Duniaku yang Monoton

16 2 0
                                        

Setiap hari aku melakukan hal yang sama. Tak ada perubahan sama sekali. Bangun tidur, pergi sekolah, pulang sekolah, makan, dan tidur, begitu seterusnya. Hingga aku mencapai batasan dimana aku berpikir bahwa aku hidup karena aku hidup, karena aku masih bernafas.

Akankah sesuatu berubah?

Akankah hari itu datang?

Semakin dalam aku memikirkannya, semakin dalam juga aku terjatuh dalam jurang yang tak berujung ini.

Gelap... gelap... gelap...

Apakah jurang tak berujung ini yang disebut dengan"keputusasaan"?

Saat aku sadar, pemandangan disekitarku berubah dalam sekejap.

Semua hal terlihat abu-abu, tak putih, tak juga hitam, hanya abu-abu. Semua terlihat begitu suram, tak terkena secercah sinar pun. Apakah ini duniaku yang sekarang? Apakah dunia monoton ini tempat yang aku tinggali sekarang?

Siang hari dengan langit biru yang dulu kukenal, sekarang hanyalah segumpalan awan mendung di langit yang gelap. Hangatnya cahaya matahari yang mengenai kulitku tak dapat lagi kurasakan, hanya kedinginan yang menyelimutiku dengan kejamnya. Mata ini... mata ini hanya membuatku melihat kesuraman dari dunia ini, atau mungkin inilah dunia yang sebenarnya?

Pemandangan ini sudah menemaniku selama setahun penuh, tepatnya sejak aku kehilangan anggota keluargaku yang terakhir. Kakakku. Dia meninggal karena serangan jantung saat sedang bekerja, siapa yang ingin kakakknya meninggal di usia muda? Aku pun tak ingin, tapi takdir berkata lain.

Dunia bukanlah tempat yang nyata jika semua keinginanmu menjadi kenyataan, karena tak semua keinginan itu sendiri nyata. Begitu juga dengan keinginanku untuk hidup bahagia. Keinginanku,... hanya keinginan belaka.

Penderitaan terus saja mendatangiku dan kebahagiaan yang sangat ku idamkan selalu menjauh pergi dariku. Aku mulai merasakan kehampaan dunia ini saat kedua orang tuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan kereta saat aku kelas enam SD. Aku bahkan tak ingat muka mereka! Aku tak dapat melihat muka mereka! Tak ada yang tersisa dari mereka akibat dari kecelakaan, aku tak dapat mengenali mereka, hanya abu mereka yang dapat kuratapi.

Kakakku. Ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhanku setelah kedua orang tuaku meninggal, orang tua "kami" meninggal. Dia adalah alasanku untuk hidup saat itu, aku tak ingin dia sedih, aku tak ingin melihatnya sedih. Tapi... kenapa sekarang aku yang sedih?

Sekarang alasanku untuk hidup telah meninggalkanku terlebih dahulu. Terlalu banyak sayatan menyakitkan dalam hati ini, terlalu banyak... terlalu banyak...

Sekarang aku menyianyiakan masa SMA dengan menjadi berandalan tidak berguna yang sering bolos untuk mengisi waktuku. Kenapa aku melakukan ini? Memang apa yang harus aku lakukan? Aku sudah tak memiliki alasan untuk hidup, aku tak memiliki arti dalam kehidupan ini, aku tak lagi dapat tersenyum seperti sedia kala. Apa yang harus aku lakukan?

Walau aku sering merasakan berbagai penderitaan, aku tetap menyukai suatu hal. Aku suka sepak bola. Jika kalian kira sepak bola adalah harapanku, maka kalian salah besar. Sepak bola hanyalah penderitaanku yang lain. Saat kelas tiga SMP, sebuah mobil menabrakku dan aku pun mengalami cidera permanen. Lututku tidak dapat ditekuk terlalu dalam, membuatku tak bisa berlari lama dan menendang dengan bebas.

Aku berhenti bermain sepak bola.

Aku berhenti untuk mengejar satu-satunya harapanku.

Selain takdirku yang menyebalkan ini, aku juga hidup di kota terkutuk ini. Aku benci kota ini, aku benci semua hal yang ada di kota ini. Kota ini telah merebut semua yang kupunya. Semuanya,... hingga tak tersisa. Di kota inilah juga semua ingatan pahit yang ingin aku lupakan terus menghantuiku sepanjang malam. Tak ada hal bagus di kota ini, tak ada sama sekali. Aku tak ingin memiliki apapun lagi, karena aku tahu kota ini akan merebutnya dariku.

Jika jalan yang kutelusuri ini disebut "kehidupan", maka jalan terjal ini adalah kehidupanku. Aku tak dapat memilih jalan yang benar saat ada persimpangan yang disebut "keputusan" dan aku pun terjerumus dalam jurang gelap tak berujung disebut "kepustusasaan". Dengan semua beban kehidupan ini aku berkahir di dasar yang dikenal dengan "kenyataan" itu sendiri.

Inilah sebagian kisahku dalam dunia yang monoton ini, dunia yang menurutku adalah kenyataan dari dunia itu sendiri. Kisahku yang selalu luput dari bahagia, dan selalu menjadi tempat dimana semua penderitaan berakhir. Inilah kenyataannya, inilah dunia, inilah kisah hidupku.

Jika boleh aku akan menyampaikan namaku sekarang. Namaku Arnold Dyan, Banyak yang memanggilku Ardy, tapi Dyan juga boleh. Aku tak terlalu memikirkannya. Aku akan menjadi narator untuk kisah ini. Kisah yang menceritakan tentang diriku sendiri.


Salju di Kala PagiStories to obsess over. Discover now