1886 words!
Happy Reading~
“kupikir kita sudah resmi saling mengenal.” _Rowoon_
_ROWOON POV_
Siapa yang menyangka perasaan cinta bisa muncul hanya dari sebuah kata sederhana seperti “hai”. Percayalah itu benar terjadi padaku. Pertama kalinya aku melihatnya di depan mading sekolahku yang dekat dengan ruang guru. Saat itu semua murid di kelas XI yang terbagi dalam beberapa kelas langsung berhamburan keluar dari kelasnya dan berkumpul di depan mading yang besarnya tidak seberapa. Perhatian mereka semua tertuju pada secarik kertas putih yang baru saja ditempel disana, kertas yang menjadi petunjuk untuk semua murid kelas XI untuk mengetahui apa mereka akan melanjutkan ke kelas selanjutnya atau tetap tinggal di kelas XI.
Terkecuali aku, saat itu aku sedang tertidur di atap sekolah karena cuaca saat itu begitu hangat dan angin bertiup dengan sepoi-sepoi membuat poni depanku tertiup ke samping saat aku tertidur lelap. Aku terbangun kala bel tanda masuk berbunyi dengan keras membuatku terkejut. Segera aku meregangkan tubuhku yang kaku karena posisi tidur yang memang err kurang pantas sepertinya. Dan berjalan cepat turun ke bawah menuju kelasku.
Saat aku berjalan melewati mading yang masih ramai dengan murid-murid kelas XI. Aku berhenti sebentar dan perhatianku segera terpusat pada kertas putih yang seperti nya baru di tempel disana karena pagi tadi belum ada. Aku mendekat dan mencoba mencari-cari namaku disana dengan ibu jariku yang menuntun mataku menemukan namaku. Aku bersyukur dengan tinggi badanku yang 177 cm membuatku tak perlu bersusah payah berdesakan dengan murid-murid lainnya. Chajatta! Syukurlah namaku tertera disana, kupikir aku akan tinggal di kelas XI satu tahun lagi. Tanpa sadar bibirku tertarik ke atas dan membentuk sebuah simpul senyum lega.
Aku merasakan sesuatu yang aneh, aku merasa ada seseorang di belakangku. Saat aku berbalik, benar saja. Ada seorang gadis berkacamata yang sepertinya bersusah payah mencoba melihat kertas putih yang sama yang kulihat tadi. Aku menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal sambil tersenyum kikuk padanya sebelum menggeser tubuhku kesamping agar dia lebih leluasa melihatnya.
Kuperhatikan dia yang sedang mencoba mencari namanya, sesekali ia berjinjit mencoba membuat dirinya lebih tinggi dari kerumunan namun gagal karena yah tingginya yang terlihat seperti anak kecil untukku. Aku menghampirinya dan menepuk bahunya pelan.
“siapa namamu?” , tanyaku padanya yang justru mendapat tatapan bingung darinya. Perhatianku langsung beralih ke name tag yang terpasang di rompi seragamnya sama seperti murid lainnya. Ah namanya Bomi. Apa 'Bomi' dalam arti musim semi? Nama yang cantik, pikirku. Tepat setelah mengetahui namanya aku segera berjinjit dan mencoba mencari-cari nama 'Bomi' disana. Setelah beberapa saat aku menemukannya, nama 'Bomi' tertera di sana. Bomi dari kelas XI A. Aku tersenyum padanya dan memberitahunya bahwa nama nya tertera disana. Wajahnya yang tadinya menunjukkan raut wajah khawatir langsung berganti dengan raut wajah lega. Ia tersenyum sambil menutup matanya seperti bersyukur di dalam hati karena ia menggenggam kedua tangannya di depan dadanya, nampak seperti orang yang memang sedang bersyukur bukan?
Tanpa sadar aku juga ikut tersenyum melihatnya. Senyumnya benar-benar damai untukku. Oh apa ini? Jantungku kenapa? Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya! Apa aku punya masalah dengan jantungku? Apa aku terlalu banyak tidur? Aku segera menggelengkan kepalaku menyingkirkan pikiran negative seperti itu. Dan bersamaan dengan itu, bel tanda masuk kembali berdering untuk yang ke dua kalinya. Aku langsung pamit dengannya.
“aku pergi dulu.” , dan langsung berlari menuju kelasku tanpa memberinya kesempatan untuk menjawabku.
_BOMI POV_
Kau tidak akan pernah tahu kapan perasaan seperti cinta itu datang. Ia datang tanpa kita duga-duga. Itu juga terjadi padaku, percayalah. Saat itu aku pikir aku hanya merasa berterima kasih karena dia membantuku saat di depan mading dua hari yang lalu. Tapi sepertinya tidak sesederhana itu, karena ingatanku saat dia tersenyum kikuk padaku terus terlintas di kepalaku. Dan tanpa sadar aku juga langsung ikut tersenyum, awalnya aku berpikir kalau aku mungkin gila senyam-senyum sendiri. Terkadang aku menampar pipiku sendiri untuk menyadarkan pikiranku, benar-benar konyol, pikirku.
YOU ARE READING
I Smile
RomanceKita hidup tanpa saling mengenal satu sama lain sebelumnya.. Tapi sekarang.. dengan kalimat sederhana seperti "hai" , kau dan aku menjadi "kita" sekarang.. Tapi siapa yang tahu.. Berapa lama lagi aku bisa bersamamu.. Ps : ini bukan FAN FICTION! Bebe...
