Di Paruh Waktu

24 2 0
                                        


"Untuk rencana pembukaan cabang baru, aku serahkan seluruhnya kepadamu. Masalah perizinan, tempat dan lain sebagainnya kau yang atur. Serahkan berkas laporannya kepadaku maksimal satu minggu sejak hari ini. Aku rasa, sudah sepantasnya kau terjun untuk hal ini." Kataku penuh percaya.

Dalam ruang kerja yang berukuran kurang lebih 7 x 5 meter, aku duduk berhadapan dengan Yuda, orang kepercayaan sekaligus asisten pribadiku. Kami hanya terhalang sebuah meja kantor berukuran sedang yang permukaannya terbuat dari batuan alam, orang-orang biasa menyebutnya batu marmer. Sebuah foto berukuran 30R yang menampilkan wajahku dalam situasi sangat resmi terpampang lugas tepat dibelakang kursi kerjaku. Jam dinding klasik yang menggantung di sudut kanan ruangan mengabarkan bahwa waktu telah berada pada pukul 11.30. Sementara itu, udara sejuk yang diiringi wewangian beraroma lavender telah menguar menyelinapi indera penciuman kami berdua.

"Tapi Uda..." Jawab Yuda, sedikit gugup.

"Sudahlah Yud, aku tak mau terlalu dipusingkan dengan hal semacam ini. Lagi pula, aku sudah memikirkan ini jauh-jauh hari. Dan aku rasa, ini bukanlah hal yang terlalu sulit bagimu." Sergapku.

Yuda sedikit menurunkan pandangannya ke arah tumpukan berkas-berkas penting di atas meja. Dadanya terlihat naik turun tersebab tarikan nafas panjang. Sementara itu, dalam perspektif yang lain, aku tahu betul bahwa ini adalah sebuah kepercayaan yang tak murah. Atau bahkan, ini semacam perjudian nasib sebuah perusahaan. Tapi meskipun demikian, aku sama sekali tidak meragukannya lagi. Sebab,  tidak ada sedikitpun keraguan untuk orang yang benar-benar aku percaya.

"Jika sudah tidak ada yang ingin disampaikan lagi, kau boleh pergi." Kataku, lagi.

Yuda masih tertunduk. Dahinya berkerut. Sementara nafasnya masih naik turun dalam ritme yang stabil.

"Baiklah Uda. Permisi..." Katanya, sembari mengangkat bokongnya dari kursi.­

Sepanjang langkahnya menuju pintu, Yuda tampak lunglai, kepalanya terus menunduk. Sebenarnya ini adalah kabar baik, tapi entah kenapa aku seolah memberi kabar yang membuatnya risau dan menimbulkan rasa cemas yang begitu hebat. Ah Yuda, sebuah awal memang selalu terasa berat dan menghawatirkan. Tapi aku rasa, yang dibutuhkan saat ini hanyalah sebuah keyakinan dan keberanian. Satu hal lagi, dia perlu tahu bahwa aku tak akan mungkin sembarang memberi kepercayaan semacam ini kepada orang yang asal-asalan. Ah, barangkali memang tak ada lagi rasa percayaku kepada orang-orang di perusahaan ini selain kepadanya. Kalaupun ada, mungkin memang tak akan sebesar ini. Sebab tak bisa aku pungkiri bahwa sejarah telah mencatat betapa banyak aku berhutang budi padanya. Kalau saja dia tidak terus setia berada disampingku, mungkin kisahnya tak akan sampai seperti ini. Ah sudahlah.

Perlahan, Yuda mulai lenyap di telan pintu.

Tidak lama berselang, aku segera bangkit dari kursi kerjaku. Berjalan mendekati cermin yang menempel di sisi dinding ruangan. Perlahan, aku mulai memeriksa detail penampilanku dari kepala hingga kaki. Tak lupa pula, aku pun memperhatikan penampilan rambut dengan seksama. Sebab, bukankah mahkota 'Sang Raja' harus selalu terlihat mempesona? Bukankah aku harus selalu terlihat rapih dan berwibawa di hadapan rakyat-rakyatku?

Akhirnya, dengan langkah penuh wibawa, aku keluar ruangan dibalut wajah serius dan tatapan yang tajam.

"Selamat siang Pak." Ucap beberapa staff kantor yang secara kebetulan melintas di depan ruanganku. Mereka menundukkan kepala dan berhenti sejenak tepat dihadapanku.

"Selamat siang." Balasku sembari tersenyum ramah ke arah mereka. Lalu aku sedikit menganggukkan kepalaku, sebagai isyarat untuk mempersilahkan mereka kembali pada pekerjaan mereka masing-masing. Mereka pun berlalu dari hadapanku.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 10, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

ADINDAWhere stories live. Discover now