Prolog

80 9 0
                                        

Di taman itu, anak-anak bermain dengan riang. Hanya satu anak yang duduk sendirian di bangku taman. Anak perempuan berumur 9 tahun itu duduk sambil menengadahkan kepalanya ke langit. Rambut panjangnya hitam legam serta tebal, wajahnya manis, tapi ekspresinya tak memancarkan kebahagiaan. Ia menatap sedih kepada anak-anak yang bermain bersama ayah dan ibu mereka. Dia berfikir, untuk apa dia berada disini? Toh hanya membuat sakit hatinya saja. Ia menghela nafas panjang, lalu ia turun dari bangku taman dan mulai berjalan perlahan menuju rumahnya. Pikirannya tak pernah lepas dari 3 sosok itu. 3 sosok yang telah menyakitinya. Membuat luka yang sangat besar. 3 sosok yang telah membuatnya trauma akan orang lain. Ia kini sendirian. Setelah sampai di rumah, dikeluarkannya kunci rumahnya dari saku celana yang ia kenakan. Derit pintu dari rumah yang sangat besar ini terdengar. Saat pintu terbuka, tak ada yang menyambutnya. Ia tersenyum pedih. Yang ada disini hanya... Sepi.

"Aku pulang," ujarnya. Walau ia tau tak akan ada yang menjawabnya, ia tetap mengucapkan kalimat itu.

Bi Darmi pasti sudah pulang, pikirannya. Ia masuk dan naik ke kamarnya yang berada di lantai 2. Kamarnya berbeda dari anak-anak perempuan seusianya. Dinding kamarnya berwarna hitam dan putih. Tempat tidur berukuran king size berada tempat di tengah ruangan ini dengan nakas disamping kanan dan kiri tempat tidur. Diatas nakas terdapat lampu tidur. Jika difikirkan, rumah yang besar beserta isinya ini hanya untuk dirinya sendiri? Ya... itulah kenyataannya. Ia sendiri disini. Hanya Bi Darmi yang menemaninya. Ia menghambur ke atas tempat tidurnya dan menangis tersedu-sedu. Ia mengingat 3 sosok yang dulu menemaninya. Ini sudah jam 6 sore, sebentar lagi malam tiba. Untunglah besok minggu. Jadi, ia tak perlu sekolah dengan mata sembab. Ia terus menangis. Bantalnya basah karena air matanya. Beberapa menit setelahnya, ia berhenti menangis. Ia bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju kamar mandi, membuka bajunya dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan shower. Ia mandi sambil merenung. Ini sudah keputusannya dan sudah tidak bisa diubah.

Setelah selesai mandi, ia memakai piyamanya dan pergi menyalakan televisi. Pikirannya tak bisa tertuju pada acara di televisi. Ia membuka laci nakasnya, lalu ia mengeluarkan foto yang diberi bingkai. Difoto itu terdapat 3 orang. Dibaliknya foto itu. Terdapat tulisan di belakang foto itu.

ANNE CHEERLY CALISTA, MAMA DAN PAPA

Dipandangnya lagi wajahnya dan kedua orangtuanya di foto itu. Setetes air mata membasahi pipinya. Dipeluknya foto tersebut. Lalu, diambilnya lagi foto yang lain di dalam laci nakas. Difoto tersebut terdapat 2 anak berumur 7 tahun tersenyum bersama. Mereka sangat bahagia. Dibaliknya juga bingkai foto tersebut. Seperti foto pertama, ada tulisan di belakang foto itu.

ANNE CHEERLY CALISTA DAN HANNY OLIVIA

Dipandangnya kedua foto tersebut dengan pedih.

"Kedua orangtuaku pergi, Hanny. Kenapa kau, sahabatku juga ikut pergi? Apa salahku Hanny? Apa yang telah kuperbuat padamu?" ujarnya sambil menangis, "Aku rindu kalian."

Anne menangis. Ia lain dari yang lain. Ia anak-anak tapi sudah bisa berfikir dewasa. Ia juga anak yang pintar. Sayangnya, ia membangun tembok es di sekelilingnya. Ia takut disakiti lagi. Ia takut orang lain akan berbuat jahat padanya seperti 3 sosok yang paling disayanginya menyakitinya. Anne menangis sambil memeluk kedua foto tersebut. Tak lama kemudian, ia tertidur.

ALONEWhere stories live. Discover now