Naya baru saja datang semalam. Ia sama sekali belum tau apa yang akan dia lakukan hari ini. Matanya masih sembab bekas tangisnya semalam. Kejadian kemarin sore membuatnya berfikir terlalu cepat. Entah apa yang dia fikirkan, hingga membuatnya begitu sedih.
Selimutnya menutupi seluruh tubuhnya. Hanya menyisakan kepalanya yang tertutupi helai rambut yang berantakan.
Ia segera terbangun dan meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja setelah mendengar benda itu berbunyi.
"Hallo Tina? "
"Naya? Kenapa kamu pergi ke Jakarta buru buru sekali? Apa yang harus aku katakan kepada karyawan karyawanmu? Mereka sudah membuatku bingung dengan pertanyaan yang aku sendiri tidak tau harus menjawabnya."
"Sudahlah Tina. Aku baru bangun tidur dan harus mendengar ocehanmu yang seperti kereta api sedang kehilangan remnya. Aku akan mengirim draft pekerjaan kepadamu dan kamu harus menghandle karyawan karyawanku selama seminggu atau entah berapa lama aku masih harus di Jakarta. Pagi ini aku harus kerumah ayah untuk memberi kabar bahwa aku sedang di Jakarta, semalam aku sampai Jakarta sudah larut dan aku harus segera mencari apartemen untuk tempat tinggalku beberapa hari."
"Kenapa kamu tidak tinggal dirumah Ayahmu sekaluan saja Naya? "
"Kau ini seperti tidak tau saja apa yang aku benci disana"
Mereka tergelak bersama.
"Aku tau, pasti si nyonya, alasan kamu tak betah dirumah Ayahmu?"
Naya mengerutkan kening. "Ya, Begitulah ." Ya sudah. Kau segera mengurus karyawanku, dan aku akan segera mandi."
Naya memutuskan ponselnya dan melemparnya sembarangan diatas tempat tidur dan segera bangkit untuk bergegas mandi. Menyisakan Tina yang bersungut sungut di ujung telepon.
***
YOU ARE READING
Karna dia yang ada
RomanceAku tak pernah tau apa yang esok akan terjadi. Bila saja Aku tau, Akan kupilih jalan yang tak akan pernah membuatku harus sehancur ini. Karna pada kenyataannya, kau tak tercipta untukku.
