Part 2

40 8 3
                                        


Dering alarm membangunkan Vivi. Dengan mata sayupnya ia berusaha melihat jelas arah jarum jam. Ahh, jam 8, batinnya.

"Ha? Apa? Jam delapan!" Vivi memekik kaget. Ia melihat sekeliling. Sejak kapan aku di kamar? gumamnya pelan.

Di dapur sudah terlihat Dimas sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Tanpa sadar Vivi takjub akan hal itu. Sinar mentari pun menyorot ke arah lelaki yang sekarang sedang ia lihat sibuk meracik bumbu dan bahan yang ada. Ahh Vivi, nikmat manakah yang engkau dustai, batinnya sembari tersenyum kecil.

"Sayang, kamu sudah bangun ternyata," ujar Dimas. Suaranya yang lembut menyadarkan Vivi dari lamunannya. Sorot mata Dimas bergantian dari racikan bumbu lalu ke Vivi.

"A-Ahh, ya begitulah." Dengan kesadaran yang kini pulih, Vivi berjalan mendekati Dimas.

"Ngomong-ngomong, dari mana semua bahan-bahan ini?" tanya Vivi terheran. Dimas pun menjelaskan bahwa villa mereka dekat dengan supermarket.

"Ketika aku olahraga tadi, aku mampir ke supermarket dan membeli beberapa," jelasnya tanpa mengalihkan pandangan dari masakannya. Vivi hanya terdiam dan mengangguk paham.

Tanpa sengaja Vivi melihat kolam renang. Ia terdiam, matanya sedikit sayup. Andai saja aku bangun lebih awal, batinnya.

"Kamu ingin berenang?" tanya Dimas yang serta merta mengagetkan Vivi untuk kesekian kalinya. Vivi hanya menatap Dimas, ia terdiam tak ada sepatah kata apa pun yang keluar.

Lelaki itu hanya tersenyum tanda mengerti. Inilah yang Vivi suka dari Dimas. Ia tak perlu banyak bicara dan tak perlu meminta hingga memohon, laki-laki itu selalu mengerti dirinya.

"Tapi, sepertinya kita tidak bisa melakukannya sekarang," ujar Dimas yang kembali sibuk menata makanan di atas meja.

"Aku tau, makanya ayo kita lakukan besok pagi saja. Bisa sia-sia kita kesini namun tidak menikmatinya."

"Tentu," ujar Dimas sembari mengacak kecil rambut Vivi.

Meja makan saat ini hanya penuh dengan makanan dan tawa canda mereka. Vivi memberikan usulan-usulan tempat yang harus dikunjungi, begitu juga Dimas.

"Tapi, kenapa kamu tidak membangunkanku pagi-pagi sekali tadi? Kita mungkin saja bisa berenang," ujar Vivi.

"Hei, aku bukanlah laki-laki yang tega membangunkan istrinya yang kelelahan hingga tertidur di sofa," sahut Dimas dengan memainkan sendoknya di atas piring.

"Untuk setelah ini, bagaimana kita ke pameran seni dulu? Di tengah kota ada pameran seni yang diadakan tak tentu," lanjut Dimas menjelaskan.

"Hmm, boleh," jawab Vivi sembari menata piring-piring yang selesai dicuci.

Dalam sekejap, Dimas sudah tidak ada di tempat ia berdiri tadi. Mungkin ke kamar mandi.

Sesaat Vivi merasa perasaan yang aneh. Ia merasa tiba-tiba​ suhu ruangan bertambah dingin dan bulu kuduknya berdiri. Tangannya sedari tadi memegang leher sembari memutar kepala ke kanan dan kiri.

Ia memberanikan diri untuk memutar matanya ke segala penjuru ruangan. Ini bukan yang pertama kalinya ia menggelengkan kepalanya mencoba untuk fokus pada dirinya sendiri.

Masalahnya perasaannya mendadak seperti ia sedang diikuti atau diamati. Ditambah ia sekarang sendirian di ruang tengah yang sangat luas. Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan menyetel televisi kuat-kuat.

BRAKKK.

Vivi terperanjat kaget, matanya menangkap sesuatu. Sesuatu seperti gerakan seseorang dari arah kolam renang. Hatinya berulang kali mengatakan kalau itu pasti kucing, namun jiwa rasionalnya selalu berpikir mana mungkin ada kucing di rumah yang sedari tadi tertutup.

The SubconsiousWhere stories live. Discover now