Chapter I : Welcome

275 23 4
                                        

"uhh.. kepalaku.." Kepala Ulcers terasa nyeri. Lebih menyakitkan daripada borok di sekitar tubuhnya.

Dia berusaha menggapai-gapai ingatannya tapi yang ia rasakan hanyalah kepalanya yang nyeri dan sekujur tubuhnya yang kesemutan.

Dia ingin memegangi kepalanya sampai ia tersadar kalau bagian-bagian tubuhnya berserakan dimana-mana.
Dia berteriak melihat tubuhnya yang tidak menyatu tetapi ia masih bernafas.

"Tolong!!! Siapapun!!" Teriak Ulcers mencari pertolongan.

Ulcers berusaha mengangkat lehernya namun tengkoraknya rasanya sangat berat.
Ulcers melirik ke arah batang tubuhnya dan menghela nafas lega kalau cure nya tidak apa-apa.

Ulcers kembali berteriak minta tolong. Dia kebingungan dan sekuat tenaga menutupi ketakutannya.
Tidak terdapat langit-langit di sekitar Ulcers, maupun dasar. Dia seperti tengah terombang-ambing dalam dimensi ruang dan waktu.

Ulcers kelelahan dan menyerah. Ia tak tahu berapa lama ia akan kehabisan darah lalu mati.

Dia menyumpahi tubuhnya ketika segaris darah segar turun dari kepalanya dan menyakiti matanya.
Tubuh Ulcers penuh dengan borok dan darah. Kulitnya pucat pasi dan agak berwarna merah pucat.
Tubuhnya seperti orang mati, namun ada kehangatan dalam jantungnya.

Ulcers adalah sebuah roh. Roh dari seorang bocah bernama Ted.
Ulcers adalah Ted, dan Ted adalah Ulcers.
Yaah... Semacan pribadi ganda tetapi sebenarnya bukan.

Ted adalah wadah atau tubuh dan juga pikiran jernih serta lugu. Kalau Ulcers adalah pikiran kejam dan rumit.

Ted mati saat melawan seseorang. Yah kita takkan membahas itu, tapi singkat ceritanya adalah Ulcers mengorbankan diri untuk Ted sebagai ganti menghilang.

Kalau Ulcers tahu, jika menghilang maka pergi ke tempat ini dengan kondisi seperti ini, ia lebih memilih meninggalkan Ted dan Ted yang akan menghilang.

Ulcers terdiam.
Lalu menyesal telah mengatakan hal itu.

Dia kembali mengerang minta tolong.

Beberapa saat kemudian, datanglah seseorang entah dari mana. Ia keluar dari kegelapan dan mendekati Ulcers.
Ulcers menengadahkan wajahnya saat ia mendengar hentakan kaki di atas kepalanya.
Ulcers mendapati seorang perempuan dengan pakaian ala wonderland dan Ulcers tak kuat menahan tawanya.

"Ya, ya, tertawalah sampai bokong mu puas, Ulcers!" Jawab perempuan itu ketus. Ulcers terdiam saat setelah ia mengatakan itu. Perempuan itu berputar sambil mengamati potongan tubuh Ulcers.

"Haha, kau tampak mengerikan," ejek perempuan tadi yang disambut dengan geraman Ulcers.

"Ugh, bisa kau bantu aku?" Seru Ulcers kasar.
Perempuan tadi berjongkok di samping tubuh Ulcers dan menopang dagunya dan tertawa kecil. Mengejek.

"Berhenti mengejekku!" Cetus Ulcers.

"Hoo.. galak sekali ya, okay, kan kubantu, tapi aku butuh kata ajaibnya."

Ulcers memandang perempuan itu jijik.

"...tolong,"
"Baiklah!" Perempuan itu berdiri dan berjalan pergi.
"Hey! Pergi kemana kau?!" Teriak Ulcers.
Perempuan itu tak menjawabnya dan berlalu pergi.

Ulcers menjerit menyalurkan kemarahannya. Tetapi sebuah rasa khas menjalar dalam pikirannya. Seperti nya ia tahu dan pernah bertemu dengan perempuan tadi.

Ulcers memejamkan matanya dalam-dalam dan berpikir siapa perempuan tadi.

Darah dari kepalanya berhenti mengalir dan otot-otot nya melemas ketika akhirnya ia menyadari siapa gadis tadi.

UlcersGeschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt