Hermione Jean Granger adalah si kutu buku Gryffindor.
Draco Lucius Malfoy adalah si arogan Slytherin.
Jadi, sejauh pengelompokkan asrama yang kita ketahui ini, dapat disimpulkan Hermione dan Draco adalah rival, atau mari sebut mereka musuh.
Gryffindor dan Slytherin memiliki hubungan yang kurang mengenakkan sejak pendahulu mereka. Setiap kesempatan digunakan untuk melempar sindiran, tiap bertatap muka dimanfaatkan untuk saling bertukar lirikkan tajam. Hingga saat ini, baik Gryffindor maupun Slytherin sama-sama memiliki harga diri tinggi dan ego yang besar untuk hanya sekedar berdamai barang sehari. Atau mungkin mereka berniat-setidaknya-kompak dalam beberapa hal.
Tentu hal tersebut akan terjadi beberapa ratus ratus ratus tahun yang akan datang.
Kecuali jika frasa yang mengatakan benci dan suka itu hanya berbatas sehelai benang.
Sebenarnya, di abad ke-21 ini banyak penelitian yang sudah membuktikan frasa itu adalah suatu kebenaran yang nyata adanya, yang dapat diuraikan secara medis ilmiah. Salahkan 'Oxytocin', si hormon yang berperan mengendalikan dua perasaan yang berlawanan ini.
Sedikit penjelasan, hormon oxytocin pada awalnya dipercaya hanya dapat meningkatkan perasaan positif, seperti cinta. Namun, beberapa penelitian lain juga membuktikan bahwa hormon yang sama juga berperan saat manusia iri, dengki, atau cemburu. Rasa benci bisa saja dipicu oleh rasa kagum, dan kemudian berujung pada iri hati atau kemarahan.
Setidaknya, begitu menurut penelitian Muggle.
Tentu saja Draco menolak untuk mempercayai teori yang -menurutnya absurd- begitu saja. Dirinya cukup selektif untuk menerima informasi yang masuk, terlebih dunia sihir tidak pernah melakukan penelitian yang sangat tidak penting tersebut. Sama saja seperti eksistensi Hermione Granger seorang Gryffindor yang sama tidak pentingnya dengan penelitian Muggle di atas.
Satu-satunya yang Draco percayai adanya dari Muggle adalah ponsel atau mungkin telepon genggam, ah-kalian biasa menyebut benda kecil kotak itu dengan sebutan handphone.
Benda yang berada dalam genggamannya ini adalah benda paling ajaib yang Muggle ciptakan sejauh yang Draco tahu. Benda itu berhasil diterima dengan baik oleh masyarakat dunia sihir, meskipun ayahnya, Lucius Malfoy, masih enggan mengakui kepintaran ponsel genggam Muggle. Padahal ayahnya sendiri menggunakan benda praktis itu dengan dalih terpaksa untuk kepentingan pekerjaan.
Cih.
Suka mah suka aja gausah gengsi, riweuh banget.
Kurang lebih begitu yang dipikirkan Draco.
Tapi, hal itu bukan lagi hal penting untuk Draco. Yang lebih penting sekarang adalah nilainya lagi-lagi di bawah Hermione.
Kalau begini caranya, kakeknya Abraxas Malfoy bakal nangis dengan ingus meleber kemana-mana dengan suara sesegukkan ingus –karena gagal mengalahkan Muggle dalam prestasi akademik- yang serius pasti sangat menjijikan bahkan walau hanya Draco bayangkan. Draco hanya menahan mualnya, seperti saat dirinya mabuk di tahun ke-5 dulu. Mungkin karma kali ya? Waktu itu Mama Narcissa nitip amanat jangan minum alkohol jenis apapun kalo belum KTPS, Kartu Tanda Kependudukan Sihir.
Tapi Draco malah ngeyel dan tetap meminum firewhiskey. Jadi weh muntahin orang terus udahan muntah Draco malah ngupil abis itu jari bekas ngupilnya digosok-gosokin ke tembok sambil cengengesan kaya orang yang udah miring otaknya.
Hm.
Biarlah kenistaannya hanya Merlin, Draco, dan Blaise saja yang tahu.
Kenapa harus Blaise? Kenapa ga aku aja?
YOU ARE READING
Ponsel
FanfictionIni adalah zaman di mana Draco Malfoy mempercayai teknologi Muggle.
