Merayap atau dance?

189 23 41
                                        

"Apa sih maunya tuh senior, kurang kerjaan banget pagi- pagi buta gini disuruh ngitungin kacang ijo sampe cukup 2017, mana hari libur pula, padahal rencana gue hari ini pengen bangun siangan, mandi kembang, marathon drama korea, huh tapi semuanya sekarang jadi mimpi doang."

Walaupun ngoceh panjang lebar, protes sana- sini, aku tetap saja mau menghitung biji kacang ijo itu satu persatu, bahkan aku mengulangnya jika kurasa ada hitungan yang ragu- ragu, padahal Doni- cowok yang duduk di sampingku ini sudah berkali- kali bilang untuk menghitung secara asal saja, toh katanya senior juga nggak bakal hitung ulang.

Tapi sudah menjadi kebiasaanku memang untuk selalu mengecek ulang sesuatu, kalau perkara menghitung kacang hijau ini sebenarnya masih biasa dibanding kekhawatiranku tentang lupa mengunci pintu rumah atau lupa mematikan kompor, bayangkan saja, walaupun sudah di dalam angkot, tapi kalau pikiranku mengatakan bahwa "kayaknya gue lupa kunci pintu deh" "apa tadi kompornya udah gue matiin ya?" Aku tidak segan- segan untuk turun dari angkot dan memesan ojek untuk kembali di rumah memastikannya.

"Lama amat sih ngitungnya"
Suara ngebass itu tiba- tiba terdengar dari belakangku, siapa lagi pemiliknya kalau bukan kak Ilo, oke kuakui dia tampan dengan matanya yang sedikit sipit, alis yang cukup tebal, garis rahangnya yang mempertegas ke-macho-annya, dan satu lesung di pipi sebelah kanannya.

Tapi, tentu, seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak. Walaupun Kak Ilo itu ya bisa dikatakan hampir sempurna dalam hal fisik, tapi semua itu berbanding terbalik dengan sifatnya yang bikin bergidik ngeri, selain suka marah- marah nggak jelas, suka nyinyir, terlebih lagi kalau dia udah menatap tajam kami—mahasiswa baru, beh rasanya lututku langsung lemas, ya walaupun matanya sipit tapi tatapannya serem banget! Percaya deh, tiap dia natap kamu, seolah- olah matanya bilang "enaknya lo gue bakar atau goreng ya?"

"Udah itungan ke berapa?"
Ilo masih berdiri di belakangku, dan tentu dia bertanya dengan nadanya yang super ketus.

"Udah 1000 lebih, kak" aku menjawab ragu- ragu dan tak berani menatapnya. Ya walaupun tadi aku ngoceh panjang lebar karena hari mingguku yang terganggu karena ospek ini, tapi tetap saja, aku cuma jago kandang saja, cuma berani ngoceh di belakang 😐😐

"Lelet amat! Masa gitu aja kayak nyelesain soal kalkulus"

Ya Alloh, bisa nggak sih, manusia satu ini diem aja? Rasanya pengen kusumpel mulutnya pake tisu toilet satu roll, kalau ditanya mulu kayak gini kan jadi makin lama ngitungnya!!!!!

Tapi apalah daya, aku akhirnya cuma bisa mengiyakan saja, takutnya kalau ngebalas malah diapa- apain lagi, namanya juga senior selalu benar, dan junior selalu salah.

Tak lama kemudian, akhirnya terdengar pemberitahuan dari salah satu senior agar segera mengumpulkan kacang hijau di meja yang berada dekat pintu ke luar.

"JADI SIAPA YANG NYURUH KALIAN BERJALAN SEPERTI ITU!"
Suara Kak Ilo menggema lagi, suaranya yang pada dasarnya sudah  nyari, malah dipakein toa lagi, bayangin aja berisiknya kayak gimana.

"KALIAN INI ANAK KULIAHAN ATAU ANAK SD ! MASA BARIS YANG RAPI AJA NGGAK TAU! DALAM HITUNGAN SATU SAMPAI TIGA, SAYA TIDAK MAU TAU, SEMUANYA SUDAH HARUS KEMBALI KE TEMPAT SEMULA!"

Setelah mengatakan itu, otomatis kami—mahasiswa baru, langsung saja lari tergesa- gesa, padahal jaraknya tidak jauh antara meja dan tempat duduk kami—wait, perlu kutegaskan ya, kami bukan duduk di kursi, tapi duduk melantai.

Belum juga dapat posisi duduk yang enak, Kak Ilo kembali menaikkan toa-nya.

"SEMUA POSISI"

Tahu sendirikan, kalau udah mendengar kalimat seperti ini, apa yang akan terjadi selanjutnya, ya pada dasarnya memang junior selalu salah, sudah jadi kodratnya itu. Jadilah kami sudah dengan sukarelanya mengambil ancang- ancang untuk push-up.

"MULAI BERHITUNG"

Kami serempak menghitung
"SATUU"
"DUAAA"
"TIGAA"

Dan kalian pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya

"HITUNGANNYA NGGAK KEDENGERAN, ULANG DARI AWAL!"

Ya ampun bener- bener deh senior yang satu ini! Aku kembali menggeretu dalam hati, kulihat Dina-Teman baruku, senyum- senyum saja disuruh push-up, pernah sempat kutanyakan padanya, pada saat disuruh jalan jongkok dulu "kok lo senyum- senyum aja sih din?" Dia tertawa cengengesan "ya mau gimana lagi, Ta, kak Ilo sih walaupun lagi marah gitu  tapi kok bisa ya jadi makin ganteng gitu."

Letak ke-kece-annya saat marah di mana coba? Ya sebenarnya malaikat juga tahu sih kalau dia emang ganteng banget, tapi kalau lagi nge-hukum gini, nggak pandang cewek-cowok, ya Allah, ke-tampanannya itu langsung hilang seketika buatku.

--

2 jam berlalu, kami duduk mendengarkan materi- materi yang menurutku entah apa, dan hanya membuatku mengantuk, aku terus melirik jam tanganku, dan berharap jarumnya bisa bergerak lebih cepat lagi. Sampai akhirnya tak sadar, aku tertidur.........

Jadilah sekarang aku berdiri paling depan dan diminta untuk menjelaskan ulang materi yang dibawakan oleh salah satu senior—yang entah namanya saja tidak kudengar tadi.

"Mmmm, mahasiswa itu....."
Aku terbata- bata dan bingung mau mengucapkan apa, ditambah lagi tatapan cowok yang duduk di sampingku yang seolah ingin menerkamku saja.

"Mahasiswa itu...."
Aku hanya mengulang kalimat itu, karena hanya itulah yang memang kudengar tadi..

"Mahasiswa itu........mmmm"

Kulihat raut muka kak Ilo yang duduk di sampingku sudah berubah seolah ia sudah sangat siap untuk menggantungku di tiang bendera yang ada di lapangan fakultas.

"Kau ini ke mari, mau ikut ospek atau tidur sih?"

Ya, siapa suruh nyuruh datang pas hari leyeh- leyeh sedunia, mana materinya ngebosenin pula.
Ingin rasanya aku mengatakan itu, tapi lagi- lagi yang ke luar dari mulutku "maaf, kak"

Cuma itu.
Dasar tolol. Aku mengutuk diriku sendiri.

"Kamu mau push up- 30 kali atau dance di depan teman- temanmu?"

Pilihan macam apa itu hah??!!!!!
Tapi kayaknya aku lebih milih pingsan karena kecapean push-up daripada harus ngeluarin extra kepercayaan diri untuk dance super kaku di depan orang- orang yang— sebagian besar baru aku kenal— wait jangankan ku kenal, wajahnya saja masih asing bagiku.

"Ee... push-up aja, kak"

Mendengar jawabanku, kak Ilo sepertinya terkejut.

"Kalau gitu diganti, jangan push-up, kamu mau merayap di lapangan dekat fakultas peternakan atau nge-dance?"

Ya Allah pilihan macam apalagi itu 😭😭😭

Merayap di lapangan fakultas? Big no! Siapa juga yang rela mengotorkan bajunya di lapangan yang super kotor itu, mana di sana sering ada sapi, ya otomatis banyak— TeSa. Bukan Tesa Kaunang ya! Tapi (T)a(E) (S)(A)pi.

Jadilah, aku bergoyang super kaku, di depan orang- orang asing ini, tak kuhiraukan lagi gerakanku bagaimana yang jelas aku terus menunduk dan berharap semuanya cepat selesai.

Jangan galak- galak dong, Kak!!!Stories to obsess over. Discover now