Chapter 1 - Kelinci Gila

99 10 0
                                        

Nara POV

Tuhan, semoga hari ini akan menjadi awal yang baik untuk hari-hari berikutnya. Dan sekolah ini akan menjadi tempat terakhir yang aku tempati.

Hari ini bertepatan dengan hari kelahiranku juga hari dimana aku akan memulai segala aktivitas di sekolah baruku. Rasanya malas sekali saat aku harus berpindah-pindah sekolah dari tempat satu ke tempat yang lain. Tapi, ya mau bagaimana lagi.

Seperti inilah nasib sial menjadi seorang anak tentara. Setiap ada pindah tugas kerja ke luar kota, dengan terpaksa harus pindah sekeluarga.
"Sayang, sarapan dulu!"
Itu ibuku. Iya. Dia selalu saja memperlakukanku layaknya seorang bayi.
"Nanti saja di sekolah bu!" Teriakku sambil merapikan tali sepatu sekolahku.
"Apa?" Teriak ibuku dari dapur.
"Aku sarapannya nanti aja bu!" Teriakku sambil berdiri. "Nara pamit sekolah ya! Asalamualaikum!!" Sambungku sambil menutup pintu.

Author POV
Nara melangkahkan kakinya turun dari bus yang ia naiki. Ia menghembuskan nafasnya. Gugup. Iya. Dia selalu gugup setiap saat akan masuk di awal sekolahnya yang baru.

Bagaimana dia tak gugup. Semua orang di sekolah barunya itu tidak ada yang dia kenal.

"Tuhan tolong beri aku teman. Kali ini saja." Batin Nara.

Wajar saja Nara berdoa seperti itu. Karena setiap kali dia berpindah sekolah dari sekolah satu ke sekolah yang lain, dia tidak pernah mendapatkan teman. Satupun tidak ada. Maka dari itu sekarang dia berharap mendapatkan teman.

Dia memasuki lapangan sekolah. Belum banyak orang di sana. Karena saat ini jarum jam menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit.

Suasana pagi membuat Nara merasa kedinginan yang sangat mendukung untuk rasa gugupnya.

"Wahhh. Oke. Sekolah ini lumayan juga. Luas, bersih, bangunannya...-" Nara berucap kecil hanya untuk menghilangkan kegugupannya. Namun tiba-tiba bola basket menghantam kepalanya.

"Awww...." Nara meringis sambil memegang kepalanya.

"Woy!!" Tersedengar seorang laki-laki meneriaki Nara.

Nara mendengus dan menoleh ke arah orang yang meneriakinya.

Kini mereka beradu pandang.

"Bolanya!" Teriak laki-laki itu.

Nara POV
Aku mengerutkan dahiku dan mengeluarkan ekspresi bertanya "Apa?"

"Itu... bolanya." Dia berteriak lagi.

Ah dia begitu manis. Dari kejauhan saja dia terlihat tampan. Kulitnya yang putih. Bibirnya yang terlihat merah. Alisnya yang tebal semakin membuatnya tampan. Postur tubuhnya yang ideal untuk seorang remaja.

"Woyyy!!" Dia berteriak keras membuayarkan lamunanku. Kali ini ekspresi wajahnya menjadi garang.

"Cepat ambilkan bolanya. Malah bengong. Dasar cupu."

Apa? Cupu? Dia bilang aku cupu? Yang benar saja.

Aku mengeratkan kepalan tanganku yang saat ini ingin sekali aku menghajarnya. Berani-beraninya dia mengumpatiku dengan kata cupu. Kalau begitu aku akan menarik kembali perkataanku yang mengandung unsur pujian tadi terhadapnya.

Dia berjalan ke arahku. Lebih tepatnya lagi ke arah bola itu. Aku kira dia akan meminta maaf soal bola itu yang mengenai kepalaku. Tapi dia malah ngomel-ngomel kayak ibu-ibu rumpi. Dasar kelinci.

Ya. Dia seperti kelinci. Dua gigi depannya itu seperti kelinci. Dasar kelinci gila!!!

Author POV
Remaja laki-laki itu melewati Nara yang masih menatap kesal kepadanya. Nara menghampiri laki-laki yang saat ini sedang mengambil bola basket.

"Kau!!"

Laki-laki itu berbalik. Matanya tepat di mata Nara. Mebuat jantung Nara berdetak sangat kencang.

"Apa?" Tanya laki-laki itu santai.

"K...kka...kau."

"Aduhhh. Kenapa ini. Kenapa aku jadi sangat gugup. Dia memang tampan. Sangat. Chhhh. Apa-apaan aku ini. Bukannya laki-laki ini adalah si kelinci gila itu. Tenang Nara. Kamu pasti bisa. Kamu harus membalas perkataan dia. Kamu harus memberi dia pelajaran." Batin Nara.

"Minggir. Aku lagi sibuk." Kata laki-laki itu sambil berjalan menubruk Nara. Dan kembali memainkan bola basketnya.

Nara memicingkan matanya. Kali ini dia sangat kesal. Dan kemudian dia berlari menghampiri laki-laki itu. Suasana sekolah masih sedikit murid yang datang.

"Hei! Tadi kau bilang aku cupu. Memangnya kau ini siapa? Hah?! Dasar kelinci gila!!" Nara berteriak pada laki-laki itu meskipun sebenarnya posisi mereka sangat dekat.

Nara mengambil bola basket yang berada di tangan laki-laki itu dan melemparkannya ke sembarang tempat. Dan tunggu apa lagi. Nara langsung lari terbirit-birit sambil meluapkan rasa puasnya karena dia merasa sudah berhasil membuat laki-laki itu kesal.

"Yaaaaa!!! Apa-apaan ini? Cupu! Jangan lari!!!"

Laki-laki itu tidak mau kalah dengan Nara. Dia pun mengejar Nara dengan sekuat tenaga.

Tiniiiiiinnnnng...

Tak terasa saat ini bel telah berbunyi. Laki-laki itu masih mencari keberadaan Nara. Namun apa daya. Nara sangat sulit untuk ditemukan.

"Ckk. Kemana perginya si cupu itu."

Di sisi lain, Nara tengah keluar dari persembunyiannya. Ternyata dia bersembunyi di toilet perempuan. Pantas saja laki-laki itu tidak kunjung menemukannya. Apalagi sekolah ini sangat luas.

"Hahaha. Dasar kelinci bodoh. Main petak umpet saja sudah kalah tanding. Ini sok jagoan main bola basket. Dasar kelinci GILA." Umpat Nara sedikit penekanan di kata "gila".

**TBC**

Nothing Like UsWhere stories live. Discover now