Part 1

14 2 0
                                        


Zzzzzssssshhhhhhhh........

Lagi... aku mendengarnya. Setelah beberapa malam aku tertidur tanpa suara asing yang tertangkap indera pendengarku, malam ini, ia kembali datang menyapa malamku. Mataku terbuka paksa, kududukkan diriku di atas ranjangku yang hangat berselimut biru langit yang menambah rasa sejuk.

Zzzzzzzzzzsssssssshhhhhhh......

Suara itu terdengar lagi. Aku beranjak dari ranjang kesayanganku menuju jendela kamarku yang tak jauh dari sana. Kusibak kasar tirai biru yang menutupi akses kamarku dengan dunia luar. Ku dongakkan kepalaku menatap langit yang masih setia berwarna hitam, tanpa bintang dan tanpa segumpalpun awan.

Zzzzzzzzzsssssssssshhhhhhhh......

Lagi.... Suara itu terdengar lagi.

'Kurang empat kali lagi.' Pikirku.

Suara itu akan terdengar sebanyak tujuh kali dalam satu waktu. Aku terdiam saat suara itu tidak terdengar lagi. Hanya suara angin yang menyibakkan dedaunan yang tumbuh lebat di pepohonan di samping rumah lah yang kini menggetarkan gendang telingaku. Kukerutkan keningku mengekspresikan diriku yang tengah memikirkan keanehan yang sedikit menggelitik rasa penasaranku. Kulangkahkan kakiku mendekati pintu kamarku dan berjalan ke luar rumah dengan sigap.

"Hikkss.... Hiksss... Hikksss..."

Zzzzzssssshhhhhhhh....

Kerutan di keningku bertambah ketika aku mulai mendekati asal suara yang selalu mengganggu akhir-akhir ini. Suara tangis samar terdengar olehku bersamaan dengan gemericik dan suara asing yang selalu menggangguku. Kuhentikan pergerakan kedua kakiku untuk memastikan suara yang tengah terekam dalam memoriku ini.

"Suara air. Suara tangis." Monologku yakin.

Kupejamkan kedua mataku untuk memfokuskan diriku pada suara yang sedang menghampiri gendang telingaku ini.

'Sedih. Siapa yang sedang berduka tengah malam begini?' Batinku.

Suara itu kembali menghilang tapi tidak dengan isakan yang masih samar terdengar. Kubuka mataku perlahan sambil menikmati angin dingin yang berhembus melewatiku. Kucoba untuk melangkahkan kaki kiriku mendekati suara itu saat tiba-tiba kurasakan hawa panas menjalar di pungguk dan naik sampai ke tenggukku. Aku terdiam, tidak, aku bukan terdiam tapi tubuhku tak mampu bergerak. Tubuhku kaku, aku bahkan mampu merasakan bahwa aliran darahku kini berhenti mengalir, syaraf-syarafku berhenti bekerja. Aku masih berdiri tegak saat kerasa hawa panas itu kini benar-benar menyelubungiku dan seolah menusuk jantungku yang kini terasa ngilu.

"Hiksss.... hiksss... hiksss...."

Suara tangis itu terdengar semakin kencang saat kurasakan ngilu di jantungku dan hawa panas yang kini sempurna menyelimutiku. Kutarik nafasku dalam lalu kuhembuskan kasar saat kurasakan tangan dan kakiku kembali berkeringat. Kupejamkan lagi kedua mataku, mencoba merasakan hawa panas yang berpadu dengan hembusan kuat angin dini hari dan suara gemerisik dedaunan. Kuhembuskan nafasku kasar. Kubuka mataku paksa saat kuyakini darimana asal suara itu.

"Kuharap dugaanku salah." Ucapku tegas sambil mempercepat langkahku ke sumber suara.


Tbc.


A GLASS OF GREEN TEA  [COMPLETE]Stories to obsess over. Discover now