Ryo pergi meninggalkan rumahnya, dia sudah berpamitan untuk bermain di rumah tetangganya. Dan tentunya, tetangganya ini sangat spesial, menurut dia dan adiknya, rumah itu, adalah rumah keduannya. Bahkan dia dan adiknya lebih dekat dengan pemilik rumah, dari pada ayahnya. Dan ayahnya sangat tidak suka dengan gagasan itu.
" Selamat pagi, paman. " sapa Ryo. Erloy menghentikan kegiatan berkebunnya. Pria itu tersenyum.
" Selamat pagi Ryo, bagaimana liburan dirumah nenek mu. Menyenangkan? " namun Erloy terlihat kebingungan. Biasanya, anak ini selalu bersama adiknya. " Dimana Shion? Biasanya, kau bersama adikmu?" Ryo hanya mengedikan bahunya. Tidak peduli.
" Entah, katanya dia masih ingin menikmati liburan. " Erloy mengangguk paham.
" Mau menunggu di dalam, paman akan membereskan peralatan ini lebih dahulu. " Ryo masuk kedalam rumah. Tak lama, Erloy masuk.
" Ada apa ? " Erloy menyuguhkan segelas teh dan biskuit.
" Aku bosan, seharusnya aku tidak ikut orang tuaku pulang. Dan aku yakin, sekarang aku sedang berenang di sungai. "
" Sepagi ini ? pasti sangat menyenangkan, bermain dengan teman dan bermain air. " Ryo mengangguk. Erloy mengangkat satu alisnya." Ayahmu tidak melarang, bukannya ia tidak terbiasa dengan hal yang kotor dan 'rendah' " Ryo tersenyum kecut. Erloy terkekeh, menurutnnya, pemandangan Ryo yang seperti ini, sangat lucu baginnya.
" Entah, tiga hari menghabiskan liburan di rumah nenek, ayah tidak berhenti memasang wajah sombongnya. Mungkin dalam hatinya dia tidak menyukai rumah nenek. " Erloy merasa bersalah. Menyinggung hal ini di depan anak temannya.
" Sudahlah, tidak apa-apa, yang penting ayah mu mau datang kerumah nenek "
" Paman benar, seharusnya aku senang ayah mau datang " Oh ayolah, bukan ini maksud Erloy. Dia hanya ingin menggoda saja. Kenapa jadi seperti ini.
" Aku punya saran yang bagus. Sebaiknya, kamu hubungi Halian dan ajak dia bermain. " Ryo mengangguk senang. Kenapa dia tidak terpikirkan hal ini tadi. Dia perpamitan. Dan dengan segera pergi dari rumah Erloy.
Dia membawa sepedahnya dari rumah, menelusuri pemandangan yang dihadapannya ini. Ngomong-ngomong, rumahnya ini, jauh dari perkotaan dan berada di tengah pohon yang ridang. Tetangganya pun hanya sedikit, hanya ada sepuluh rumah yang bertahan. Bahkan dia sedikit khawatir, jika ada psikopat. Dia harus minta bantuan dengan siapa. Orang tuanya jarang ada di rumah di siang hari dan Erloy, Walaupun pekerjaannya sedikit santai tapi dia tidak setiap hari berada di rumah. Ryo segera menghapus pemikirannya tersebut, dan memfokuskan pikirannya.
Minor secret
Ryo mengetuk pintu di depannya ini. Apa sahabatnya ini sedang pergi keluar. Karena lelah, dia duduk di halaman rumah sahabatnya. Dia kadang iri dengan sahabatnya, walaupun dia tidak punya ayah. Dia terlihat sangat bahagia tinggal bersama ibunya. Dan walapun orang tuanya bercerai, dia masih bisa merasakan kehangatan seorang ayah. Berbeda sekali dengannya, ayahnya itu sangat arogan dan sombong. Mana mau dia bermain dengan anaknya.
" Ryo, sedang apa kamu disini ? " Halian membawa sekantung kertas belanja di tanggannya. Ryo berdiri dan menyelidiki tubuh Halian, dari atas ke bawah. " Ayolah, kamu tidak berubah jadi orang sinting kan sekarang ? berpura – pura menjadi detektif . " Ryo hanya mendengus.
" Hai Ryo, kemana saja selama liburan ? " pemandangan yang mebuatnya iri, bahkan Adrian - ayah halian -pun, menyisakan waktu untuk menemani anaknya belanja.
YOU ARE READING
Time machine : minor secret
Science FictionKisah kedua pembagian wilayah dimasa lalu. penyerangan akan kekuasaan, keserakahan yang terjadi di satu sekolah, membuat kekurasakan di suatu wilayah. Namun mereka tidak putus asa. Keingin tahuan mereka pada masa lalu, membuat mereka semangat mengua...
