Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

Cerita di Lorong Cemilan Supermarket

1K 118 31
                                        

A/N: First of all, this short story was written by my fellow author, @lonewolflady12 

  ❀❀❀  

Hari Minggu enaknya emang tidur sampe siang, apalagi kalo pas nggak perlu ke kantor alias lagi libur. Tapi hal itu tidak berlaku kalo lo tinggal sama nyokap gue.

"Yan, besok tolong belanja ke supermarket ya. Mama dari pagi harus ke acara nikahan klien, takut nggak sempet. Nanti Mama kirim daftar apa aja yang harus dibeli," kata Mama di telepon kemarin sore.

Ya kalo gitu gue bisa ngomong apa lagi?

Jadilah gue siang-siang begini udah ada di sebuah hypermarket, dorong troli dari satu lorong ke lorong lain sambil ngecek barang pesenan Mama udah ada semua atau belum.

Berhubung semua udah keangkut, artinya tinggal satu lagi lorong yang harus gue datengin sebelum bergabung ke antrian di kasir yang panjangnya ngalahin ular naga itu.

Apalagi kalo bukan lorong cemilan. Hehehe, ketebak ya? Stok kacang atom di laci kantor menipis nih. Belum lagi cemilan-cemilan jenis lain yang wajib angkut, mengingat banyaknya makhluk celamitan di kantor macem Ravi, Chandra, sampe Jastra.

Gue tengah memasukkan beberapa bungkus kacang atom ketika ada yang menabrak betis gue. Spontan gue menengok, dan... eh anak perempuan siapa ini? Gemesin banget!

Setelah nabrak, dia cuma ngeliatin gue dengan mata bulatnya. Mungkin bingung. Spontan, gue tersenyum dan melambaikan tangan.

"Namanya siapa?" gue berjongkok di sebelahnya. Umurnya mungkin baru tiga atau empat tahun. Di kepalanya ada bando Minnie Mouse. Gue bukan orang paling luwes ketika berhadapan sama anak kecil, tapi kalo liat mahkluk selucu ini ya gue luluh juga.

Perempuan kecil itu menggumam sejenak sebelum memegang salah satu rak cemilan. Gue mengambil salah satu snack dari dalam situ dan menyerahkannya.

"Mau ini?" dia menerimanya. "Makacih," ujarnya. Tanpa sadar gue tersenyum. Kalo ada yang bilang anak kecil adalah makhluk paling jujur tanpa pretensi, gue percaya.

Dia menatap gue lagi, lalu mendadak memajukan kaki kanannya yang terbungkus sepatu. "Eh?" gue menggumam. Baru saat nunduk ngeliat sepatunya, gue paham.

Tali sepatunya copot. "Bentar, Om iketin ya sepatunya biar nggak jatuh," kata gue sambil mulai mengikatkan tali sepatunya, sementara dia memain-mainkan bungkus snack di tangannya.

"Nah, udah. Mamanya mana?" tanya gue sambil celingukan.

Jangan sampe gue ngajak main anak orang, trus mama-papanya nyariin. Kan repot nanti. "Tadi mama di mana, sayang?" ya kalo dia nggak tau mamanya di mana, apes-apesnya gue bawa dia ke informasi deh.

Daripada gue disangka mau nyulik kan. Amit-amit.

"Cance Yaya!" wajah gadis cilik itu berubah cerah saat berseru sambil berlari melewati gue. Seharusnya gue nggak nengok pas denger nama itu. Tapi gue nggak bisa.

Refleks, gue menengok. Dan gue melihatnya, tepat saat dia menangkap gadis kecil itu ke pelukannya.

Wajah yang entah kapan terakhir kali gue liat, tapi masih familiar.

Perempuan yang dulu ngusulin kacang atom sebagai substitusi rokok 10 tahun lalu. Yang pernah gue ajak berbagi mimpi, senang, susah. Perempuan yang pernah gue cintai.

Yaya di sini. Di lorong cemilan supermarket tempat gue lagi ngambil berbungkus-bungkus kacang atom.

"Ines jangan lari-lari dong, kan tante bingung nyarinya," dia berkata lembut sambil mengusap rambut si gadis cilik yang ternyata bernama Ines itu.

Ichi-go ichi-e │ Ian & YayaHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora