Chapter 1

15 2 1
                                        

CHAPTER 1

London, 07.30 PM
Masih ramai sama seperti malam-malam biasanya. Pedestrian juga masih lalu lalang dilewati oleh beberapa remaja dan orang dewasa yang mungkin baru saja pulang dari kantor. Bangku-bangku taman tak terisi penuh seperti jum'at malam atau sabtu malam, hanya terisi beberapa remaja saja mungkin empat hingga lima orang. Ku lirik jam tangan mungil berwarna cokelat di tangan kiriku, baru pukul 07.35 PM . Ini belum terlalu malam bagi London tapi sudah terlalu dingin udara disini. Ku kalungkan syal biru tua ku ke leher lalu aku simpul sebisaku agar menutupi leher . Langkahku agak ku percepat, aku tak kuat lama-lama berada di luar, apalagi aku hanya menggunakan parka yang tidak terlalu tebal. Bisa-bisa aku menggigil karena kedinginan . Sebuah alunan musik menghentikan langkahku, memaksa tanganku yang sudah nyaman berada di saku jaket untuk mengambil handphone ku di tas. Sudah terlihat di layar ada nomor baru yang meneleponku.
"Hallo?" Sapaku ke penelepon yang tak aku kenali itu .
"Anetaaaa, kapan kamu sampai ? Kamu tega membiarkanku menggigil di luar?" Suara cempreng yang sudah aku kenali, dia Laura sahabatku .
" Ah iya iya aku sebentar lagi sampai di rumah, kenapa juga kamu nggak memberitahuku kalau kamu mau datang? Terus ini kamu pake nomor siapa lagi? Ganti lagi?".
"Entahlah . . Kartuku aku buang, yaudah kamu cepetan pulang dong. Jangan lupa bawain oleh-oleh" .
"Oleh-oleh apa lagi? Jangan minta yang ribet-ribet ".
Brakkk handphone ku terjatuh ke jalan, tubuhku yang rasanya menabrak sesuatu juga jadi tak seimbang dan akhirnya ikut jatuh ke jalan . Aku tak ingat tadi di depan ada tiang listrik atau pohon yang aku tabrak.
"Nggak punya mata ya?" Suara seorang laki-laki yang berdiri tepat di depanku .
"Nggak, kenapa?" Jawabku cuek .
"Dasar cewek gila !" Seraya mengambil handphone nya yang juga terjatuh tak jauh dari sepatunya .
"Bantuin kek ! Udah nabrak nggak tanggung jawab . Handphone ku juga jatuh gara-gara kamu !" .
"Terserah lah ! " Dia pergi begitu saja tanpa menolongku yang masih terduduk di trotoar. Sial, aku malu dilihat pejalan kaki lainnya. Sepanjang jalan pulang aku terus saja menyumpah ke laki-laki yang menabrak ku tadi,
" Aku doakan dia jadi jomblo bertahun-tahun, ngenes sengenes-ngenesnya, sekalian nggak usah punya pacar ".
"Hei, kamu menyumpahi siapa? Aku? Aku dengar tau" tanya Laura yang mendengar ocehanku dari jalan .
"Bukan, lupakan . Ayo masuk . Mukamu udah persis kaya es tuh".

Aneta Apartement, 08.35 PM
"Kenapa kamu lama banget tadi? Modusin cowok di taman apa mas-mas supermarket?" Ledek Laura .
"Diem, aku kena sial tadi di jalan. Mana ditabrak cowok nggak jelas, nggak mau nolongin lagi . Gilak tu cowok" .
"Hahaha cie cie . Jodoh tuh net, pantesan lama banget . Ternyata".
"Jodoh apaan? Mending juga sama mas-mas supermarket daripada sama cowok sinting tadi" . "Noh kan ketauan kalo kamu tuh hobi modusin mas-mas supermarket . . Aha aha" ledekan Laura kian menjadi .
"Terserah . Btw, ngapain kamu kesini? Sampe niat banget kedinginan nunggu aku pulang " . Pertanyaanku tak dijawab oleh Laura, raut wajahnya juga berubah jadi datar. Bibirnya agak pucat, mungkin karena kedinginan tadi . Ia mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya agak keras.
"Lagi?" Tanyaku perlahan .
"Hem . Bahkan lebih buruk " jawab Laura malas .
"What happen?" .
"Mama Papa ku mau cerai" .
"Biasanya kan juga gitu kan kalau setiap mereka debat? Ntar juga baikan lagi kok Ra . Udah tenang aja" .
"Nggak, kali ini mereka serius buat pisah . Setiap hari gitu terus, masalah ini lah itu lah, masalah sepele dibawa-bawa . Aku capek Net denger mereka" wajah riang Laura kian memudar, diganti dengan air matanya yang mulai menetes perlahan membasahi pipinya. Secara refleks aku langsung memeluknya, membiarkan dia membenamkan wajahnya di pelukanku. Mungkin ini yang bisa aku lakukan untuk menenangkannya . Ku tepuk bahunya perlahan berharap ini bisa sedikit menenangkannya.
"Laura, kamu tau bukan? Bahwa setiap hubungan yang dijalani secara terpaksa tak akan baik hasilnya. Papamu mau mencari jalan ke arah yang berbeda dengan mama mu, begitu juga sebaliknya. Mereka sudah berusaha untuk memperbaiki hubungan ini . Mungkin ini jalan yang terbaik untuk mereka" aku tau jika kata-kata ku tak bisa meringankan beban yang dirasakan Laura tapi aku ingin dia lebih tenang . Sejenak kemudian ia menangkat kepalanya dan melepas pelukanku.
"Hei sudahlah . Liat sana wajahmu di kaca . Super jelek tau . Ah jika wajahmu kaya gini pak tukang kebun juga ogah sama kamu" ledekku . Laura mengambil kaca kecil di tas nya
"Matamu rabun? Liat wajahku masih aja cantik kaya gini . Masih mempan buat godain deretan cowok ganteng di kampus". Aku tersenyum melihat Laura yang rasanya sudah kembali seperti biasanya.
" Nah gitu kek, kan cantik " .
"Dasar" tawa kami pun memecah suasana sedih tadi. Aku lupa menceritakan hal apa saja dengan Laura semalam hingga kami berdua tertidur lelap di kasur . Sayup-sayup aku mendengar suara alarm. Ya, ini sudah pagi, pukul 06.00 AM. Laura masih tertidur pulas di sampingku . Aku beranjak bangun mandi juga menyiapkan sarapan hingga akhirnya Laura memanggilku .
"Aneta, matikan alarm mu itu . Dari tadi terus berdering. Gangguin orang tidur" aku rasa aku sudah mematikan alarm ku pukul 06.00 tadi, aku menghampiri Laura dan melihat bahwa yang berdering itu adalah handphone ku . Ada sebuah panggilan masuk dan tertulis di layar nama Kim Samuel. Aku rasa tidak pernah punya kontak dengan nama ini. Ku dekatkan layar handphone ke telingaku.
"Woy, jam berapa ini? Kamu bilang mau jemput di apartement ku? Bohong lagi?" . Aku kebingungan dengan suara si penelpon yang bahkan tidak aku kenali
"Halo? Kayanya kamu salah sambung deh " .
"Wow suara cewek , jadi kamu pacarnya Axel? Nggak nyangka Axel ngajak cewek ke rumahnya" . "Axel? Siapa? Disini ga ada yang namanya Axel . Beneran salah sambung nih cowok " . "Dengerin ya, ini tuh nomornya Axel . Dan dia nggak pernah ganti nomor dari dulu. Kenapa juga handphone nya Axel ada di kamu? " . Ku tutup telepon dari cowok tadi dan mengecek galeriku . Ah benar ini bukan handphone ku, dan kenapa aku nggak sadar juga? Padahal wallpaper nya juga beda . Bodoh bodoh bodoh .  Sekarang gimana cara nemuin handphone ku? Aku bisa gila . Padahal disana banyak file dokumen tugas yang belum sempat aku copy ke laptop. Ga mungkin kan aku harus nyusun lagi dari awal . Aku yakin ini pasti handphone cowok sinting yang nabrak aku kemarin malam.

Axelle Apartement, 08.00 AM
"Sejak kapan handphoneku ku beri sandi pengunci? Aku nggak ingat dan bahkan nggak ingat juga pola sandinya" gumam Axel . Ia mengingat betul-betul apa yang terjadi padanya kemarin . Sontak ia terbelalak teringat dengan gadis di pinggir taman yang ia tabrak . Ya, pasti handphone nya tertukar dengan gadis itu. Ia mondar-mandir di kamarnya memikirkan bagaimana cara menemukan gadis yang membawa handphone nya .
"Arghh . Bagaimana ini? Aku bahkan nggak  ingat nomor handphone ku sendiri dan juga handphone cewek gila ini di beri sandi segala . Siapa juga yang mau bobol handphone nya . Dasar cewek gila cewek aneh" Axel terus saja mengumpat sampai ia tersadar ada yang memencet bel rumahnya daritadi. Ia keluar untuk membukakan siapa yang datang. Langkah kakinya menuruni tangga agak gesit berharap jika tamu yang datang adalah gadis gila yang tertukar handphone nya dengan dia .
"What's up broooo" Sapa cowok tengil berambut keunguan itu.
"Ngapain loe kesini?" Axel kecewa karena yang datang tak lain adalah Samuel.
"Mana cewek baru loe? udah punya pacar aja nggak bilang-bilang " .
"Cewek apaan? Jomblo gini . Loe ngeledek apa ngelawak?" Jawab Axel sambil merebahkan dirinya di sofa warna pastel ruang tamu nya .
"Loh . Tadi gue nelfon ke handphone loe yang ngangkat cewek tuh . Siapa dong?" Pernyataan Samuel membuat Axel menoleh ke arah Samuel dan menatapnya dengan serius .
"Kenapa nggak bilang daritadi? Terus loe tau alamat cewek itu?" Tanya Axel penasaran .
"Ya enggak lah, nanya aja belum udah dimatiin aja ".
"Bantuin gue, handphone gue ketuker sama cewek gila itu. Telfonin kek" .
"Dih ogah ah, telfon sendiri sana" .
"Kalo gue inget nomor hp gue udah gue telfon dari tadi" . Samuel tertawa terbahak-bahak . "Kenapa loe malah ketawa? Ikut-ikutan sinting kaya tuh cewek ya?" Axel bahkan tak menemukan dimana letak kelucuan yang membuat Samuel tertawa .
"Haha . Loe nomor sendiri nggak inget? Pantesan loe jomblo terus . Kalo cewek-cewek pada minta nomor loe, loe jawabnya nggak apal gitu? Haha" .
"Udah deh, loe niat bantuin gue nggak? " . Tawa Samuel mulai berhenti dan tangannya mulai meraih handphone di saku jaket kanannya . Sejenak dia memencet beberapa tombol di layar handphone nya dan menunggu jawaban dari panggilan di seberang .
"Nggak diangkat bro" .
"Coba lagi" . Samuel kembali melakukan panggilan, ia menunggu beberapa saat hingga akhirnya terdengar suara cewek
"Hallo?" .
"Wih diangkat nih bro . Loe sendiri apa gue yang ngomong?" Axel langsung menyaut handphone yang dipegang Samuel .
"Eh cewek sinting, handphone gue loe bawa ya? Cepet anterin ke apartement gue secepatnya . 15 menit sampe sini " .
"Loe minta gue naik pesawat jet gitu biar sampe apartement loe? Dengerin ya dasar cowok songong . Gue ogah nganter handphone loe . Ambil sendiri handphone loe . Gue tunggu di cafe seberang jalan London Park jam 11" .
"Eh loe yang songong, gue juga ogah nganter handphone loe ke cafe. Hallo? Heh? Malah dimatiin" .
"Gue saranin mending loe cepetan siap-siap deh kalo mau handphone loe balik. Lumayan tuh ketemu cewek". Axel mengambil kunci mobil lalu keluar ke garasi dan menancap gasnya pergi.


Hallo ini karya pertama dari author . Mohon dukungan dan sarannya ya . Vote dan comment ^^

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 24, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Only You Don't KnowWhere stories live. Discover now