1. Hope

16 3 0
                                        

Bukan kah seharusnya aku menyelesaikan skrip(shit)-ku ini secepatnya, wisuda, ambil spesialisasi, melamar pekerjaan sebagai Dokter Spesialis Kandungan di sebuah rumah sakit besar, buka klinik bercabang-cabang, melaksanakan hasrat tur keliling tanah Thailand hingga Turki, lalu menggaet seorang Dokter muda ganteng nan tajir dan kemudian dinikahi olehnya...ah bahagianya!

“Woyy! Ngelamun aja lo, kesambet yang nunggu di perempatan sono tau rasa lo.”

Buyar sudah buyar...hancurr lamunanku terganggu

“Lah, lo kira yang suka main icik-icik di lampu merah bisa nyambet?”

“Tuh tuh, punya otak suka gak dipake tuh Yo si Kiaracondong mah!” Oriza sahabatku dari orok udah mulai sewot jam segini. Main ganti nama sesuka ingusnya meler saja.

“Apaan lo juga ganti nama gue kayak stasiun dasar beras! Iyasih hati gue kebanyakan cuma mampir berhenti lalu pergi mirip deh kayak stasiun.” Sahutku mendengus dan mulai mendramatisir keadaan.
Betewe, kenapa Oriza aku panggil beras karena namanya cukup unik seperti nama ilmiah padi (Oryza Sativa) haha...

“Lagian lo kenapa sih Ra masih pagi bengong aja, udah bimbingan lo?” Rio menyahuti.

“Mau bimbingan gimana coba tinggal satu penguji aja rasanya kayak udah gantungin harapan gue banget. Kalian tau sendiri kan gimana nggak beruntungnya gue dapet dosen pembimbing kayak Pak Edi gitu, sibuk ngurusin jadwal manggung istrinya kali. Udah bengis, ditemuinnya susah.” Jawabku frustasi.

Bagaimana tidak, selama ini 2 dari 3 pengujiku sudah acc skripsiku dan jalan untuk sidang dipersulit karena dosenku yang bernama Edi Tampubolon semakin sulit ditemui. Fisiknya yang serupa hampir sama dengan suami Mbak Inul Daratista yang berkumis aduhai itu semakin membuatku gemas saja.

Padahal sudah dari jam 7 pagi aku nangkring dikantor Fakultas tapi tak kutemui sampai jam10 aku berakhir tragis di kantin dengan 2 temanku yang setengah waras. Ya, mereka berdua sih bahagia merona-rona gitu secara Minggu depan sudah siap disidang jadi Sarjana Kedokteran, nah aku? Aku mah apa atuh cuma butiran Marimas, diaduk juga anyut.

-----

“Dek, turun makan duluu!”

Aku sudah tau suara siapa yang hobi teriak-teriak itu. Lebih memilih teriak daripada nyamperin aku ke kamar ketika disuruh Bunda mencariku. Siapa lagi kalau bukan abangku yang selisih 6 tahun lebih tua dariku. Tapi jangan salah, dia selalu overprotektif terhadapku.

“Apaan sih Bang! Kebiasaan banget deh lo udah mau kawin juga, kelakuan masih kayak Tarzan hidup di rimba.” Aku mendengus.

“Bilang aja lo iri kan gue mau kawin, eh, nikah dulu baru kawin Dek! Lagian gue juga males kekamar lo, penuh banci haha.” Ujarnya sambil nyengir.

“Eh, itu bukan banci yaa, artis Thailand mah gitu gantengnya krazhaa banget daripada elo Bang, masih untung Mbak Marsha mau sama modelan kayak Bang Kathan gitu.” Ucapku bangga membela artis-artis Thailand pujaanku.

“Udah-udah Kiara,Kathan kita sarapan dulu yuk bareng, Bunda keburu ada praktek jam 8. Emm, Rara kamu sidang kapan nak?”

“Boro-boro sidang Bun, dia belum di acc tuh skripsinya.” Abangku menginterupsi dan sukses membuatku memberengut sebal.

“Oh yaudah gapapa, kamu sendiri persiapan sama Marsha udah sampai mana Ket.”

“Sampai lupa nikahnya kapan, Bun!” kali ini aku menyela dan terbahak-bahak melihat ekspresi melotot Abangku.

“Apaan deh lo Dek, udah selesai semua Bun Insyaallah udah 85% tinggal fix-in gedung sama temen aku aja.”

“Ya, si Gilang lekas ditemui dong Bang, biar lega nanti tinggal Bunda siapin yang kecil-kecil.”

Aku yang tak berminat dengan obrolan dewasa ini hanya diam mengunyah paha ayam sambil menyimak dengan satu kaki yang nangkring diatas kursi.

“Udah Bun, janjian sama Gilangnya hari ini kok. Kalo gitu Abang berangkat dulu deh Bun, Dek, udah mepet daripada macet.”

“Bunda juga berangkat ya Dek, nanti kalo nggak kekampus tolong ketempat Budhe Ranti ya, Bunda nitip catetan katering ini.”

“Siap Bundaaa!”

Padahal aku setengah lupa dimana rumah Budhe Ranti, akhirnya kuputuskan mengajak salah satu dari beberapa alay di grup pertemanan whatsapp :

GRUP ARISAN

Kiara Ghariza A.~ cek-cek..

Orizaaa~ wah, Kiaracondong ol pasti ada maunya nih

Dhira Afdhala~ cek-cek-cok..

Yoga Pradana~ brisik nyet, gue lagi bimbingan sama bu Asti, dosen paling hedon seantero jagat perkampusan

Kiara Ghariza A.~ alay deh Yog!

Kiara Ghariza A.~ pada dikampus ya, yaaahhh padahal gue mau minta temenin ke daerah Lippo Mall

MikhaylaP~ gak sekalian ke Amplaz Ra?

Oky Alex~ wah mau cod-an sama cowok ni pasti

Kiara Ghariza A.~ mulut lo Ky! Minta banget dicabein 20kg

Rio Putra W~ wah sorry loh Ra, bukannya gue sombong tapi gue maju belajar besok sidang

Hishhhh...aku hanya bisa mendengus sebal saat ini. Setelah menimang-nimang sekian lama lebih baik aku whatsapp Bunda dan pergi bersama Bunda saja, jemput Bunda sekalian main ke tempat praktek Bunda. Sekalian mana tau ada Dokter cakep disana unchh..sekali aku ini muehehe

To : Bundaaa
Bun, aku belum ketempat Budhe Ranti. Rara lupa jalannya bun. Sekalian sama Bunda aja ya, Rara jemput di tempat praktek aja.

From : Bundaaa
Yaudah gakpapa Dek, jemput bunda jam 3 ya sayang..

To : Bundaaa
Ok bun.

-----

“Eh, mbak Rara, mau cari Bunda nya yah?” perawat bangsal yang sudah sangat mengenalku ketika kami bertemu di lobby rumah sakit.

“Yaiya dong Pak, masa nyari Bapak ntar saya bisa digantung di Monjali sama istrinya.” Selalu saja asal bicaraku kumat.

“Hehe mbak Rara bisa aja.” Si Bapak yang kukenal sebagai Pak Rahman malah tersipu-sipu laknat.

Menyusuri koridor rumah sakit yang tidak begitu besar ini membuatku mudah saja menemukan letak ruangan Bunda bekerja. Setelah kulambaikan tangan dari luar, Bunda menjawab seolah mengatakan ‘tunggu dulu’ dibalik jendela kaca.

Dan akhirnya disinilah kami berada, dirumah Budhe Ranti membicarakan katering yang Bunda pesankan untuk acara pernikahan Bang Kathan. Rumah ini kalau tidak salah pernah akrab dengan masa kecilku. Dan yaa..rasanya aku pernah bermain dihalaman rumah ini bersama...

“Eh, Tante Frida, apakabar Tan? Eh, ada Rara juga, ini beneran Rara kan ya Tante?”

Keandra.

Aku pun melongo...

TBC

----------
Hai-hai para readers yang budiman, maaf ceritanya belepotan. Jangan dibully apalagi di umpat-umpat karena baru nulis pertama. Dan set nya memang sengaja ambil dikota Jogja, padahal bukan asli sana, suka aja sih, jadi kalo tempatnya agak gak nyambung ya dinyambung2in aja ya hihi (dih maksa)..
Usahakan apdet cepet biar gak terlanjur ilang feel kayak cerita ku yang pertama yang kan kuhapus segera (dih sedih)..
Selamat menikmati, tekan bintang kalo suka yes hihi

Karanganyar, 10 Jul. 17

HOPEStories to obsess over. Discover now