Aku melangkahkan kakiku menuruni setiap anak tangga bus yang kutumpangi. Panas matahari mengujam kulitku bagaikan jarum akupuntur yang mengerikan. Banyak orang berlalulalang dengan pandangan lurus pada ponselnya. Bagaimana jika mereka tertabrak sebuah kereta? Benar-benar mengerikan.
Tanganku melambai menghentikan sebuah taksi yang melintas. "Sial," aku mendesis kesal saat taksi itu melintasiku begitu saja tanpa berhenti. Terpaksa aku harus berjalan sedikit jauh menuju hotel terdekat. Mau bagaimana lagi?
Setelah menderita menarik koperku dengan penuh perjuangan, sampailah aku di sebuah hotel berbintang empat. Aku menyeka keringatku dan segera menghampiri resepsionis di mejanya.
"Aku ingin memesan satu kamar, kelas apa saja. Aku butuh istirahat." Aku mengambil dompetku di dalam tas, tanpa sengaja aku melihat kartu berlogo sama dengan hotel ini di dalam penyimpan kartu. "Aku memiliki kartu member, Hannah Dawson," ucapku seraya memberikan kartuku.
"Maaf, nona. Kartumu sudah diambil alih sejak tiga tahun lalu, oleh Camille Dawson."
Mataku terpejam sesaat bersamaan dengan hembusan nafasku. "Lupakan kartunya. Berikan aku kunci kamar manapun," aku memberikan beberapa lembar dollar yang masih kusisakan di dalam dompetku. Resepsionis tadi memberiku sebuah kunci lalu mengatakan jika ia akan mengantarkan data administrasi ke kamarku, masa bodo lah. "Tolong antarkan koperku ke kamar, tuan."
"Hannah?" merasa namaku terpanggil, aku menoleh ke asal suara. "Kau Hannah Dawson?" ia bernada seperti baru menemukan anjingnya yang hilang.
"Oh, ayolah, Drew! Ini aku, Hannah Dawson!" sambutku tak kalah girang. Kami berdua berpelukan di tengah koridor hotel. Drew memelukku sangat erat, tangannya mengusap rambutku pelan. "Kau tidak keren, Drew," bisikku di telinganya.
"Shut up. Aku masih ingin memelukmu seperti ini."
Aku memutarkan mataku pasrah kemudian membalas pelukannya lebih erat. "Aku masih tidak percaya dapat memelukmu di siang hari seperti ini. Padahal, aku menghadiri upacara pemakamanmu tiga tahun lalu," tuturnya seraya terisak.
"Mereka mengadakan upacara pemakaman untukku?"
Ia melepaskan pelukan, menyeka air matanya menggunakan ujung kaus putihnya. "Kami semua mengira kau telah tewas dalam kecelakaan pesawat itu, jangan salah paham."
Aku tertawa, "aku mengerti, Drew. Bahkan aku juga berpikir hal yang sama," ungkapku. "Lucky for me," aku menatapnya, tersenyum. Aku memeluknya sekali lagi, menghirup aroma parfumnya yang kurindukan. "Aku harus segera ke kamarku."
Drew terkekeh. "Ya, benar. Mandi, kau bau." Aku mencubit perutnya kencang hingga ia meringis kesakitan. Tawa kami membludak memenuhi koridor yang sepi. "Ampun! Kau sangat wangi, wangi seperti kaus kakiku! Hahaha," ia kembali meledekku dengan leluconnya.
"Cukup sudah tertawanya. Aku akan pergi ke kamarku, da-ah!"
Setelah beberapa langkah, aku kembali membalikan tubuhku. Drew masih disana berdiri menatapku sembari tersenyum lebar. "Aku melupakan sesuatu. Jangan beritahu siapapun tentangku, oke? Atau lihat saja apa yang akan terjadi," aku mengancamnya diiringi seringai jahil.
"Baiklah. Berapa nomer kamarmu?"
Aku melihat nomer yang terukir di gantungan kunci kamarku. "406," sahutku. "Pastikan kau tidak membagikannya di twitter, Lance. I see you," aku menggerakan kedua jariku di depan mataku kemudian mengarahkannya pada mata Drew.
{}
Bel pintu berbunyi, mengganggu acara televisi kesukaanku saja. Aku mengeratkan tali pinggang kimonoku dan melepas handuk di rambutku. "Sebentar," aku berteriak sambil membenarkan rambutku. Setelah berhasil merapihkan rambutku, aku bergegas membukakan pintu kamarku.
"Mc Donald's?" Drew menggoyang-goyangkan kantung kertas berlogokan restoran cepat saji kuning tersebut. Aku segera merampasnya lalu memeluknya. "Kau selalu mengingatnya."
"Itulah gunanya mantan kekasih," ucapnya sembari tersenyum kecil.
Aku tertawa, menariknya masuk ke dalam kamarku. "Sahabat akan lebih baik, Drew," aku mengoreksinya. Drew menarikku ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut tebal. Kepala kami menyembul di ujung ranjang untuk menonton televisi.
"Ini akan sangat mengasikan! Bermalamlah disini semalam saja," pintaku. Drew menyuapkan kentang goreng ke dalam mulutku. "Ya, ya, ya? Kumohon, Drew...," aku semakin merayunya walau mulutku penuh dengan kentang goreng.
"Baiklah," ia tertawa kemudian mulai memakan kentang gorengnya. Kami menghabiskan waktu dengan menonton televisi. Aku menyenderkan kepalaku di bahunya. "Kau ingin tidur? Aku akan membereskan kasurnya--"
"Time Square? Ayo, Drew! Kita akan keluar malam ini--"
Drew membungkamku dengan bibirnya. Ia membiarkan bibirnya menempel di bibirku tanpa sebuah gerakan apapun. Aku melihatnya tersenyum tipis. "Cara ini masih berlaku untukmu rupanya," ia terkekeh. "Berbaringlah. Aku akan membersihkan tubuhku dulu."
Aku membaringkan tubuhku seraya menunggunya. Pertanyaan berkelibat di benakku, bagaimana reaksi keluargaku? Maksudku, hei, mereka telah mengadakan upacara pemakaman untukku. Mereka semua sudah menganggapku mati. Tidak ada lagi Hannah Dawson.
"Hei," Aku tersenyum menanggapinya. Drew menaiki ranjang dan berbaring di sampingku. Aku ikut memiringkan tubuhku menjadi menghadapnya penuh. Tanganku bergerak merapihkan rambutnya yang basah, dilanjutkan membelai wajahnya. Sesuatu menghantam ulu hatiku, sakit itu masih terasa jelas dalam diriku. "Hei."
Drew menggenggam tanganku dan membiarkannya menempel di pipinya. "Kemana kau menghilang?" bisiknya dengan mata terpejam. Aku menarik nafasku panjang, tak ingin mengingat masa kelamku.
"Look. Aku disini, kau tidak perlu mengkhawatirkanku lagi," aku menatap matanya dalam. "Tidak penting darimana, aku disini sekarang. Tepat di hadapanmu, Andrew."
Drew tersenyum, menarikku ke dalam pelukannya. "Mengapa kau baru kembali?" Drew mengusap punggungku halus, membawaku jatuh ke dalam ketenangan. Kau terlambat," bisiknya, lagi. "Aku dan Cami akan bertunangan lusa."
Tubuhku menegang. Aku mendorong tubuhnya menjauh dariku. Keparat. "Beraninya kau--!" gertakku setengah menjerit. Tubuhku bergetar hebat menahan jeritan dan air mata yang mendesak keluar.
"Dengar, Hannah. Aku--"
Aku berjalan menjauhinya dengan air mata yang membludak tak tertahan. "Shut up!" aku menyentak, menarik rambutku sekuat mungkin. "Kau-- bajingan! Dalam dua hari kau akan bertunangan dengan adikku, dan kau," aku menunjuknya, "satu ranjang dengan wanita lain di hotel. Benar-benar bajingan!"
Aku menjatuhkan tubuhku di karpet, menangis tersedu. "Keluar."
"Aku tidak--" Aku berdiri, menarik tangannya dan membawanya keluar kamar hotelku. "Hannah--"
"Jangan pernah menampakan kembali wajahmu di hadapanku." Aku membanting pintu dan menjatuhkan diriku di depannya. Tanganku bergerak mencakar lantai kayu yang mengalasi isi kamar. Jantungku berdetak tak beraturan, diikuti dengan nafas terengah.
Andrew orang pertama yang kutemui kembali di kota ini.
YOU ARE READING
Regretful
RomanceSetelah tiga tahun menghilang, Hannah Dawson kembali pada keluarganya. Tidak ada yang tahu darimana saja ia pergi, Hannah tak ingin mengungkapkannya. Namun hidupnya tak lagi sama seperti dulu, membuatnya merasa sangat menyesal untuk kembali lagi pad...
