Lorong itu begitu sunyi, dinding lembab yang dipenuhi lumut juga tanpa penerangan samasekali membuat gadis kecil itu merinding ketakutan, digenggamnya
erat telapak tangan kakaknya yang sejak tadi diam tanpa banyak bicara.
"Kakak..." cicit gadis kecil itu pelan sambil menarik jaket yang dikenakan kakanya.
Mulut lelaki itu tetap diam, tidak mengeluarkan sepatah katapun sejak tadi, membuat gadis kecil itu semakin dibuat ketakutan dengan diamnya sang kakak.
"Kak Lingga.. Ais takut.. Mau pulang aja.. Hikss.." akhirnya isakan yang sejak tadi ditahannya meluncur begitu saja dari bibir mungilnya.
Mendengar isakan Ais, Lingga segera menghetikan langkahnya. Ia berjongkok mensejajarkan tingginya sembari menghapus air mata yang masih mengucur deras dikedua bola mata adiknya dengan sayang, sesekali merapikan rambut Ais yang sudah tidak karuan karna terpaan angin.
"Denger Ais, kaka sayang banget sama Ais, sayangggg banget.. Makanya kalau ada yang jahatin Ais kaka engga bisa tinggal diem, kaka harus lawan orang itu karena berani macem macem sama adik yang paling kaka sayang." ucapnya sambil tersenyum.
"Yang kemarin preman itu lakuin ke Ais udah kelewatan, melanggar batas.. Inget apa yang mereka lakuin ke Ais?" lanjut Lingga kini dengan suara yang lebih tegas.
Ais mengangguk pelan, tangan kecilnya menghapus air matanya cepat.
"Inget apa pesen kakak sama ibu guru Elsa?" tanyanya lagi untuk yg kedua kali.
YOU ARE READING
Nothing Like Us
RomanceNamanya Aisa Gauri, nama indah yang berarti "Gadis Cantik Pembawa Kebahagiaaan". Tidak seperti namanya, Ais jauh dari kata 'pembawa kebahagiaan' orangtuanya bercerai tak lama setelah Kakaknya -Lingga- meninggal dunia. Ayah dan Ibu Ais pun saling men...
