Di Ujung Senja
Di ujung senja, aku berdiri sendiri,
di mercusuar tua yang sunyi.
Angin berbisik, laut berseru,
namun tak satu pun mendengar piluku.
Dunia menolak,
aku asing di antara mereka.
Dipanggil pembohong, dicap gila,
padahal aku hanya ingin dipahami saja.
Langkahku mantap menuju akhir,
tanpa ragu, tanpa getir.
Namun, sebuah tangan menahan perjalananku,
sepasang mata menatapku pilu.
"Jangan jatuh, jangan pergi,
aku di sini, aku peduli."
Tapi haruskah aku percaya?
Atau aku tetap tenggelam dalam nestapa?
___________
Hujan baru saja reda ketika langkahku membawa diri ke mercusuar tua di dekat sekolah. Aku berjalan tanpa arah, tanpa tujuan, hanya mengikuti perasaan hampa yang semakin hari semakin menyesakkan. Angin sore menerpa wajahku, tapi aku bahkan tak merasakan dinginnya. Yang ada hanya kebisuan yang menelan seluruh keberadaanku.
Sejak kecil, aku selalu dianggap berbeda. Aku bisa melihat dan berinteraksi dengan mereka yang tak kasat mata sesuatu yang orang lain tak bisa terima. Teman-temanku mengejekku, menyebutku pembohong, anak aneh, bahkan gila. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru menambah luka. Mereka tidak percaya, tidak peduli, seolah aku hanya bayangan yang kebetulan ada di antara mereka.
Aku lelah.
Tidak ada lagi alasan untuk bertahan. Jika dunia menolakku, mungkin sudah saatnya aku pergi.
Dengan langkah mantap, aku menaiki tangga spiral mercusuar, memastikan tidak ada yang melihat. Sampai di puncak, aku berdiri di tepi pagar besi, menatap laut yang luas dan kelam. Tanpa ragu, aku mengangkat satu kaki, bersiap untuk melompat.
Namun, saat tubuhku hampir jatuh, sesuatu menahan pergelangan tanganku.
"Jangan!" Suara seseorang terdengar panik.
Aku tersentak. Seorang laki-laki, entah dari mana datangnya, memegang tanganku erat. Matanya penuh ketegasan, tetapi ada juga kepanikan di sana.
"Lepaskan!" Aku berusaha melepaskan cengkeramannya, tapi dia semakin mempererat genggamannya.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan kamu jatuh!" katanya keras.
"Aku tidak membutuh mu! Lepaskan aku!" teriakku frustasi.
Laki-laki itu tetap bertahan, dan dengan satu tarikan kuat, dia berhasil menarikku kembali ke lantai mercusuar. Aku jatuh terduduk, tubuhku gemetar. Napasku tersengal, bukan karena kelelahan, tapi karena marah.
"Kenapa kamu menyelamatkanku?! Aku ingin mati!" Aku menatapnya dengan mata penuh kemarahan dan kesedihan.
Dia menghela napas panjang, lalu menatapku dengan ekspresi datar. "Aku kira tadi kamu terpeleset. Kalau tahu kamu memang berniat melompat, mungkin aku akan berpikir dua kali sebelum menolongmu," katanya dengan nada santai, tapi matanya masih memperhatikanku dengan cermat.
Aku mendengus kesal, lalu bangkit dan mendorongnya. "Kalau begitu, jangan halangi aku lagi!"
"Tunggu!" Dia menarik tanganku sebelum aku sempat pergi. "Aku cuma mau tahu… kenapa?"
Aku menatapnya tajam. "Bukan urusanmu!"
Tanpa menunggu jawaban, aku melepaskan tangannya dan pergi meninggalkannya di sana. Aku tidak butuh simpati, apalagi dari orang asing yang tiba-tiba muncul dalam hidupku. Aku sudah cukup hancur tanpa harus menambahkan orang lain dalam kekacauan ini.
YOU ARE READING
Cinta beda dunia
HorrorRika adalah seorang indigo yang merasa terasing dari dunia sekitarnya. Sejak kecil, ia kerap dijauhi, diejek, dan dianggap aneh oleh teman-teman serta keluarganya. Kesepian yang menumpuk membuatnya putus asa, hingga ia mulai berpikir untuk mengakhir...
