Chapter I : Disaster on Friday Night

16 2 5
                                        

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Bean soup dalam panci sup di atas kompor yang menyala dengan api sedang mulai menggelegak. Key bisa mencium aroma sedapnya yang khas di seluruh penjuru dapur namun memilih untuk tetap fokus mengurus corned beef di dalam wajan yang sedang ia tangani. Setelah menuangkan satu sendok makan minyak zaitun dan cabai kering, kemudian mengaduknya sebentar, ia beralih mengangkat panci sup dari kompor dan menaruhnya di atas meja di dekatnya.

"Key, apakah kau keberatan jika aku meminjam salah satu travel bag­-mu?"

Claire Calestine muncul di ambang pintu dapur dengan pakaian berpergian yang rapi ketika Key mengingatkan dirinya sendiri di dalam hati bahwa corned beef-nya masih harus dimasak lagi selama tujuh menit ke depan.

Key menoleh tanpa menghentikan kegiatannya, menuangkan bean soup ke dalam mangkuk-mangkuk. "Tentu saja tidak. Aku menyusunnya di atas lemari bajuku. Kau bisa pilih yang mana pun yang kau mau. Aww!"

Key tersentak dan refleks melepaskan sendok sup dari tangannya. Terdengar suara gaduh sendok sup beradu dengan panci stainless.

"Astaga!" Claire masuk ke dapur, mendekati Key dengan ekspresi kaget bercampur khawatir. "Key, kau tidak apa-apa? Apa kita perlu ke dokter? Aku akan menelepon Gerry sekarang jika memang kau butuh dokter. "

Key hanya diam, tidak menanggapi Claire. Jari telunjuknya berdenyut-denyut, terasa pedih sekaligus panas setelah tanpa sengaja menyentuh pinggiran panci yang panas. Ia meniup-niup jarinya sejenak sebelum menaruhnya di bawah kran. Rasanya menjadi lebih baik setelah air dingin dari kran mengaliri jarinya.

"Tidak apa-apa," Key menenangkan seraya mengeringkan tangannya dengan tissue, "Aku pernah mengalami yang lebih parah dari ini. Saat sedang magang di restoran Le Meurice tepatnya."

"Aku suka mendengar cerita tentang aktivitasmu selama bekerja di dapur, Key, tapi kecelakaan kerja bukan pilihanku malam ini," sergah Claire, "Jika perlu kuingatkan aku akan mengendarai mobilku selama kurang lebih tujuh jam menuju Marseille, dan aku butuh kaki yang luwes dan perut yang tenang agar bisa selamat sampai tujuan."

Key tertawa geli mendengarnya. Sahabat sekaligus teman satu rumahnya itu tidak pernah tahan melihat atau mendengar hal-hal yang berhubungan dengan kecelakaan dan darah. Ia selalu mengeluh kakinya akan berubah kaku dan tidak bisa digerakkan, kemudian perutnya secara perlahan menjadi kram. Gerry Durrand, penghuni ke tiga rumah mereka, selalu mengejek Claire karena kelemahannya itu.

Dua puluh menit kemudian mereka memulai makan malam mereka yang terlambat, karena saat ini telah lewat dua jam dari jam makan malam pada umumnya. Hal yang tidak terelakkan sebenarnya, karena baik Key maupun Claire sama-sama luar biasa sibuk hari ini.

Claire mengambil cuti selama seminggu untuk menghadiri pernikahan salah satu sepupunya di Marseille. Sementara di awal bulan seperti ini pekerjaannya sebagai akuntan di salah satu bank swasta besar di Paris sudah pasti bertambah beberapa kali lipat. Oleh karena itu ia harus lembur agar pekerjaannya selesai tepat waktu dan ia bisa berlibur dengan tenang tanpa harus khawatir pekerjaannya akan sangat menumpuk begitu ia kembali bekerja. Sementara Key, ia sudah siap akan pulang tadi sore sebelum Monsieur Vernon, salah satu head chef di hotel tempat ia bekerja, memanggilnya kembali untuk membicarakan masalah pekerjaan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 03, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Found a LoveStories to obsess over. Discover now