yang seenaknya mempertemukan lalu memisahkan mereka.
Ia tidak bisa merasakan apapun lagi. Ini terlalu menyakitkan.
Dan jngan sekali-kali bertanya kepada Kenta perihal seberapa sakit rasanya. Jangan.
"Sampai mati?"
Sedang Tatsunari hanya tersenyum getir ketika melepas dekapannya, kemudian mencoba sebisa mungkin menatap mata Kenta dengan tatapan paling lara yang pernah sampai ke mata Kenta. Lalu, satu kalimat terakhir yang Tatsunari ucapkan sebelum semua asa yang Kenta punya lenyap bersama suara langkah kaki paling menyakitkan yang pernah Kenta dengar adalah, "Sampai nanti"
"Sampai mati"
Kenta benci hujan. Kenta benci hujan yang tak pernah absen menjadi saksi bisu paling setia.
Namun lebih dari itu, Kenta paling benci rindu.
