Pada zaman dahulu kala, di suatu tempat di Sumatera Barat. Hiduplah seorang pemuda gagah dan tampan tinggal bersama ibunya.
Roda waktu terus berputar lalu pria itu memutuskan untuk merantau.
Hari demi hari terus berlalu, malam demi malam terus berlalu, ibu yang ditinggal anak satu-satunya yang merantau merasa sangat kesepian, ia selalu melihat ke arah lautan yang biru berharap anaknya akan kembali.
Setelah bertahun-tahun, akhirnya anaknya kembali pulang. Tapi dia tidak sendirian, dia pulang bersama wanita cantik beserta keluarga wanita tersebut.
Sang ibu yang sangt merindukan anaknya langsung memeluknya, tapi anak tersebut langsung mendorong ibunya sendiri hingga terjatuh karena ia malu punya ibu yang miskin.
Sang ibu menjadi sangat marah karena perilaku anaknya tersebut.
"Sungguh anak durhaka kau Malin,"
"Kukutuk kau jadi batu!!" Teriak sang ibu.
"Maaf mamak!..." Teriak anak.
Langit menjadi gelap, angin bertiup kencang, dan petir menyambar.
"Stop!.. penulis somplak, ini bukan cerita Malin Kundang."
"Sebelumnya saya minta maaf kepada pembaca, karena telah membuang waktunya membaca pembukaan yang tidak ada hubungannya dengan cerita novel ini." Katanya sambil membungkuk.
"Saya akan menceritakan tentang tiga sekawan yang bekerja di bidang jasa,"
"Nama saya Mulyadi, saya akan menceritakan tentang mereka bertiga yang membuat saya mendapat pekerjaan."
("Kalian tidak perlu mengingatnya dia bukan karakter yang penting.")
"Woii! penulis!!"
Di suatu pagi.
"Mulyadi sana cari kerja, kau sudah tua!" Teriak ibunya.
Mulyadi bangun dari tidurnya.
"Huwahh..." Menguap.
"Masih jam satu siang rupanya." Mulyadi kembali tidur.
"Byuurrr..." SFX siraman air.
Mulyadi megap karena disiram mamaknya.
"Kalau kau tidak bangun dan cari kerja ... Mamak kutuk kau jadi batu!"
Langit menjadi gelap, angin bertiup kencang, petir menyambar.
"Iya mak." Mulyadi lari terbirit-birit.
"Nice FX writer." Mamaknya memberi jempol.
("No problem mam.")
Mulyadi berpakaian rapi dan membawa map berisi CV-nya.
Dia pergi berkeliling kota mencari pekerjaan, tetapi tidak ada yang mau menerimanya.
"Kenapa begitu susah mendapat pekerjaan," Keluhnya.
("Itu derita lu,")
"Kenapa aku harus hidup di zaman ini," Keluhnya kembali.
("Emang gue pikirin.")
"Aaa!! ... diamlah penulis somplak." Sangat marah.
Mulyadi melihat sebuah poster di depan sebuah kantor kecil seukuran kontrakan rumah rata-rata di Indonesia.
"Apa kau tahu berapa meter ukuran rata-rata rumah kontrakan di Indonesia?"
("Meneketehe.")
"Jadi kenapa kau tulis!!"
("Suka-suka gue.")
"Sudahlah!" Mulyadi mengacak-acak rambutnya.
"Apa ini?" Tanyanya sambil melihat poster tersebut.
"Apa anda punya masalah dengan ibu anda?, apa anda selalu dimarahi ibu anda karena tidak punya pekerjaan?, apa anda merasa sangat susah mendapat pekerjaan?, apa anda menyesal dihidupkan di zaman ini?. Masuklah ke kantor kami, kami akan memberi anda pekerjaan." Isi poster tersebut.
"Apa-apaan ... maksud poster ini!!" Ia merobek posternya.
"Tapi ...?"
"Mereka akan memberiku pekerjaan,"
"Baiklah." Mulyadi melangkah masuk ke kantor.
"Permisi," Ia masuk.
Baru selangkah masuk ia menjadi pucat dan gemetaran, karena di dalam kantor tersebut ada dua orang berpakaiaan serba hitam seperti mafia dan memegang pistol.
"Gawatt..!! aku salah masuk," Dalam hatinya.
"Maaf mengganggu." Mulyadi keluar kembali.
"Tunggu sebentar," Kata seorang pria dan menghentikan langkah Mulyadi keluar.
"Apa kau pikir bisa keluar hidup-hidup setelah melihat ini semua,"
"Maaf, maaf, saya tidak melihat apa-apa bang." Keringatan.
"Kau pikir bisa membohongi mataku ini," Pria itu membuka kacamatanya.
"Saringgan!" Menunjukkan matanya.
"Na**to kah!!" Teriak Mulyadi.
"Kami hanya bercanda." Mereka berdua tertawa.
"Apa yang lucu!!" Mulyadi jantungan.
"Maaf, silahkan duduk,"
"Hei Kutil! buatkan tamu kita ini teh."
"Ya." Pria yang dipanggil Kutil itu pergi ke dapur.
"Perkenalkan nama saya Ferdi, saya Dirut di kantor ini,"
"Apa masalah saudara....."
"Saya Mulyadi."
"Ya, masalah saudara Mulyadi kemari?"
"Saya sudah 28 tahun, tapi saya tidak kunjung mendapat pekerjaan."
"Masalahnya?" Tanya Ferdi.
"Saya tidak tahu jenis pekerjaan yang cocok buat saya, karena saya takut melakukan kesalahan."
"Oh begitu."
Kutil kembali dari dapur dengan membawa secangkir teh buat Mulyadi.
"Silahkan diminum tehnya." Sambil meletakkan tehnya di meja.
"Terima kasih." Ferdi meminum teh.
Mulyadi terpengarah melihat teh untuknya malah diminum Ferdi.
Kutil memitak kepala Ferdi "Itu bukan untukmu!"
Ferdi mengeluarkan teh yang di mulutnya kembali ke dama gelas.
"Pluk."SFX air teh.
Mulyadi kembali terpangarah melihatnya.
"Maaf saudara,"
"Ini silahkan diminum."Tawar Ferdi dengan wajah tidak berdosa.
"Itu sudah tidak bisa diminum lagi." Dalam hati Mulyadi.
"Silahkan diminum pak, tidak perlu sungkan."Tawar Ferdi kembali dengan tampang seperti sebelumnya.
"Sudah kubilang ... teh itu sudah tak bisa diminum lagi!" Dalam hati Mulyadi.
"Keburu dingin loh pak."Ferdi melirik-lirik ke teh.
"Untuk bapak saja tehnya." Mulyadi sambil tersenyum.
"Benarkah?,terima kasihlah."
Ferdi langsung meminum teh tersebut sampai habis.
"Gluk, gluk, gluk, gluk."SFX teh masuk tenggorokan.
"E....."SFX Ferdi bersendawa.
"Nikmatnya tehmu Kutil." Ferdi merasa puas.
"Penulis, boleh aku menghajarnya, bolehkan!!"Dalam hati Mulyadi kesal.
("Mohon bersabar ini ujian.")
"Sayaa buat lagi tehnya." Kutil pergi ke dapur.
"Jadi solusinya gimana pak?" Tanya kembali Mulyadi.
SCROOL KE BAWAH TERUS UNTUK NEXT CHAPTER
PEMBACA YANG BAIK
BANTU SAYA DENGAN SHARE DAN VOTE(BINTANGNYA)
AND PLEASE SUBSCRIBE
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA
YOU ARE READING
Master Pekerjaan
HumorBercerita tentag tiga sekawan yang memutuskan membuka kantor jasa untuk membantu menyelasaikan semua yang berkaitan tentang masalah pekerjaan, walaupun alasan mereka membuka kantor karena mereka pengangguran. Mulai dari masalah pekerjaan yang normal...
