Sepertinya aku bakal mati karena tatapan maut cewek cewek yang seakan ingin menerkamku hidup hidup sampai sisa tulang-atau bahkan tak bersisa sama sekali-
Dan ini adalah hari pertamaku di sekolah baru ini. Sekolah bergengsi sebenarnya, entah bergengsi karena anak-anaknya yang pintarnya kelewatan atau karna sogokan yang besar untuk masuk. Atau barangkali dua-duanya. "Joan Rian O'brien. Pindah dari Irlandia pindah kemari karena ayah" aku memperkenalkan diri dengan singkat dan wajah datar. Yup aku pindah karena AYAH ku bukan karena ORANG TUA ku,
aku terpaksa pindah kesini dan membawa sahabatku serta saudariku, lalu meninggalkan ibuku yang sibuk dengan adikku dan perkerjaannya sebagai model majalah. Singkatnya ini adalah Reuni dengan kakakku yang sekolah disekolah ini. Sial.
"Jenne Rylee O'brien aku kembarannya Joan " ucap manis kakak kembarku, munafik. Aku melakukan perjalanan ke bangkuku setelah di hantam tsunami pertanyaan. Aku menempatkan diri di bangku paling belakang(yang jelas jelas bangku yang tak pernah dihuni lantaran kelas ini muridnya sedikit banget ketimbang kelas kelas buangan) baru aku mau membalas tatapan para murid. Mereka sudah membuatku keder duluan, jadi tanpa menunjukkan bahwa aku takut. Aku membuang muka ke jendela. Dan mencoba untuk membiarkan tatapan-tatapan yang membuatku risi berat.
***
Sungguh ini hari terberat yang pernah ku lalui. Tatapan yang ditujukan pada guru bahasa inggris itu berpindah padaku. Aku menelan salivaku dengan gaya yang tak mencolok, para cewek menyambar ke arahku sedangkan yang cowok menyambar kearah lain. "HAI JO! AKU RINA! INGET YA! " "Gue Miyu" "Mehta" dan lain lain. Sial, wajahku pucat. Cewek-cewek ini seram "gue mau ke toilet dulu" aku ngomong tergagap-gagap dan berdiri dengan awkwardnya "oh.. Kita temenin ya! " Buset! Cewek-cewek ini kenapa sih?! Aku meralat ucapanku "eh.. Bukan, mau ke kantor kepsek"
("Oh... Penting banget ya? Ya udah deh kamu urus urusanmu saja"
"Lewat"
"Gue gak boleh ikut campur soal beginian")
Aku menarik kakakku yang nyaris sisa tulang keluar dari para singa singa. Wajahnya pucat, bahkan lebih pucat dariku "makan yuk" ajaknya dengan wajah blank, aku menuntun jalan ke kantin dan mendapat makanan kami yang beda jauh dengan yang lain berhubungan kami belum terbiasa dengan makanan di sini (tapi aku Cinta nasi goreng) kami pergi ke meja makan dekat dengan Taman utama sekolah yang luas dan tertata rapi. Kami makan dengan damainya sampai ada yang menggangu kami "heh, kampret lu ngapain di sini? " tanya seorang cowok yang penampilannya beda jauh dariku. Cowok dengan gaya berandalan itu maju dengan gaya menantang "ini fasilitas umum "ujarku santai. Tak terusik sama sekali oleh gayanya yang ngeselin banget, yang bikin terusik itu orang-orang yang berada di belakangnya dan sekarang menatap penuh minat ke arah kami.
Jenne menatapnya rendah seraya memeluk pudingnya yang belum tersentuh seakan mengatakan "lo nyentuh puding gue. Gue tabok lu" rupanya si cowok itu sedikit tersinggung dengan tatapan merendahkan Jenne, dia menggumbar umbar popularitasnya dengan sombongnya dan para pengikutnya bersorak-sorai seakan baru mendengar kabar bahwa cast Harry Potter bakal datang ke sekolah ini. Pandangan merendahkan Jenne berpindah ke arah lain, lalu membelalak senang. Seorang pria yang lebih tua dari kami datang menghampiri. Si berandalan hanya shock berat melihat siapa yang datang "papa! " Jenne memeluk papa dengan gaya seperti anak kecil mendapat permen dan tak mau membagikannya kepada siapa saja. Orang yang di panggilnya papa itu hanya tersenyum dan menggeleng geli padaku, aku hanya membalas dengan senyum kecil.
Aku bisa mendengar orang-orang berbisik-bisik tentang kejadian yang memalukan ini "oh itu anaknya pak kepsek. Mirip banget, ya. Kak Jay cuma mirip matanya doang" "iya, ya kak Jay beda rambut doang " "lebih keren dari yang sering diceritakan kepsek" dan seterusnya. Mungkin keluargaku adalah keluarga paling aneh di dunia. Ayahku mempunyai rambut merah seperti keluarga Weasley dan mata yang terbentuk karena fenomena medis dan nama yang susah disebut, matanya berbeda warna yang satu abu abu yang lain merah. Dan semuanya diturunkan padaku dan Jenne, sedangkan kakakku. Jason, hanya mendapat matanya dan rambut pirang ibuku. (Ku akui juga kulit keluarga kami rada pucat. Makanya ku bilang keluarga kami adalah keluarga paling aneh)
Bisik bisik itu mengikuti kami sampai ke kekelas. Lantaran malu berat aku keluar dari kelas dan mencari tempat yang sepi seraya memancarkan aura pembunuh ke seluruh pelosok nusantara sampai akhirnya aku berakhir digedung besar yang sudah tua dan ditelantarkan. Aku pernah dengar soal terjadinya bunuh diri disini lantaran dibully aku masuk ke dalam gedung lalu keliling-keliling sebentar. Berdasarkan hasil keliling-keliling aku bisa menyimpulkan bahwa gedung ini adalah gedung ekstrakulikuler.
Aku masuk kedalam ruangan secara random dan menemukan sebuah piano dalam keadaan jabuk, kaki mic, penyangga keyboard, dan benda lain yang ada hubungannya dengan alat musik. Aku mendekat ke piano dan mulai mengetesnya, surprisingly. Pianonya masih berkerja dengan baik, aku mulai memainkan lagu klasik canon oleh Beethoven, pertengahan lagu aku mendengar kasak-kusuk diluar tanpa berpikir banyak aku menyelesaikan lagu lalu keluar lewat jendela bolong dan memanjat ke atap tanpa suara lantaran di bantu oleh kardus-kardus. Cewek-cewek itu masuk untuk mengecek apakah aku pingsan setelah melihat hantu itu tanpa memikirkan bahwa aku yang pura-pura jadi hantu, aku berlari terbirit-birit ke arah koridor.
Seseorang menepuk bahu ku dan membuatku terlonjak kaget "kamu ngapain? 5 menit lagi masukan" ucap seseorang berambut pirang.
∞
∞
∞
∞
∞
∞
WAKS CAPEK
YOU ARE READING
That Hour of Blood
WerewolfJoan Amon. Seorang werewolf dan putra mahkota kerajaan iblis Amon yang menyamarkan namanya menjadi Joan O'brien ini memiliki masa lalu pahit. Tapi, dia akan melenyapkan semua orang yang menghalanginya untuk menjadi penguasa. Hati-hati, dia tak segan...
