Lemondrop - Chapter 1

130 3 0
                                        

"Mas Rio, maaf." Dia mendadak berhenti. Membuatku menabrak punggungnya. Bagaimana tidak, kami sedang berjalan di tengah keramaian sambil sibuk menjinjing tas dan koper. Kami baru saja turun dari pesawat, dan menginjakkan kaki di tanah yang bernama Pangkalan Bun, kota kecil di Kalimantan Tengah. Dia berbalik dan melihatku dengan mata tajamnya yang telihat heran.

"Apa?"

"Mas tahu kan, nggak biasanya Yerin begini. Yerin cuma lagi stress. Maaf mas jadi seperti pelampiasannya."

___

Dua puluh enam jam yang lalu

Sungguh aku tidak pernah percaya bahwa dengan suatu perjodohan antarkeluarga dapat meningkatkan pendapatan atau kualitas dalam suatu bisnis. Tidak ada sangkut paut dan kaitannya. Tapi konyolnya, hal itu justru terjadi padaku. Sial.

"Saya terima nikahnya Ananda Yerin bin Narto Prabowo dengan seperangkat alat solat dibayar tunai."

"Sah?" Penghulu bertanya meyakinkan, para tamu dan saksi mata beramai-ramai menyahut 'Sah' dengan ceria. Kulihat mata ibu dan mertuaku yang berkaca-kaca.

Dia melepas jabatan tangannya dari ayah. Baiklah, sekarang aku resmi seorang isteri. Aku menatapnya tajam saat dia mendekatkan bibirnya di keningku. Terasa hangat. Sial. Bahkan dia pria pertama yang mencium keningku selain ayah dan kakek. Tapi ayolah, kapan acara ini selesai?

Dia menjauhkan bibirnya dengan lembut dan dengan perlahan menunduk, tepat di samping telingaku dia berbisik.

"Bodoh, jangan biarkan aku berakting sendirian." Ya, kami berdua sepakat untuk terlihat benar-benar seperti sepasang suami istri di depan semua orang, khususnya orang tua kami -dan kalau bisa hanya di acara ini saja.

Dia menjauhkan dirinya dan menatapku, tatapan yang seolah mengatakan cepat-atau-kubunuh-kau. Aku mencoba menebar senyum setulus mungkin -walaupun aku tahu, pasti bibirku terlihat aneh saat ini- mencoba menipu semua orang bahwa kami benar-benar bahagia.

47 hari yang lalu

Matahari dengan semangat memancarkan cahayanya yang terik. Panas. Rasanya seperti aku akan mati kepanasan. Aku melepas helm dan baru saja turun dari motor dan berjalan menuju pintu rumah. Uh, ibu dan ayah membuatku terkejut. Tiba-tiba mereka sudah ada di hadapanku dengan pakaian necis. Aku sudah biasa melihat ayah berpakaian begitu, tapi ibu berpakaian begitu hanya pada acara tertentu. Mau ke kondangan?

"Mau pergi ke kondangan ya, bu?" Dengan senyum manisnya ibu menjawab.

"Mau ke rumah teman kerja ayah, acara perjodohan. Kamu ikut ya."

"Nggak ah, Yerin mau di rumah saja. Capek, tadi habis ujian di kampus."

"Kamu pilih ikut atau mulai sekarang naik angkot kalau mau ke kampus?" Ancam ayah. Naik angkot? Nanti telat, terus desak-desakan. Nggak boleh terjadi!

"Baiklah, baiklah." Dengan langkah gontai aku menaiki tangga ke kamarku yang berada di lantai dua.

"Pakai pakaian yang rapi!" Ibu menyahut tepat ketika aku berada di depan pintu kamarku.

"He'eem."

Pakaian rapi, ya? Oke, ini saja. Setelah memakai pakaian 'rapi', aku segera turun dengan semangat yang entah datang dari mana.

"Sudah rapi, bu!" Aku berteriak dan tersenyum penuh semangat di belakang ayah dan ibu. Kedua orangtuaku menoleh dan,

"Subhanallah!" Mereka melihatku terkejut, terutama ayah yang sampai 'nyebut'. Kan, aku pasti rapi banget nih.

"Ya ndak gitu juga to, nduk," ibu menarik napas dan menggeleng, "Kamu seperti mahasiswa baru yang mau ospek, tahu. Rok hitam, kemeja putih." Lanjutnya.

"Ndak, bu. Lebih mirip pelayan di restoran keluarga." Ledek ayah sambil cengengesan.

"Kan yang penting rapi, toh?" Balasku polos. Ibu berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Ayah memberiku kode untuk mengikutinya. Aku membuntuti ibu di belakang. Ibu lalu membuka lemari pakaiannya dan menyentuh beberapa lembar pakaian yang tergantung dengan hanger. Tangan ibu berhenti tepat di pakaian berwarna krem -mungkin agak pinkish. Itu dress. Dia melepas hangernya.

"Pakai ini." Bagus. Warnanya kalem. Roknya, aku tidak tahu jenis apa tapi bagian bawah roknya melebar. Menutupi lutut, jatuh di atas betisku. Kerahnya seperti kerah pakaian zaman dulu, panjang menutupi dada san lenganku, tapi justru membuatnya terlihat elegan.

"Ibu pakai ini dikencan pertama ibu bersama ayah." Ibu tersenyum memperhatikan aku yang terpesona dengan dress sederhana ini. Jadi, dress ini sudah lama ya. Aku melepas pakaian -pelayanku- dan mengenakan dress ibu. Aku teringat sesuatu.

"Tunggu, bu. Ibu tunggu sama ayah." Aku segera berlari keluar dan menujur kamarku lagi. Dalam sekejap aku sudah berdiri di hadapan mereka dengan kalung choker hitam dan sepatu berwarna hitam. Sekali lagi ayah terlihat terkejut. Bukan karena penampilan aneh seperti tadi, tapi karena,

"Mirip sekali dengan ibumu, dulu," Katanya dengan mata berkaca-kaca. Melihatku dan ibu bergantian. Mungkin ayah teringat betapa cantiknya ibu dan menyenangkannya kecan mereka dulu.

"Kita berangkat!" seru ayah bersemangat.

     "Kita berangkat!" seru ayah bersemangat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

___

Ayah menyetir mobil, dan ibu duduk di kursi depan. Sebagai anak semata wayangnya aku memperhatikan mereka yang membicarakan kencan pertama mereka dulu. Aku bergeser ke tengah, dan duduk dengan manis.

Mereka bercerita tentang bagaimana canggungnya ibu dulu. Tentang ayah yang sedari dulu necis. Tentang gugupnya ayah bertemu kakek. Oh, tidak. Aku jadi merasa ingin memiliki pacar. Aku tidak pernah berpacaran sekalipun. Enggak kok, bukan karena aku jelek. Tapi karena orang tuaku melarang. Perlu di garis bawahi. Melarang keras. Mobil meluncur di jalanan dan arah yang benar-benar kuketahui.

"Ini kan ke rumahnya pakde Jo," aku melongo "eh? Jangan-jangan Mas Rio ya yang mau dijodohin?" Pakde Jo adalah tetangga kami dulu. Rumah kami di daerah Jangli Krajan. Mereka pindah saat aku baru memasuki sekolah dasar. Anaknya, Mas Rio, teman mainku waktu kecil.

"Tentu saja, siapa lagi." Ibu menoleh dan tersenyum, seperti biasa, manis.

"Oh benar. Lalu, dengan siapa dia dijodohkan?" Tanyaku bersemangat.

"Anaknya pengusaha Souveneer. Nama pengusahanya Narto Prabowo." Eeeehh? Itu artinya aku?

Lemondrop - Satu Atap BersamanyaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang