We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Chapter 1 - The Light that Conceal The Truth

1.1K 98 19
                                        

"Cahaya menyembunyikan kebenaran, namun kegelapan menelan kenyataan."

***

Nenek tengah menyiapkan sarapan di dapur, ia menunggu cucu semata wayangnya bersiap untuk pergi sekolah. Beliau adalah Kirisaki Ayako.

"Selamat pagi Nenek!" sapa cucunya dengan gembira, Akira Kirisaki, si gadis manis yang identik dengan warna rambut ungu pucat.

"Pagi, Akira. Sarapan dulu, yuk." ucap Ayako seraya mengambilkan selembar roti dengan selai kacang kesukaan Akira.

"Iya, nek. Omong-omong aku sudah berusia 18 tahun, nenek masih terlihat awet muda ya...," ucap Akira sembari memperhatikan wajah neneknya. Ayako hanya tersenyum, kerutannya berkurang lagi. Kerap kali Ayako tersenyum, ia semakin terlihat muda,tak pernah bertambah tua. Wajahnya kini terlihat seperti ibu-ibu berusia 30 tahun.

"Benarkah? Mungkin memang begitu takdir nenek, jadi kalau diluar panggil saja ibu," ucap Ayako sambil berkedip genit yang membuat Akira tertawa, neneknya selalu begitu.

"Nek, aku selalu memikirkan ini. Suatu saat ... apa aku bisa bertemu dengan ayah dan ibu lagi?" tanya Akira, nenek tersenyum hambar.

"Pasti, suatu saat kau akan bertemu dengan ayah dan ibumu lagi, Akira. Namun ... nenek tidak tahu kapan terjadi, kita hanya bisa berharap. Sudahlah, ayo berangkat, nanti kau terlambat," ucap Ayako seraya mengelap air matanya, Akira segera pamit kepada Ayako dan berjalan menuju ke sekolah menggunakan sepedanya.

"Aku berangkat!" seru Akira saat ia ingin mengendarai sepedanya, ia melambai kepada Ayako.

"Hati-hati di jalan," balas Ayako dengan senyum yang terus terpatri di wajahnya.

"Maafkan aku Akira, terlalu banyak yang ku sembunyikan," gumam Ayako seraya masuk ke dalam rumah kecil yang ia tempati bersama Akira.

***

Akira sampai di Toriyama High School, dan segera memarkirkan sepeda. Ia bergegas menuju kelasnya, dan segera mengambil sapu. Akira membersihkan kelas dengan telaten, dan tidak lupa merapikan meja. Karena di kelas masih sepi, hanya ia sendiri, Akira menggerakkan sapunya bagai tongkat sihir.

"Jika aku punya sihir seperti di buku novel yang ku baca, aku ingin membuat kelas ini bersih dan rapi dalam sekejap," gumam Akira seraya mengarahkan sapunya ke segala arah.

Sringg! Kelas langsung tampak bersih dan rapi, Akira terkesiap dan menutup mulutnya yang menganga.

"Apa aku berkhayal sepagi ini?" tanyanya pada dirinya sendiri. Ia segera menaruh sapunya dan menuju kursinya. Ia menelungkup kan kepalanya seraya tersenyum. "Apa-apaan aku ini? sudah pagi masih terasa seperti mimpi."

Kemudian Akira fokus membaca buku pelajaranya dengan materi yang akan dibahas hari ini sementara siswa-siswi lain segera memasuki kelas, tepat setekah Akira selesai membersihkan kelas.

Kaede-sensei pun memasuki kelas tatkala bell baru saja menggema selama dua menit. Akira tertawa jahil dalam hatinya setelah melihat reaksi anggota sekelasnya mendapati wajah cungkring guru pemarah nan cerewet itu. Kaede-sensei sering tidak masuk, tapi sekali masuk kelas akan datang paling cepat dan keluar paling lambat. Tidak ada satupun siswa-siswi yang menyukainya bahkan Akira sendiri termasuk orang yang kurang menyukai guru itu. Sudah pelajarannya tidak jelas, juga terlalu cepat dan terlalu serius. Ada seseorang saja yang menguap pasti akan dikeluarkan dari kelas dan mendapat ceramah panjang lebar setelahnya. Sunggiuh, tidaka da yang betah diajar oleh Kaede-sensei. Mungkin ada, salah seorang murid cerdas dan terpuji yang berada di kelas yang sama dengan Akira. Si pemilik nilai tertinggi sewaktu Ujian kemarin.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 05 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Elvermist CastaviorStories to obsess over. Discover now