Lembut sang bayu masih terus membasahi bumi. Gadis itu masih termenung di balik jendela kamarnya. Menatap kosong pada tiap-tiap rintikannya. Ia mendesah pelan, sepelan ia mencoba memejamkan mata kembali mengingat sosok yang selama ini ia tunggu.
"Entahlah, aku selalu merindu hujan, karena senyummu merupa pelangi." Ia rebahkan tubuh lemah itu pada ranjang kesayangannya.
4 tahun menanti pria yang telah berjanji akan kembali, menyiapkan diri untuk kembali disinggahi. Semua itu percuma setelah sebuah perjanjian yang ia sendiri tidak menyepakati mengikatnya pada seorang pria lain.
Pintu kamarnya perlahan terbuka, menampakkan seorang wanita muda. "Crista, seseorang telah menunggumu di ruang tamu." Perlahan Mariska mendekati keponakannya itu. Usianya hanya terpaut 2 tahun dari Crista. Sudah 10 tahun mereka tinggal bersama setelah kepergian orangtua Crista.
Tubuh mungil itu bangkit dari pembaringannya, ditatapnya Mariska yang sudah berada tepat di samping Crista. Pandangannya masih kosong, ia merasakan nyeri dalam hatinya. "Kau harus menemuinya." Mariska menegaskan.
Seulas senyum menghiasi wajah cantik Crista, senyum yang selama ini ia jadikan topeng untuk menutupi segala kepedihannya. "Kau tahu? Kau tak perlu menanti pria brengsek itu, karena ada seseorang yang dengan senang hati mau menerima kesalahanmu di masa lalu." Mariska mengusap lembut ujung kepala keponakan satu-satunya itu. Crista masih membisu dengan wajah kesal yang terpaksa ia sembunyikan.
'Ah, benar dugaanku. Dia sudah kembali ke Indonesia.'
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsesi
RomanceAkankah kau kembali menjadi pemenang setelah sekian lama kau hanya sebatas kenang?
