Yuki no you ni tsumetai

19 2 6
                                        

YUKI NO YOU NI TSUMETAI
 
(visual kei fanfiction)
genre : angst, PG15, straight & shonen ai
fandom : OFC & Alice Nine
language : Bahasa Indonesia

my old fic :)

--------- Ruu PoV ---------
 
Seperti biasa aku berpura-pura tidur ketika ia datang -kudengar suara kenop pintu diputar, aku sudah tahu siapa yang akan datang ke kamarku. Terdengar langkahnya yang kini sampai di samping tempatku terbaring lemah. Mataku terpejam tapi aku tidak tidur. Ada suatu alasan kenapa aku selalu berpura-pura tak melihatnya datang, lalu membiarkannya pergi lagi setelah membenarkan selimutku dan memberiku ciuman kening.
 
Aku tidak tahu kenapa aku jadi bersikap seperti ini. Sejak melihat sendiri kenyataan pahit waktu itu. Hingga kuputuskan aku membenci semua orang. Aku tidak ingin lagi menyayangi orang-orang yang -mungkin- berpura-pura menyayangiku. Hatiku terlalu sakit. Bahkan melebihi sakit yang menggerogoti tubuhku.
 
"Cepat sembuh Ruu."
Kudengar suaranya pelan diiringi suara benda yang diletakkan di meja -aku yakin itu segelas air bersama lusinan obat di sebelahnya.
 
Aku masih berpura-pura tidur. Bersyukur karena sandiwaraku selalu berhasil sejauh ini. Dan semoga apa yang selama ini kujaga untuk selalu tersimpan juga takkan diketahuinya.
 
"Aku ingin kau segera sembuh dan kembali seceria dulu."
Tambahnya kemudian. Setelah itu hanya kudengar suaranya melangkah pergi dan menutup pintu. Saat itulah aku berani membuka mataku. Namun semua yang kulihat menjadi buram karena ada genangan airmata yang menghalangi pandanganku.
 
Maaf nii-san. Aku tak bisa menuruti kata-katamu lagi.
 
________ Flashback Author PoV ________
 
 
Bersemangat sekali ia membukakan pintu untuk tamunya. Menyambut seorang laki-laki tinggi ramping nan manis dengan senyum ceria. Nampaknya si tamu juga sangat senang.
 
"Hai Saga?!"
Pekiknya dan langsung mengejutkan si pemilik rumah dengan memberi sebuah pelukan.
 
"Kau sendirian Shou?"
Tanya Saga saat Shou melepaskan pelukannya.
 
"Memangnya dengan siapa lagi?"
 
"Tidak ada. Kau tidak perlu dengan siapapun kecuali aku."
Ujar Saga mengajaknya masuk.
"Eh kenapa Shou membawa bunga? Bukankah seharusnya aku yang memberimu bunga??"
Celetuknya menyadari apa yang ada dalam genggaman Shou.
 
"Siapa bilang ini untukmu."
Balas Shou dengan ekspresi menang. Saga di depannya sedikit mengerutkan kening.
"Ini untuk adikmu. Kudengar dia sakit."
 
"Oh..."
Saga tersenyum. Melayangkan sebuah kecupan lembut di pipi pemuda itu. "Terimakasih sayang..."
Tambahnya.
 
Shou masih berdiri ditempatnya, menatap Saga yang terlihat tersenyum namun raut wajahnya begitu sedih.
 
"Saga?" Shou berkata pelan. Dilihatnya Saga menoleh kearahnya.
"Kau baik-baik saja?"
 
"Apa maksudmu? Apa aku terlihat sakit?"
Jawab Saga sedikit terdengar kesal. Lalu ia pun melanjutkan langkahnya dengan diikuti Shou tepat di belakangnya.
 
"Kau terlihat-"
 
"Nii-san?"
Suara lemah itu berasal dari seorang gadis usia limabelasan yang terbaring di tempat tidurnya. Wajahnya pucat dan sorot matanya begitu gelap. Sepertinya ia bgitu menderita karena penyakitnya.
 
"Hai?"
Sapa Shou perlahan sambil memamerkan senyum terbaiknya. Seikat bunga mawar putih di tangannya pun diletakkannya di meja dekat adik Saga.
"A-apa kabar?"
Lanjutnya sedikit gugup. Mungkin sekarang menyadari pertanyaannya merupakan kalimat bodoh yang tak berarti. Sudah jelas adik Saga sedang sakit.
 
"Aku-masih sakit. Terimakasih bunganya."
Jawab gadis itu lemah. Berusaha tersenyum kepada Shou.
 
"Ya, sama-sama. Namaku Shou. Aku pa-maksudku temannya Saga."
Balas Shou diiringi lirikan tajam dari Saga. Shou tahu arti pandangan itu.
 
"Baiklah, Ruu harus istirahat, kita keluar saja Shou."
Ujar Saga meraih tangan Shou mengisyaratkan agar mengikutinya.
 
"Selamat tidur..."
Ujar Ruu.
 
"Jangan lupa minum obatnya."
Saga menambahkan sebelum berjalan keluar dengan mencengkeram tangan Shou.
 
--------------------
 
 
"Saga, tanganku sakit!"
protes Shou sembari melepaskan cengekeraman tangan Saga di pergelangannya ketika mereka telah sampai di ruang tamu.
 
Tak ada jawaban dari laki-laki jangkung di hadapannya itu. Namun beberapa detik kemudian yang ia tahu adalah bahwa bibir Saga dengan liar melumat bibirnya. Tanpa ampun. Saga terus menerus menyerangnya hingga Shou yang harus mengakhiri ulah Saga.
 
"Aku merindukanmu Shou.."
Kata Saga. Menatap Shou yang bibirnya begitu merona dan basah. Ia tak bisa tahan berlama-lama menatap sosok makhluk manis di hadapannya. Diraihnya tengkuk Shou dan memberinya ciuman-ciuman di leher putih itu hingga meninggalkan banyak noda merah.
 
"Saga, hentikan!"
Tangan Shou dengan cekatan memberontak dan mencegah Saga melakukan sesuatu yang lebih jauh. Ia pun bergerak mundur sedikit.
 
"Ada apa Shou?! Kenapa kau menolakku?!"
Kini Saga yang memprotes.
 
"Kau kasar tidak seperti biasanya. Hentikan berpura-puramu, katakan apa yang kau sembunyikan?!"
Shou berkata tegas mendesaknya. Saga terdiam tak berkutik karena Shou sudah bisa membaca keadaannya sekarang.
 
"Ruu.." Jawabnya kemudian. "Aku baru tahu dia menderita penyakit yang berbahaya."
Saga menjatuhkan dirinya di sofa, mencengkeram kepalanya sendiri. Mungkin bahkan ia ingin meremat kepalanya untuk membuang hal-hal buruk di pikirannya.
 
Shou mengikuti duduk di sebelahnya. "Apa tidak bisa disembuhkan?" Tanyanya dengan nada pelan.
 
"Tidak bisa sembuh total tapi dia harus meminum obat setiap hari."
Jawab Saga tanpa menatap Shou yang ikut prihatin.
 
"Dia sakit apa?"
Tanya Shou agak ragu dalam kata-katanya.
 
"Aneurisma. Pembengkakan pembuluh darah jantung. Penyakit keturunan dari ibu."
Kata-kata Saga semakin terdengar memilukan.
 
Shou memberanikan diri menyentuhnya, memeluk dan membelai punggung atas Saga. Si lelaki berambut hitam itu pun membalas pelukan Shou yang dapat membuatnya merasa lebih baik.
 
__________ Ruu PoV ___________
 
 
Senyum yang begitu tenang. Seperti kapas yang nyaman dan lembut.
 
Dari senyumnya yang pertama. Bahkan sampai saat ini pun tak pernah berubah. Selalu senyuman yang tulus dan manis. Andai saja bisa kumiliki senyum itu. Andaikan dia mencintaiku..
 
"Ruu-chan bagaimana kabarmu?"
Sapanya dengan kelembutan seperti biasa. Cukup untuk membuatku bertahan dari sakit tubuh ini. Memandang wajahnya itu membuatku bersemangat.
 
"Lumayan baik Shou-san." Balasku senang. "Terimakasih sudah mau menjengukku setiap hari belakangan ini."
 
"Tidak apa-apa, Saga kan temanku dan kau adik satu-satunya, jadi sudah wajar kan.."
Dia selalu terlihat damai seperti ini. Lewat senyumnya, sorot matanya, dan juga...
 
Tangannya diatas tanganku saat ia mengatakan itu. Lembut dan hangat. Aku ingin dia berlama-lama disini.
 
"Oh iya, Saga sedang keluar membelikanmu obat jadi aku yang akan menemanimu sekarang."
Ia tersenyum lagi, lalu memindah tangannya. Seakan senyum itu adalah bakat luar biasa dalam dirinya. Walau aku takut mengakui, namun aku benar-benar menyukainya. Aku ingin bersamanya.
 
"Hmmm kalau kau sudah sembuh, Saga ingin mengajak kita ke taman hiburan."
 
"Benarkah?"
Tanyaku sedikit terkejut. Selama ini Saga-nii tak pernah mau mengajakku ke tempat seperti itu. Kenapa malah memberitahu Shou-san.
 
"Iya benar. Jadi kau harus segera sembuh ya."
Ujarnya sambil mengusap kepalaku. Aku ingin selalu disentuh tangan itu. Kelembutan yang hangat dan tenang.
 
Apakah harus kukatakan sekarang?
 
Saga-nii tak ada dirumah.
 
Tapi...
 
"Teman-temanmu tidak datang?"
Tanyanya yang duduk di bibir ranjang. Membuatku mengurungkan niatku untuk mengatakan itu.
 
"Tidak.. Aku tidak punya teman yang benar-benar peduli padaku."
Jawabku, menelan kepahitan yang tiba-tiba muncul dari dalam kerongkonganku.
 
"Oh yang benar saja?" Shou membelalak keheranan. "Kalau kau mau aku bisa menjadi kakak sekaligus teman untukmu."
 
Apa dia sungguh-sungguh?
 
Apakah dia tahu perasaanku?
 
Benarkah ini bukan mimpi?
 
"Tentu saja! Mulai sekarang Shou-san adalah kakak sekaligus teman Ruu." Pekikku lemah. Aku senang. Amat senang hari ini. "Dan bagaimana kalau aku memanggilmu Shou-nii?"
 
"Hahaha kedengarannya bagus."
Ujarnya diiringi gelak tawa renyah yang membuatku ikut senang.
 
"Ruu.."
Kulihat Saga-nii memasuki ruangan kamarku. Membawa satu kantong plastik berisi obat-obatan untukku.
"Ini obatmu. Sekarang kau harus cepat minum obat lalu istirahat."
 
"Ya nii-san."
Kataku datar ketika melihatnya meletakkan obat-obat itu di meja samping tempat tidurku.
 
"Ayo Shou, biarkan dia istirahat."
Ajak Saga-nii.
 
"Oyasumi.."
Pangeranku mengucapkan kata selamat tidur itu sebelum berjalan keluar.
 
"Oyasumi Saga-nii, Shou-nii." Balasku cepat-cepat.
 
"Shou-nii??"
Kulihat Saga-nii mengernyit menatapku. Ekspresinya benar-benar serius.
"Iya. Mulai sekarang aku punya dua kakak. Saga-nii dan Shou-nii."
 
Entah kenapa ada yang aneh dengan ekspresi kedua laki-laki dewasa itu. Atau mungkin hanya penglihatanku yang bermasalah, tapi wajah Shou-nii memerah seperti udang dimasak.
 
"Hmm... Terserahlah.."
Ujar Saga-nii kemudian berlalu pergi bersama sang Pangeranku.
 
 
______________
 
 
Sial. Kenapa tadi aku bisa menumpahkan air di tempat tidur.
 
Perlahan aku menyusuri lorong menuju dapur. Walau sedikit tertatih dan pusing tapi aku masih bisa berjalan. Merayap-rayap berpegangan ke dinding agar tak terjatuh. Mungkin Saga-nii telah pergi latihan bersama teman-temannya, jadi kuputuskan untuk mengambil air sendiri di dapur.
 
Dan disanalah aku tahu kepahitan yang sesungguhnya.
 
Sesakkk.
Dadaku sakit. Rasanya aku tidak bisa bernapas lagi. Ada sesuatu yang menyumbat saluran napasku. Aakkkh. Sakit.
 
Penglihatanku mendadak gelap gulita. Hanya sesekali aku tersadar, mendengar gaduh di sekitarku. Merasa berat untuk menghirup udara di sekitarku walau kutahu tak banyak orang disini.
 
Suara Saga-nii dan Shou-nii terdengar samar-samar di sekelilingku. Suara-suara kepanikan yang semakin memudar. Penglihatanku menjadi gelap, dadaku menyempit seolah terisi sesuatu yang menghalangi udara yang kuhirup.
 
Tubuhku terangkat lalu direbahkan lagi. Namun mataku terlalu lelah untuk mencari tahu apa yang terjadi. Tak mengingat apapun setelahnya.
 
 
_____________
 
 
Kupaksakan otakku bekerja saat ku mulai sadar. Mengingat kejadian yang menjadi penyebab aku jatuh.
 
Sakit memang, melihat Shou-nii pasrah saat Saga-nii menciumnya. Ciuman mesra yang begitu menyesakkan dadaku. Apa ciuman seperti itu wajar dilakukan antar teman?
 
Shou-nii mencintai kakakku.
Seorang laki-laki.
 
Kenapa?
 
Kenapa kau mencintai laki-laki?!
 
Ternyata selama ini aku tertipu kelembutan senyummu. Begitu bodohnya aku jika menganggap dia laki-laki normal yang menyukai perempuan. Bodoh. Bagaimana bisa aku tak menyadari semua itu hanya harapan palsu. Kasih sayang yang ditunjukkannya hanyalah sebagai kakak.
 
Karena dia mencintai Saga-nii. Dia tidak tertarik sedikitpun padaku. Lalu apakah jika aku seorang lelaki dia bisa mencintaiku?
 
Mungkin juga tidak.
 
 
_________ Author PoV Flashback Off _________
 
 
Saga menangis. Disampingnya terbaring seorang gadis yang memiliki wajah mirip dengannya. Tubuhnya sangat lemah, kedua mata yang gelap dan begitu menyedihkan. Seakan menyimpan setumpuk penderitaan yang tak pernah dimunculkan.
 
Di belakang Saga, ada seorang laki-laki yang menemaninya. Wajah yang biasanya terlihat ceria kini penuh airmata. Ia pun rapuh, hatinya begitu kelu. Senyumnya yang selalu menjadi penyemangat itu tak lagi berpengaruh.
 
Beberapa menit lalu si gadis mulai memejamkan mata. Mungkin tertidur. Tetapi tak nampak ada detakan di layar  EKG (elektro kardio grafi) yang menampilkan detak jantungnya. Tak ada gerakan.
 
Saga meraung tak rela. Memeluk tubuh adiknya yang dingin dan diam. Para suster pun mulai mencabuti alat bantu pernapasannya sementara sang Dokter menunduk, menepuk bahu Saga sebelum meninggalkan ruangan bersama para susternya.
 
"Ruu!! Bangunlah!!"
tersengal-sengal ia berkata diantara isakan pilu.
"Kau tidak ingat kita akan ke taman bermain! Kita akan memelihara kelinci.. Hhhiks.."
 
Tangan Shou mencoba meraih bahu Saga. Namun Saga menepisnya begitu saja.
"Tolong.. Tinggalkan aku sendiri."
 
Shou terdiam. Menambah jumlah airmata yang mengalir deras di kedua pipinya saat menatap Saga yang begitu terguncang. Akhirnya ia menuruti kata-kata Saga. Berjalan keluar dari bangsal itu dengan wajah kusut dan berantakan.
 
"Semua ini karena aku. Ini hukumanku yang menjadi penyebab duka ini."
Shou menggigit bibirnya hingga memucat saat berjalan di koridor rumah sakit. Entah kemana tujuannya.
 
_________________
 
 
Ruangan mungil bercat hijau muda itu kini begitu sepi. Tempat tidur yang dingin karena tak ada lagi yang memakainya. Boneka-boneka kelinci yang tertata rapi itu sekarang tak ada yang memeluk lagi. Saga mengambil salah satu boneka putih berbentuk kelinci yang berjejer di tempat tidur kecil itu lalu membawanya kedalam pelukan yang hangat.
"Maafkan aku, ayah, ibu, aku tak bisa menjaga Ruu-chan. Aku tak bisa membuatnya senang."
 
Perlahan airmata pun mulai turun dari kedua bola mata Saga. Ia mengembalikan boneka itu ke tempatnya semula, merapikan selimut dan bantal mungil dimana Ruu selalu terbaring lemah disana.
 
Tiba-tiba Saga menemukan sesuatu yang melayang terbang akibat hembusan angin ketika ia merapikan bantal. Sesuatu yang jatuh seperti kertas dan Saga memungutnya.
 
"Shou?!"
Matanya membelalak menatap sebuah foto kekasihnya yang terlihat ada bagian yang disobek. Ia tahu foto itu adalah foto Shou bersama dirinya dan Ruu menyobek bagian gambar Saga.
 
"Jadi apa yang dikatakan Ruu sebenarnya..."
Saga menghenyakkan dirinya di atas tempat tidur. Membawa selembar foto Shou yang tersenyum begitu manis itu untuk dipandanginya. Namun alam pikirannya sekarang kembali ke hari kemarin dimana ia melihat sendiri adik satu-satunya tengah koma.
 
 
 
"Nii-san..."
Napasnya tersengal seperti baru saja berlari-lari.
"... maaf.. Aku..."
 
"Tak apa Ruu. Jangan banyak bicara dulu nanti kau semakin sakit."
Saga berkata pelan ditelinganya. Tangannya sibuk membelai dahi gadis itu dengan gemetar.
 
"...Shou-san... akhh..."
Rupanya gadis kecil itu tak mau menyerah. Ia meraih tangan Shou. Mengumpulkan seluruh tenaganya untuk melanjutkan apa yang ingin dikatakannya. Sudah sejak lama.
"...aishiteru..."
 
Shou tercengang di sebelah Saga. Melihat senyum Ruu yang begitu pahit. Ia merasakan pegangan tangan gadis itu semakin melemah bersama memudarnya senyum tipis di bibirnya. Lalu detik-detik kepergiannya pun terjadi.
 
 
 
"...jadi Ruu mencintai Shou..."
Pekiknya. Segera bangkit dari tempat itu. Namun tiba-tiba foto di tangannya terlepas dan jatuh lagi, kini di bawah tempat tidur. Saga berjongkok untuk mencari 'barang bukti' yang tak sengaja ditemukannya. Dan betapa terkejutnya ia melihat temuan barunya dibawah sana.
 
Banyak berserakan butiran-butiran bulat berwarna-warni yang dikenalnya sebagai obat-obatan milik Ruu saat ia sakit. Sekarang ia baru menyadari kesalahannya.
 
"Ruu sengaja tak meminum obatnya..."
Rasanya seperti terpukul berkali-kali mengetahui hal itu.
 
_______________
 
 
"Shou, kenapa kau tak menemuiku?!"
Pekik lelaki ramping berambut hitam yang langsung memeluk Shou ketika tiba di apartemen si lelaki brunette.
 
"Kau menyuruhku pergi.."
Balas Shou dengan nada rendah. Saga pun melepaskan pelukannya untuk menatap mata Shou yang mulai berkaca-kaca.
"Tinggalkan aku Saga."
Shou bergerak menjauh. Menyeka airmatanya yang nampak tak mau berhenti mengalir.
 
"Apa maksudmu Shou?!"
Dengan keheranan Saga kembali mendekatinya.
"Waktu itu aku hanya ingin sendiri. Bukan maksudku menyuruhmu pergi seperti itu."
 
"Ruu pergi gara-gara aku. Aku tak pantas berada di sampingmu lagi."
Shou berjalan mundur menjauhinya dan Saga tetap mendekat hingga punggungnya menempel k dinding sehingga ia tak bisa menjauh lagi.
 
"Setelah Ruu pergi, kau mau meninggalkanku juga??!" Tegas Saga. Menghalangi jalan Shou dengan kedua tangannya. "Kau pikir aku punya siapa lagi?!"
 
"Tapi...Hikss.. Ruu... Gara-gara aku.. hhikss..."
Shou terisak semakin keras dan tak terkendali.
 
"Ruu pergi karena kesalahanku. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri."
Saga tersenyum tipis, tangannya menyeka airmata Shou. "Ingat, aku sangat mencintaimu apapun yang terjadi." Meraih dagu Shou dan mendongakkannya.
 
Shou memberanikan diri menatap Saga. Yang ternyata mata Saga begitu sendu. Bukan kemarahan seperti dalam bayangannya.
"Maaf..."
Bisiknya menahan airmata agar berhenti terisak.
 
Saga menciumnya dengan lembut. Satu tangannya meraih pinggang Shou agar ia bisa lebih dekat. Bisa merasakan detakan di dada Shou.
 
"Sejak kapan kau tahu Ruu mencintaimu?"
Saga melepaskan bibirnya untuk memeluk lelaki yang lebih tinggi darinya itu.
 
"Entahlah... Saat itu aku merasa ada yang aneh dengan tatapan Ruu padaku. Aku tak berani menanyakannya hingga kemarin..."
Shou berhenti tetapi Saga tahu maksudnya.
 
"Kemarin dia mengungkapkan cintanya padamu, sebelum pergi."
Saga meneruskan kata-kata Shou sebelum memberinya ciuman bibir lagi.
"Jangan pernah tinggalkan aku Shou!"
 
_____ owaRii ____

Yuki No You Ni Tsumetai Stories to obsess over. Discover now