Kedatangan (prolog)

151 14 3
                                        

Cukup sudah perdebatan di kepala ini, saatnya aku memutuskan apa yang akan menjadi perjalanan hidupku selanjutnya, aku dari tempatku berdiri akan segera pindah ke situasi yang sesungguhnya tidak kumengerti, namun segalanya sudah dimulai, tak ada akhir bila tak ada awal, langkah ini sudah ku buat, tak ada lagi yang dapat membuatku mundur.
"Akulah Marlan, tak ada satupun yang membuatku takut, aku tak hadir untuk takut, aku hadir untuk melawan ketakutanku sendiri".

Waktunya telah tiba, tak ada lagi hitung mundur, yang ada hitung maju. kecuali kita tidak pernah mau mulai menghitung karena kitalah yang punya hitungan itu. Apa kata orang nanti ya nanti, toh kita sendiri yang menjalaninya, mengalaminya sedetik demi sedetik, tak ada yg dapat menahan kecuali menghilangkannya dari pikiran dan mencari bagian lain dari kenyataan, aku telah memulainya, inilah kisahku.
***
Kutapaki jalan berbatu yang licin dan menanjak itu, jalan ini hanya cukup untuk dilewati dua orang saja, itupun berpapasan dengan risiko jatuh dari ketinggian, meski sisi kananku tebing yang kokoh namun sisi kiri depan arahku berjalan jelas tampak jurang yang siap menerima siapa saja yang lengah, untung saja hari mulai gelap sehingga ketakutanku tertutup olehnya.

Setelah beberapa jam di pesawat, dengan tidur yang tak nyenyak dan tubuh yang terasa pegal-pegal karena dari semalam gelisah tak dapat memejamkan mata, koper yang berulang-ulang di cek isi dan bagiannya, takut ada yang terlupa dan tak terbawa, buku-buku percakapan berbahasa Inggris, beberapa buku pamungkas untuk mengajar tak luput melesap ke dalam koper yang sudah mulai sulit di resleting karena isinya yang penuh seakan menyembul keluar, beratnya jangan ditanya, karena koper itu dilengkapi roda yang akan membantuku mempermudah membawanya.

Tapi kini, koper itu membuatku sulit berjalan dan terpaksa kupanggul, kini aku sungguh-sungguh hanya mengandalkan kekuatan tubuhku, tak ada angkutan umum, tak ada ojek, tak ada sekadar gerobak untuk membantuku ke tempat tujuan, SMA Negeri 7 Halmahera Tengah.

Sepatu vantopel berwarna hitam yang sengaja kukenakan kini terasa berat, karena tanah jalan yang kutapaki rupanya lekat menempel di sepatu itu dan sangat terasa sepatu itu meninggi dan memperingatkanku agar berhati, hati. Untungnya tujuanku sangat jelas, sebuah tempat dengan cahayanya yang satu-satunya itu kujadikan tujuan awal dari perjalanan menanjak yang kupikir sedekat ini, tapi ternyata setelah kira-kira 30 menit berjalan akupun belum juga sampai pada titik cahaya yang tampak dari kejauhan itu, Kini aku terpaksa berhenti sejenak untuk membersihkan sepatu dengan sepotong kayu yang kutemukan di jalan.

Jelas terlihat dari kejauhan, cahaya yang datang dari belakang diikuti dengan bisingnya suara memecah kesunyian jalan itu ternyata berasal dari kendaraan roda dua yang dangan susah payah menanjak jalan setapak tempatku beristirahat di sisi kanan jalan itu, gelap tanpa penerangan, dan aku senang karena cahaya lampu dari motor itu sedikit membantu saatku membersihkan sepatu.

"Baru saja aku bersihkan beberapa saat yang lalu, kini sepatuku sudah kembali tebal", tapi ah percuma saja aku menggerundal di salam hati kalau saja keadaan tetap sama sesuai kenyataan yang ada...

Beberapa kali aku terpelesat, bahkan terpaksa menggelinding menyelamatkan koper yang sudah setengah jam lalu ku gendong, karena tak mungkin lagi kuseret sebagai bawaan yang sangat berharga untuk modal hidup di daerah yang baru saja kujajaki, dan aku merasa tertantang ini. Sesekali cahaya menghilang karena kelokan yang tertutup rindang dan tingginya pepohonan yang lebih pantas disebut hutan ini.

Seperti kemping rasanya, jalan semakin menanjak dan sepertinya masih memerlukan perjalanan yang menyisakan tenaga. Bila kawan pernah merasakan kemping, perjalanan yang baik memang dilakukan malam hari, tapi kita tidak sendiri pastinya, ada kawan lain yang menyertai kita, tidak seperti malam ini, aku koperku, dan sepatu yang mulai tidak bersahabat, karena bukan peruntukannya, sepatu pantovel untuk mengajar di kelas, kini kugunakan untuk naik gunung yang tak sengaja.

Marlan The inspireStories to obsess over. Discover now